Membahas tentang Ayat Paling Agung, Inilah tiga Keutamaan Ayat Kursi

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentang Ayat Paling Agung, Inilah tiga Keutamaan Ayat Kursi,

– Ayat kursi merupakan salah satu ayat dalam surah Al Baqarah ke 255, dan ayat ini mengandung banyak sekali makna yg menygkut keimanan dan menjadi ayat yg paling Agung dalam Al-Quran.

Dalam suatu riwayat, Rasulullah ﷺ bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang ayat yg paling utama dalam Al-Quran, “Ayat apa yg paling utama di dalam Al-Quran?” Kemudian Ubay bin Kai menjawab, “Ayat paling utama dalam kitabullah ialah Ayat Kursi.” Dan Rasulullah ﷺ menepuk dada Ubay dgn pelan sambil berkata, “Wahai Abu Mundzir semoga engkau selalu bahagia dgn ilmu yg engkau miliki.” (HR Muslim).

Berikut Al Baqarah ayat 255 atau Ayat Kursi :

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الۡحَـىُّ الۡقَيُّوۡمُۚ لَا تَاۡخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوۡمٌ‌ؕ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ مَنۡ ذَا الَّذِىۡ يَشۡفَعُ عِنۡدَهٗۤ اِلَّا بِاِذۡنِهٖ‌ؕ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ اَيۡدِيۡهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۚ وَلَا يُحِيۡطُوۡنَ بِشَىۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ‌‌ۚ وَلَا يَـــُٔوۡدُهٗ حِفۡظُهُمَا ‌ۚ وَ هُوَ الۡعَلِىُّ الۡعَظِيۡمُ

“Allah, tak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tak mengantuk dan tak tidur. Milik-Nya apa yg ada di langit dan apa yg ada di bumi. Tidak ada yg dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yg di hadapan mereka dan apa yg di belakang mereka, dan mereka tak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yg Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”

 

Melansir dari berbagi sumber, mau memaparkan beberapa keutamaan dari ayat kursi:

1. Masuk surga

Mengamalkan ayat kursi setiap hari dan terutama setelah salat mau memberikan manfaat kepada kita kelak di hari akhir. Dalam sebuah riwayat dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ

“Barangsiapa membaca ayat kursi di akhir setiap salat, maka tak yg menghalanginya buat masuk surga kecuali kematian”. (HR. an-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah, no. 100)

2. Terlindung dari setan

Ayat kursi menjadi salah satu bacaan dzikir yg paling dianjurkan sebelum tidur supaya selama tertidur kita selalu dalam lindungan Allah dan dijauhi dari perbuatan setan terkutuk. Dalam salah satu hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah mau senantiasa menjagamu dan setan tak mau mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari).

3. Membawa keberkahan

Dengan selalu mengamalkan ayat kursi setiap hari, maka datanglah manfaat berupa keberkahan dalam hidup dan dijauhkan dari kesulitan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

Ayat kursi merupakan ayat yg diberkahi, tak ada yg membukakan kesulitan, menyingkirkan bencana dan menghilangkan kesedihan lebih cepat ketimbang ayat kursi.” (HR. Imam Abu hamid Bin Muhammad Al-Ghazali).

 

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentang Ayat Paling Agung, Inilah tiga Keutamaan Ayat Kursi . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah & Kisah Kewarakannya

Sebuah fakta yg tak pernah luput dicatat dalam banyak kitab sejarah mazhab, bahwa Imam Abu Hanifah ialah akar pangkal transmisi keilmuan hukum Islam (fiqih). Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i termasuk orang pertama yg mengakui ini, dan hingga sekarang pandangan beliau terhadap Abu Hanifah masih sangat terang.

 

Adalah Syekh Muhammad Abu Zahrah (1898-1974 M) termasuk yg mengabadikan pengakuan as-Syafi’i tersebut. Dalam karyanya Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 131) ia menulis:

 

فهو الذي قال فيه الشافعي رضي الله عنه: الناس في الفقه عيال على أبي حنيفة

 

Artinya, “Suatu ketika, as-Syafi’i pernah memuji Abu Hanifah. Ia berkata, ‘Transmisi keilmuan umat Islam dalam bidang fiqih berinduk kepada Abu Hanifah’.”

 

Fakta ini nyaris mustahil absen dari memori para santri dan kiai. Ini menjadi bukti bahwa pendiri mazhab Hanafi yg dikenal sebagai pimpinan kaum rasionalis (ahlu ar-ro’yi) itu bukan orang sembarangan. Ia tentu lahir dari keluarga yg tak biasa di hadapan Allah, dan pasti pernah mengukir jejak perjuangan yg tak remeh. Sehingga, Allah terangi keluarga itu sepanjang masa, mengabadikannya dalam sejarah peradaban Islam dunia.

 

Biografi Singkat Abu Hanifah

Abu Hanifah, yg bernama asli Nu’man bin Tsabit bin Zutha ialah seorang ulama besar pendiri mazhab Hanafi. Ia termasuk imam mazhab kawakan di antara tiga mazhab muktabar lainnya (mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan Hanbali). Lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 H bertepatan dgn tahun 699 M, dan wafat di Baghdad pada 150 H atau tahun 767 M.

 

Mengutip Muhammad Ali as-Sayyis dalam Tarikh al-Fiqih al-Islami (hal. 104), bahwa sang promotor golongan rasionalis ini, namanya masuk dalam daftar atba’ at-tabi’in (pengikut para tabiin), generasi ketiga setelah Nabi. Sebab, kabarnya ia hanya sempat semasa—walaupun tak lama—dgn empat orang sahabat; Anas bin Malik yg tinggal di Bashrah, Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi di Madinah, dan sahabat Abu Thufail Amir bin Watsilah di Makkah. Tapi sayg, tak satu pun pernah ditemuinya.

 

Sedangkan, dalam riwayat lain-kendati tergolong lemah-Abu Hanifah masuk dalam daftar tabiin, santrinya para sahabat Nabi. Karena menurut riwayat ini, ia pernah bertemu dgn sahabat Anas bin Malik, dan meriwayatkan satu hadist tentang kewajiban menuntut ilmu darinya. Ditambah lagi, pada tahun 96 H, Nu’man remaja pernah dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji. Saat di Masjidilharam, ia sempat bertemu dgn seorang sahabat bernama Abdullah bin al-Harst bin Juzu’ az-Zabidi, dan berhasil meriwayatkan satu hadist lagi.

 

Tanah Kufah menjadi tempat tinggal terlama bagi Abu Hanifah. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Sebelum masuk ke dunia santri, putra Nu’man ini ialah seorang wiraswasta. Hari-harinya selalu di pasar, membantu sang ayah berjualan sutra. Saat di rumah, ia sibuk memikirkan bagaimana memproduksi kain-kain sutra pilihan. Karena itu, wajar dirinya dikenal sebagai ulama entrepreneur.

 

Setelah sekian lama menjadi wiraswasta, bahkan sampai menghabiskan separuh masa mudanya, Abu Hanifah pun akhirnya bertolak dari dunia pasar menuju dunia intelektual atas saran seorang ulama bernama as-Sya’bi. Wajar saja bila dia termasuk satu dari sekian ulama yg telat belajar. Namun, hal itu bukan persoalan besar di mata Abu Hanifah. Berkat ketekunan dan kecerdasan yg dimilikinya, mampu mengalahkan orang-orang yg belajar jauh sebelum dirinya. Terkait kisah lengkap Abu Hanifah tentang perpindahan dunianya dari tongkrongan pasar ke halakah ilmiah, mau dibahas di tulisan berikutnya. Insya Allah.

 

Guru-Guru Abu Hanifah

Setelah memutuskan buat mengikuti saran as-Sya’bi, meninggalkan hiruk pikuk dunia perdagangan dan mencurahkan lebih banyak simpati kepada para ulama, ‘santri baru’ itu telah mulai jarang tampak di pasar. Ia mulai menjauh dari kebisingan di tempat itu. Walaupun, sesekali juga menyempatkan diri menyambangi para pelanggan setia dan teman-temannya di sana. Tapi itu dapat dihitung jari. Dalam sepekan, mungkin sekali atau bahkan tak sama sekali. Kesehariannya sibuk dgn mengaji, menghadiri halakah demi halakah para ulama di Kufah.

 

Di antara para ulama, tempat simpuh Abu Hanifah mengambil hadist ialah imam ‘Atha’ bin Abi Rabah, imam Nafi’ (mantan budaknya Ibnu Umar), imam Qatadah, dan syekh Hammad bin Abi Sulaiman (tempat mulazamah terlama, selama 18 tahun). Dari syekh Hammad ini pula, ia belajar fiqih secara mendalam dgn transmisi keilmuan yg sampai pada Rasulullah. Sebab, gurunya itu merupakan murid dari Ibrahim al-Nakha’i dan al-Sya’bi, yg mana keduanya ialah santri tiga ulama besar; imam al-Qhadli, Alqamah bin Qais dan Masruq bin Ajda’. Mereka semua belajar fikih kepada Abdullah bin Mas’ud dan Imam Ali bin Abi Thalib, gerbang keilmuan baginda Nabi. Keterangan ini ditulis oleh Muhammad Ali as-Sayyis dalam Tarikh al-Fiqih al-Islami (hal. 104).

 

Kisah Warak Abu Hanifah

Suatu ketika, Jubarah bin al-Mughallis bercerita tentang dirinya yg pernah mendengar Qais bin ar-Rabi’ memuji Abu Hanifah. Qais berkata:

 

كان أبو حنيفة ورعا تقيا مفضلا على إخوانه

 

Artinya, “Abu Hanifah ialah seorang amat warak dan benar-benar taat beragama, ia juga gemar menebar kebaikan kepada sesama.”

 

Sebenarnya, ada banyak pengakuan serupa terkait kewarakan imam Nu’man bin Tsabit. Pengakuan itu juga muncul dari orang-orang elit, sekelas imam as-Syafi’i, imam Malik dan seterusnya. Belum lagi pengakuan yg muncul dari para murid dekatnya; orang-orang yg langsung mengaji, satu majelis dgn Abu Hanifah. Seperti imam Abu Yusuf al-Hanafi (wafat 183 H) dan Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani (wafat 198 H).

Di antara kisah kewarakan Abu Hanifah yg ditulis imam al-Hafidh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad-Dzahabi (wafat 748 H) dalam bukunya Manaqib al-Imam Abi Hanifah wa Shahibaihi; Abu Yusuf wa Muhammad bin al-Hasan (hal. 41), yaitu ketika Abu Hanifah menyedekahkan hasil penjualan baju yg dinilainya syubhat. Suatu ketika, ulama yg juga entrepreneur itu menyuruh salah seorang partner bisnisnya yg bernama Hafsh buat menjual baju komoditas miliknya. Tapi sayg, barang yg hendak dijual itu tak utuh, terdapat cacat pada bagian baju tersebut. Karena itu, Abu Hanifah berpesan:

 

إنّ في ثوب كذا عيبا فإذا بعته فَبَيِّن

 

Artinya, “Di baju ini terdapat cacat, kalau ada yg mau membelinya, beritahulah dahulu di mana bagian cacatnya.”

 

Namun sialnya, Hafsh ini malah lupa pesan Abu Hanifah. Ia langsung menjual baju itu tanpa menunjukkan celanya. Sedangkan, buat menemukan si pembeli tadi telah tak mungkin. Baygkan saja, di tengah pasar yg sangat ramai, dipadati orang-orang tak dikenal datang dari segala penjuru. Mengetahui hal itu, Abu Hanifah langsung menyedekahkan uang hasil penjualan baju tersebut. Kerennya, ia tak marah atas keteledoran itu. Jangankan sampai marah, komentar pun tidak. Malahan, Abu Hanifah menyikapinya dgn senyum ramah. Sungguh luar biasa, ia mampu meneladani akhlak baginda Nabi.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan di Lombok.






Membahas tentangBenarkah Meninggal di Hari Jumat Tergolong Husnul Khatimah?

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentangBenarkah Meninggal di Hari Jumat Tergolong Husnul Khatimah?,

Hari Jumat merupakan salah satu hari yg dianggap istimewa bagi umat muslim. Di mana banyak sekali keutamaan yg terdapat pada hari tersebut. Salah satunya keberkahan yg berlimpah.

Hal ini tak hanya terpaku pada orang yg masih hidup. Karena keberkahan yg pasti mau didapat juga berlaku pada orang yg telah meninggal dunia pada hari itu.

Meskipun pada dasarnya kematian tak dapat diprediksi, dan kematian merupakan salah satu misteri yg dirahasiakan oleh Allah Swt.D

Di dalam agama Islam, terdapat beberapa tanda seorang muslim meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah, di antaranya yaitu wafat ketika hari atau malam Jumat.

Keutamaan wafat di hari Jumat ditegaskan oleh beberapa hadis Nabi, di antaranya hadis riwayat Imam al-Tirmidzi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَأَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْن أَبِي هِلَالٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمُتَّصِلٍ رَبِيعَةُ بْنُ سَيْفٍ إِنَّمَا يَرْوِي عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَلَا نَعْرِفُ لِرَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ سَمَاعًا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو 

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dan Abu ‘Amir Al ‘Aqadi berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’id dari Sa’id bin Abu Hilal dari Rabi’ah bin Saif dari Abdullah bin ‘Amr berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah mau menjaganya dari fitnah kubur.”

Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadis gharib.” (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; “Hadits ini sanadnya tak muttasil. Rabi’ah bin Saif meriwayatkan dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amr dan kami tak mengetahui kalau Rabi’ah bin Saif pernah mendengar Abdullah bin ‘Amr. (HR. al-Tirmidzi)

Hadis al-Tirmidzi ini tergolong gharib, sebab sanadnya tak bersambung, dan tak pernah diketahui bahwa Rabi`ah mendengar dari Ibnu Amr. Tetapi menurut al-Thabrani menyatakan hadist tersebut muttashil.

Al-Thabrani meriwayatkannya dari Rabi’ah bin ‘Iyadl dari ‘Uqbah dari Ibnu Amr bin Ash, demikian pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al-Hakim al-Tirmidzi dgn status muttashil, Abu Nu’aim juga meriwayatkannya dari Jabir dgn status Muttashil.

Meski bersambung sanadnya, menurut al-Hafizh al-Mundziri, hadits tersebut tergolong dla’if (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 5, hal. 637).

Meskipun hadis tersebut tak tergolong hadis shahih, tetapi tetap dapat digunakan sebab berkaitan dgn keutamaan amaliyyah (fadlail al-a’mal).

 

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentangBenarkah Meninggal di Hari Jumat Tergolong Husnul Khatimah? . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Ketika Sahabat Rasul Terpesona pada Kecantikan & Ketampanan

Sebagai umumnya orang, kita sering terpesona dalam pandangan pertama pada kecantikan atau kegantengan lawan jenis yg kebetulan kita jumpai, kita lihat dan kita pandang. Bahkan gambar dan video seksi di smartphone dalam berbagai platform yg sering kita buka pun sangat menarik buat ditelisik. Terkadang kita ingat buat segera mengalihkan pandangan, dan terkadang pula kita menuruti kemauan diri buat melihatnya lebih jauh. Begitulah kecenderungan manusiawi sejak dahulu hingga sekarang.

Kisah Dua Sahabat Terpesona pada Pandangan Pertama

Dahulu, ada dua manusia berparas cantik dan ganteng tak sengaja saling beradu pandang dan saling terpesona pada pandangan pertama. Ketika itu, usai mengikuti haji Wada’ bersama Rasulullah saw kaum muslimin berkumpul mau meminta fatwa kepada beliau. Rasulullah saw sendiri ketika itu memboncengkan al-Fadhlu bin Abbas ra, anak pertama pamannya Abbas ra yg terkenal berparas ganteng, di atas onta bagian belakang.

Ketika Rasulullah saw berhenti buat memberi kesempatan orang-orang meminta fatwa kepadanya, seketika itu pula al-Fadhlu beradu pandang dgn perempuan cantik kabilah Khats’am dari negeri Yaman. Keduanya saling terpesona melihat kecantikan dan kegantengan orang yg dipandangnya

Rasulullah saw pun menoleh, dan ketika melihat peristiwa itu beliau segera menjulurkan tangannya memegang janggut al-Fadhlu, lalu menyerongkannya ke arah lain supaya tak terus-menerus memandang perempuan cantik itu. Kisah ini dapat disimak dalam beberapa riwayat hadits, semisal riwayat al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban dan selainnya.

Memang demikian, setiap orang secara alami senang melihat wajah cantik dan ganteng, senang melihat keindahan. Begitu pula al-Fadhlu dan perempuan cantik dari Yaman itu secara alami terpesona melihat keindahan wajah orang yg tak sengaja saling pandang dgnnya.

Hikmah Tindakan Rasulullah saw Saat Dua Sahabat Saling Terpesona

Adapun tindakan Rasulullah saw yg langsung memalingkan wajah al-Fadlhu supaya tak terus-menerus memandang perempuan cantik itu bermaksud supaya ia tak mengikuti kecenderungan manusiawinya hingga menuruti hawa nafsu, sekaligus supaya al-Fadhlu kembali mematuhi tuntunan akhlak yg diajarkan agama Islam.  (Muhammad bin Abdul Baqi bin Yusuf az-Zarqani, Syarhul Zarqâni ‘alâ Muwattha’-il Imâmi Malik, [Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1411 H], juz II, halaman 389).

Para Sahabat yg Diperingatkan supaya Tidak Menuruti Pandangan Pertama

Tidak sekali ini saja Rasulullah saw memperingatkan para sahabat, seperti sahabat Jarir, Ali dan Jabir bin Abdillah ra, supaya tak mengikuti kecenderungan alami memandang wajah cantik yg tak halal bagi mereka, sebagaimana dalam beberapa riwayat berikut.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. رواه مسلم

Artinya, “Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah ra ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan yg terjadi secara tiba-tiba di luar kesengajaan, lalu beliau memerintahkan kepadaku supaya memalingkan pandanganku’.” (HR Muslim)

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِىٍّ: يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ. هذا حديث صحيح على شرط مسلم و لم يخرجاه

Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dari Ayahnya, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda kepada: ‘Wahai Ali, jangan ikuti suatu pandangan dgn pandangan lain, sebab sungguh bagimu pandangan pertama dan tak diperbuatkan kepadamu pandangan selainnya’.” (HR al-Hakim dan ia berkata: “Ini hadits shahih sesuai syarat Imam Muslim, namun ia bersama Imam al-Bukhari  tidak mentakhrijnya.”).

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَعْجَبَتْ أَحَدَكُمْ الْمَرْأَةُ فَلْيَعْمِدْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مِنْ نَفْسِهِ. رواه أحمد

Artinya, “Diriwayatkan dari Jabir ra, sungguh Rasulullah saw bersabda: ‘Ketika ada perempuan membuat terpesona salah seorang dari kalian, hendaklah ia segera mendatangi istrinya, lalu segera menyetubuhinya, sebab hal itu dapat menolak gejolak nafsunya’.” (HR Ahmad).

Kontekstualisasi Akhlak ketika Terpesona Gambar dan Video Seksi

Tuntunan akhlak yg Rasulullah saw ajarkan kepada umatnya supaya tak menuruti pandangan terhadap lawan jenis yg menarik secara seksual semestinya dapat dikontekstualisasikan dalam era digital seperti sekarang. Tidak hanya ketika melihatnya secara nyata saja, namun juga ketika melihat gambar dan video seksi di smartphone dalam berbagai platform yg kita buka.

Bila tak segera dialihkan, tentu dorongan buat menuruti pandangan nafsu mau semakin menjadi-jadi. Bukankah hal ini yg manusia modern alami sehari-hari, tanpa pandang bulu. Laki-laki maupun perempuan, tua apalagi muda. Wallâhu a’lam.

Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online





Jejak Agama Hanif & Penyimpangan Akidah Masa Jahiliah

Nabi Muhammad saw membawa ajaran Islam di tengah bangsa Arab yg telah mapan dgn akidahnya. Hanya saja, agama yg mereka anut telah jauh dari garis wahyu yg telah disampaikan oleh Allah melalui Nabi Ibrahim as jauh sebelumnya. Di sini lah peran Rasulullah buat meluruskan kembali sekaligus memperbarui akidah masyarakat jahiliah.

Agama Hanif

Untuk dapat mengkaji sejarah dakwah Nabi Muhammad saw dgn utuh, kita tak boleh melupakan kondisi sosial religius masyarakat Makkah ketika itu, baik ketika masa jahiliah ataupun sebelumnya. Sebelum masa jahiliah, bangsa Arab telah menganut agama Hanif, yaitu agama yg dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Hal demikian terjadi sebab bangsa Arab sendiri merupakan anak cucu Nabi Ismail as, putra Ibrahim. Allah swt menegaskan dalam Al-Qur’an,

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Artinya: “Katakanlah: ‘Benarlah (apa yg difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yg lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yg musyrik. (QS. Ali Imran [3]: 95)

Kata ‘Hanif’ disebutkan jelas pada ayat di atas sebagai agama yg dibawa oleh Nabi Ibrahim. Dalam beberapa ayat lain, Allah swt juga menyebutkan jelas kata tersebut. Seperti dalam surat Al-An’am ayat 161 dan surat An-Nahl ayat 123.

Berdasarkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat tersebut memerintahkan umat Muslim buat mengikuti agama yg dibawa Nabi Ibrahim tersebut. Karena pada dasarnya ajaran Ibrahim sama dgn apa yg dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (Ibnu Katisr, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim, juz II, h. 66)

Maksud agama Nabi Ibrahim sama dgn Nabi Muhammad ialah dalam hal bertauhid, yaitu sama-sama memerintahkan buat hanya menyembah Allah swt, sebagaimana esensi setiap ajaran nabi-nabi pada umumnya.

Setelah sekian abad berlalu, ajaran Nabi Ibrahim mulai mengalami banyak penyimpangan oleh pemeluknya sendiri. Agama yg dulu hanya menyembah satu Tuhan, kini tak lagi. Kian hari, parktik-praktik kemusyrikan semakin marak di kalangan masyarakat Arab. Kebodohan bangsa ketika itu membuat mereka akhirnya terjerumus dalam taklid buta kepada para nenek moyg buat menyembah berhala dan banyak laku kemusyrikan lainnya. Karena itulah Nabi Muhammad diutus.

Berhala pertama

Sebelum bangsa Arab terjerumus dalam kemusyrikan, mereka ialah bangsa yg berpegang teguh pada akidah yg bersumber dari wahyu Allah swt. Semuanya berubah ketika seseorang bernama Amr bin Luhay bin Qam’ah (leluhur Suku Khuza’ah) membawa berhala pertama ke Makkah dan mengajak orang-orang buat menyembahnya. Berhala itu bernama Hubal yg ia bawa dari Syam.

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya menjelaskan, seorang yg bernama Amr bin Luhay pergi dari Makkah menuju ke Syam buat suatu kepentingan. Begitu ia tiba di daerah bernama Maarib, di wilayah Balqa yg didiami oleh suku Amaliq (keturunan dari Imlaq), Amr melihat orang-orang itu menyembah berhala dan bertanya, “Berhala-berhala model apakah yg kalian sembah itu?”

Mereka menjawab, “Kami memuja para berhala buat meminta hujan, kemudian mereka pun menurunkannya. Kami memohon kepada mereka, dan mereka mengabulkan permohonan kami.” Rupanya Amr begitu saja mempercayai semua itu dan membuatnya tertarik buat meminta satu berhala yg bernama Hubal buat dibawa ke Jazirah Arab dan disembah penduduk setempat.

Dalam versi lain disebutkan, kemunculan berhala murni sebab faktor internal orang-orang Makkah sendiri. Dikisahkan, ketika masyarakat penduduk Makkah mengalami kesulitan, mereka mau pergi ke negeri-negeri lain dgn membawa batu-batu dari tanah suci Makkah sebagai bentuk penghormatan. Jika sampai di sebuah tempat, mereka berhenti dan meletakkan batu tersebut buat diputari, persis seperti ketika thawaf mengelilingi Ka’bah.

Lambat laun, tradisi ini mengalami pergeseran paradigma dan penyimpangan makna. Sikap hormat yg berlebihan pada batu-batu tersebut kebablasan dan dijadikan berhala buat disembah. Kian hari, penyimpangan akidah mereka kian parah, hingga ajaran-ajaran agama Nabi Ibrahim lenyap begitu saja. Kendati demikian, masih ada beberapa orang yg mengajarkan agama Ibrahim tersebut, seperti Qass bin Sa’idah al-Iyyadi, Ri’ab asy-Syinni, dan Buhaira sang Rahib.

Meski begitu, ajaran-ajaran yg dibawa kelompok setia tersebut juga tak lagi murni sebagaimana apa yg dulu Nabi Ibrahim sampaikan. Seperti redaksi kalimat talbiyah yg mengalami reduksi sebagai berikut,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ. لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ إِلَّا شَرِيْكٌ هُوَ لَكَ. تَمْلِيْكُهُ وَ مَا لَكَ

Artinya: “Aku menyambut seruan-Mu ya Allah, aku menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu kecuali sekutu yg Engkau miliki. Yang Engkau miliki dan dia miliki pula.” (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, juz I, h. 94-96)

Dalam catatan Ibnu Hisyam dijelaskan, begitu penduduk Makkah meninggalkan agama Nabi Ismail, mereka menamai berhala-berhala dgn nama mereka sendiri, baik yg masih memiliki garis keturunan dgn Nabi Ismail ataupun bukan. Seperti Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar yg membuat berhala dgn nama Suwa’ dan Kalb bin Wabrah dari Qudha’ah dgn berhala bernama Wadd. (Ibnu Hisyam, juz I, h. 97)

Demikianlah kondisi sosial religius bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw diutus. Artinya, masyarakat ketika itu benar-benar berada dalam penyimpangan agama yg serius. Meski begitu, mereka pernah memiliki rekam historis keagamaan yg benar dgn memeluk agama Hanif. Di sini lah tugas Nabi buat mengembalikan mereka ke dalam ajaran yg lurus.

Muhamad Abror, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek-Cirebon dan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta





Cek Fakta: Beredar Foto Disebut Kuburan Massal Ulama & Santri Korban PKI

Beredar sebuah foto di media sosial yg memperlihatkan sejumlah orang tengah menggali kuburan dgn narasi yg mengklaim bahwa foto tersebut ialah kuburan massal ulama dan santri yg digali oleh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Foto tersebut diunggah oleh seorang pengguna Facebook dgn nama akun Supri Hastuti.

“Ini ialah foto para santri n ulama yg menolak faham komunis. Para santri di suruh gali lubang panjang di sekitar pompes utk kuburan mrk n mrk smua di kubur hidup2,” tulis Supri Hastuti di narasi unggahannya.

Pada foto itu juga terdapat narasi: “KUBURAN MASAL ULAMA DAN SANTRI 1948 OLEH PKI MUSO.”

Namun, berdasarkan penelusuran fakta Turnbackhoax.id, Sabtu, 13 Juni 2020, klaim bahwa peristiwa di foto yg menyebut kuburan tersebut ialah kuburan massal Ulama dan Santri oleh PKI Muso pada tahun 1948 ialah klaim yg salah.

Foto itu bukan kuburan massal ulama dan santri oleh PKI Muso pada tahun 1948, melainkan salah satu foto yg menunjukkan mereka yg mau dieksekusi sebab diduga terkait dgn PKI di sebuah parit pada tahun 1965.

Dikutip dari Liputan6.com, foto yg sama diunggah di artikel berjudul “How the Australian, British, and US Governments Shamelessly Helped Kill Countless People in Indonesia in 1965” yg dimuat situs asia-pacificresearch.com, pada 23 Juli 2016.

Foto tersebut diberi keterangan “Indonesians preparing to die in a mass grave.” atau yg bila diterjemahkan “Orang Indonesia bersiap buat mati di kuburan massal”.

Sementara dari Tempo.co, ditemukan bahwa foto tersebut pernah dipublikasikan oleh sejumlah situs. Satu di antaranya ialah situs berbahasa Inggris yg berbasis di Pakistan, Dawn.

Situs tersebut memuat foto itu pada 23 Juli 2015 dalam artikel yg berjudul “The volatile fusion: Origins, rise & demise of the ‘Islamic Left’”.

Keterangan foto dalam artikel itu berbunyi “Soldiers guard a ditch full of leftist Indonesian activists. They were all shot (1965)” atau yg bila diterjemahkan “Tentara menjaga parit yg penuh dgn aktivis kiri Indonesia. Mereka semua ditembak (1965)”.

Adapun isi artikel tersebut menyinggung sejarah Indonesia dari era Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto yg diwarnai dgn penumpasan anggota PKI dan simpatisannya.

Tempo.co juga sempat menghubungi Yohanes Andreas Iswinarto, pemilik Perpustakaan Online 1965-1966.

Menurut Yohanes, foto tersebut dimuat setidaknya dalam dua buku yg berisi cerita tentang PKI.

Yang pertama ialah buku “Kronik ’65: catatan hari per hari peristiwa G30S sebelum hingga setelahnya (1963-1971)” karya Hadi Kuncoro dkk yg diterbitkan oleh Media Pressindo Yogyakarta pada 2017. Foto itu terdapat pada halaman 562.

Sementara yg kedua, menurut Yohanes, ialah buku “Penghancuran PKI” cetakan kedua karya Olle Tornquist yg diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada 2017. Foto itu terdapat pada halaman 276.

Olle memberikan keterangan “Siap dieksekusi dan dikuburkan” terhadap foto tersebut. Foto ini pun pernah dimuat dalam buku Olle yg sama namun yg berbahasa Swedia, “Marxistik Barlast”, yg terbit pada 1982.

Dengan demikian, orang-orang dalam foto tersebut bukanlah ulama dan santri yg dibunuh oleh PKI Musso pada 1948, melainkan peristiwa yg menunjukkan mereka yg mau dieksekusi sebab diduga terkait dgn PKI di sebuah parit pada tahun 1965.





Ka’bah Jadi Sasaran Tembak PUBG, Gamer Muslim Ini Murka

Game PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) belakangan ini ramai menjadi buah bibir. Setelah dikaitkan dgn insiden teror penembakan masjid di Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019 lalu, kini Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sedang membahas wacana fatwa haram terhadap PUBG.

Sementara umat Islam di Indonesia menanti keputusan MUI,
PUBG juga menjadi sorotan hingga memicu kemarahan gamer di India. Hal
ini lantaran permainan online besutan Tencent Games tersebut menjadikan ikon
yg menyerupai Ka’bah sebagai objek penembakan dalam adegan permainan.

Sontak para gamer di Negeri Bollywood marah, sehingga
bergulir kampanye boikot PUBG melalui media sosial. Mereka menuntut supaya PUBG
menarik item yg mirip situs suci umat Muslim itu dari platform.

Saya sangat mengutuk game ini. Semua Muslim harus BOYCOTT game ini.
Karena pembaruan berupa hadiah yg tampak seperti Ka’bah Suci kami dalam game ini dan orang-orang membidik target yg
murni aksi terorisme,” protes salah satu warganet melalui Twitter. (Link
Twitter 2: https://twitter.com/mesumpatel/status/1109078954391027717)

Menurut laporan Abacusnews, yg dipublikasikan pada 25
Maret 2019, kemunculan item yg serupa Ka’bah itu belum lama di platform PUBG.
Item ini – disebut Birthday Care – merupakan bagian dari hadiah ulang
tahun pertama dari PUBG Mobile kepada gamer, yg diperkenalkan minggu
lalu.

Saat ini, dgn dugaan pelecehan terhadap situs umat Muslim
tersebut, popularitas PUBG di Negeri Bollywood menuai polemik, dgn 15 persen
populasi ialah Muslim. Sejumlah warganet secara terang-terangan mengutuk PUBG
dan mengajak supaya umat Muslim lainnya ikut memboikot.

Sementara itu, menyadari reaksi kemarahan dari para gamer, perusahaan PUBG bertindak cepat. Pihaknya telah meminta maaf melalui Twitter dan berjanji mendesain ulang item berbentuk kotak hitam yg mirip Ka’bah itu.

“Kami meminta maaf atas kelalaian ini. Kami mau mendesain ulang Birthday Care dan segera merilisnya. Terima kasih atas dukunganmu buat PUBG Mobile,” cuitan permintaan maaf PUBG. (Link Twitter : https://twitter.com/techstarsrk/status/1109427634713165827)





Khutbah Akhir Tahun: Muhasabah enam Sifat yg Dibenci Allah

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ:يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨(سورة الحشر: ١٨)

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita buat bertakwa dan berinstrospeksi diri. Masing-masing dari kita hendaknya selalu berpikir dan mencermati apa yg telah dipersiapkan buat akhiratnya kelak. Jika telah berbuat baik dan beramal shalih, maka hendaknya kita memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas kemurahan-Nya, dan tetap istiqamah (konsisten) dalam kebaikan itu sepanjang hidup kita. Namun bila kita masih berbuat maksiat, maka hendaknya kita tinggalkan semua maksiat, beristighfar (memohon ampun), dan memperbaiki hati, sebab di akhirat kelak tidaklah bermanfaat harta dan keturunan serta apa pun jua kecuali orang-orang yg memasuki kehidupan akhirat dgn hati yg bersih.

 

Saudara-saudaraku seiman,

Di akhirat kelak, seseorang mau dihisab dan dimintai pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan dan hatinya, sebagaimana ia mau dihisab atas apa yg dilakukan oleh seluruh anggota badannya. Oleh sebab hati ialah pemimpin anggota badan, maka perbuatan-perbuatan anggota badan sejatinya mencerminkan apa yg ada dalam hati. Jika hati baik, maka anggota badan menjadi baik. Dan bila hati rusak, maka rusaklah anggota badan.

 

Hadirinyg berbahagia,

Dalam kesempatan ini, kita mau membahas enam sifat yg dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Marilah kita berintrospeksi dan bermuhasabah, apakah hati kita telah bersih dan terhindar dari enam sifat tersebut, ataukah sebaliknya, justru enam sifat yg dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala tersebut tertanam kuat dan bercokol di hati kita. Na’udzu billahi min dzalik.

 

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam hadits shahih dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍبِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِالَّليْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِـمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ (حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membenci seseorang yg memiliki enam sifat berikut ini:

 

  1. جَعْظَرِيٍّ

 

Yakni orang yg takabbur atau sombong. Sombong ada dua macam.

 

Pertama, menolak kebenaran yg disampaikan oleh orang lain padahal ia tahu bahwa hal itu benar, disebabkan penyampai kebenaran lebih muda usianya, lebih miskin hartanya, lebih rendah status sosialnya atau sebab hal lain. Padahal fir’aun tidaklah binasa kecuali sebab sifat takabburnya. Fir’aun telah melihat sekian banyak mu’jizat Nabi Musa ‘alaihissalam, namun ia tak beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Haman, perdana menteri Fir’aun ketika itu berkata kepada Fir’aun: “Jika engkau beriman kepada Musa, maka engkau mau kembali menjadi hamba yg menyembah, padahal selama ini engkau telah menjadi tuhan yg disembah.” Demikian pula Bani Isra’il yg diutus kepada mereka Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah mereka melihat mu’jizat Nabi Isa ‘alaihissalam, tak ada yg membuat mereka tak beriman kecuali sifat takabbur mereka. Mereka selalu mengatakan bahwa bila mereka beriman, maka mau lenyaplah kehormatan dan kekuasaan mereka. Demikian pula Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy, setelah mereka melihat mu’jizat al-Qur’an dan mengakui bahwa al-Qur’an tak seperti puisi dan prosa yg mereka kenal, tak ada yg membinasakan mereka dan membuat mereka tak beriman kecuali sifat takabbur mereka.

 

Jenis takabbur yg kedua ialah merendahkan orang lain. Seseorang yg memiliki sifat takabbur jenis kedua ini dalam hatinya, ia mau menganggap dirinya memiliki keistimewaan lebih atas orang lain sehingga melihat dirinya dgn pandangan kesempurnaan dan penuh kebaikan. Dia melupakan bahwa itu semua ialah anugerah yg Allah berikan kepadanya.

 

  1. جَوَّاظٍ

 

Yaitu seseorang yg rakus dan gandrung buat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dgn niat yg tak benar dan didorong kecintaannya yg sangat besar terhadap harta. Ia tak peduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari sumber yg halal ataukah haram. Dengan itu, ia bertujuan buat memenuhi kemauan hawa nafsunya yg haram dan membanggakan diri di hadapan para hamba yg lain.

 

  1. سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ

 

Artinya orang yg sebab kerakusan dan kegandrungannya pada harta, ia memperbanyak omongan dgn tujuan supaya dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ia tak peduli apakah omongannya halal ataukah haram.

 

  1. جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ

 

Menjadi bangkai di malam hari. Yakni menghabiskan seluruh waktu malamnya buat tidur. Ia tak peduli buat melakukan shalat sama sekali.

 

  1. حِمَارٍ بِالنَّهَارِ

 

Menjadi keledai di siang hari. Yakni yg ia pikirkan hanya bagaimana dapat memakan berbagai menu makanan dan banyak menikmati berbagai kemewahan hidup. Dengan sebab itu, ia lalai melakukan hal-hal yg Allah wajibkan kepadanya.

 

  1. عَالِـمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ

 

Mengetahui perkara dunia namun bodoh mengenai perkara akhirat. Yakni mengetahui bagaimana cara mencari dan mengumpulkan harta, mau tetapi tak memiliki pengetahuan mengenai bagian ilmu agama yg fardlu ‘ain buat dipelajari, yg disebut para ulama dgn istilah عِلْمُ الدِّيْنِ الضَّرُوْرِيِّ (ilmu agama yg pokok). Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالْبَيْهَقِيُّ)ـ

Maknanya: “Mencari ilmu agama yg pokok (ilmu agama yg dasar) hukumnya ialah fardlu ‘ain bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan),” (HR Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

 

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Di akhir khutbah, khatib mengutip mutiara nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah yg mengingatkan kepada kita semua bahwa kehidupan dunia ialah waktu buat beramal, dan semua yg kita lakukan di dunia ini mau kita pertanggungjawabkan di akhirat:

 

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَتَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَحِسَابَ، وَغَدًاحِسَابٌ وَلاَعَمَلٌ

Maknanya: “Dunia berjalan membelakangi kita, sedangkan akhirat berjalan menghampiri kita. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anaknya. Maka jadilah bagian dari anak-anak akhirat (senantiasa mementingkan kehidupan akhirat) dan janganlah menjadi bagian dari anak-anak dunia (selalu mementingkan kehidupan dunia yg sementara), sebab hari ini (kehidupan dunia) ialah waktunya beramal dan tak ada hisab, sedangkan besok (kehidupan akhirat) ialah waktunya mempertanggungjawabkan amal, dan bukan waktunya beramal,” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

 

إِنَّ الْحَـمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَشْكُرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ،وَعَلٰىإِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ:اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦،اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰىآلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰىآلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰىآلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰىآلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَاآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضٰالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَّوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ ما نَتَخوَّفُ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى ويَنْهٰى عَنِ الفَحْشٰاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Ustadz Nur Rohmad, Peneliti/Pemateri Bidang Akidah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur







Waktu Penyembelihan Kurban ketika Shalat Idul Adha Ditiadakan

Penyembelihan hewan kurban (udhiyah/tadhiyah) dilaksanakan pada hari nahar (tanggal 10 Dzulhijjah/hari raya Idul Adha) hingga hari taysrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Penyembelihan kurban sangat dianjurkan bagi umat Islam (yaitu mereka yg mampu) sebagai bentuk syiar agama.

Imam An-Nawawi menjelaskannya sebagai berikut:

التضحية سنة مؤكدة وشعار ظاهر. ينبغي لمن قدر أن يحافظ عليها

Artinya, “Ibadah kurban itu sunah muakkad dan syiar yg nyata. Orang yg mampu seyogianya menjaga kesunahan ini,” (lihat Al-Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin, [Beirut: Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 462).

Waktu penyembelihan hewan kurban berawal dari terbitnya matahari pada hari nahar/hari raya Idul Adha (10), persisnya setelah berlalu sekira orang melakukan shalat dua rakaat dan menyampaikan dua khotbah singkat.  

قوله (ووقت التضحية) يدخل (بعد طلوع الشمس يوم النحر و) بعد (مضي قدر ركعتين وخطبتين خفيفات) بأن يمضي من الطلوع أقل ما يجزىء من ذلك وإن لم يخرج وقت الكراهة ولم يذبح الإمام. فلو ذبح قبل ذلك لم يجز وكان شاة لحم لخبر الصحيحين أَوَّلُ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي ، ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

Artinya, “(Awal) waktu penyembelihan kurban masuk setelah matahari terbit pada hari nahar (hari raya Idhul Adha) dan setelah berlalu sekira pelaksanaan shalat dua rakaat dan dua khotbah ringan, yaitu sekadar durasi minimal pelaksanaan itu, sekalipun tak keluar waktu makruh dan sekalipun imam (kepala negara) tak menyembelih kurban. Kalau seseorang menyembelih kurban sebelum itu (waktunya), maka tak boleh dan ia menjadi kambing pedaging sebagaimana hadits pada Bukhari dan Muslim, ‘Awal kali yg kami lakukan pada hari (nahar) kami ini ialah melaksanakan shalat. Kemudian kami pulang, lalu menyembelih hewan kurban. Siapa saja yg melakukannya maka ia telah mendapatkan sunnah kami. Tetapi siapa saja yg menyembelih (hewan) sebelum itu, maka ia menjadi (hewan pe)-daging yg dipersembahkan buat keluarganya, tak mendapatkan sedikitpun keutamaan kurban,’” (Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin, Buysral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim, [Beirut, Darul Fikr: 2012 M/1433-1434 H], juz II, halaman 588).

Adapun penyembelihan hewan kurban sebelum waktu kurban yg ditentukan tak bernilai ibadah kurban. Penyembelihan hewan kurban sebelum waktunya dianggap sebagai penyembelihan biasa yg tak mengandung keutamaan kurban sebagaimana keterangan hadits Bukhari dan Muslim yg dikutip Syekh Said Ba’asyin.

Oleh sebab itu, ulama fiqih menyimpulkan bahwa penyembelihan hewan kurban sebelum waktunya tak dapat disebut ibadah kurban sebab menyalahi ketentuan. Berikut ini pandangan salah satu ulama dari mazhab syafi’i terkait penyembelihan hewan kurban sebelum waktunya. 

فلو ذبح قبل ذلك لم يقع أضحية

Artinya, “Siapa saja yg menyembelih (hewan) sebelum (waktunya) itu, maka ia tak menjadi ibadah kurban,” (Sayyid Bakri Syatha, I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 377).

Lalu bagaimana dgn waktu penyembelihan hewan kurban ketika shalat Idul Adha ditiadakan di masjid-masjid seperti pelaksanaan shalat Idul Adha (1442 H yg bertepatan dgn 20 Juli 2021 M) di rumah saat pandemi? Hampir dapat dipastikan (meski sebagian kecil keluarga juga menggelar khotbah shalat Idul Adha di rumah) bahwa shalat Idul Adha dua rakaat di rumah tak diikuti dgn khotbah shalat Id.

Ketika shalat Idul Adha ditiadakan di masjid, tentu berikut dgn khotbahnya, maka penyembelihan hewan kurban disarankan buat dilaksanakan setelah waktu shalat dua rakaat dan dua khotbah singkat Idul Adha berlalu pada umumnya.

فَلَوْ ذَبَحَ قَبْلَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ يَقَعْ أُضْحِيَّةً. . . (وَالْأَفْضَلُ تَأْخِيرُهَا إلَى مُضِيِّ ذَلِكَ مِنْ ارْتِفَاعِهَا) أَيْ شَمْسِ يَوْمِ النَّحْرِ (كَرُمْحٍ) خُرُوجًا مِنْ الْخِلَافِ

Artinya, “Siapa saja yg menyembelih (hewan) sebelum atau (waktunya) itu, maka ia tak menjadi ibadah kurban… Yang utama penyembelihan hewan kurban ditunda sampai (shalat dan khotbah singkat) itu berlalu sejak naiknya matahari pada hari nahar (Idul Adha 10 Dzulhijjah) sekira setinggi tombak buat keluar dari ikhtilaf ulama,” (Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab pada Hasyiyatul Bujairimi Alal Manhaj, [Beirut, Darul Fikr: 2008 M/1427-1428 H], juz IV, halaman 298).

Dengan kata lain, Syekh Abu Zakaria Al-Anshari menyarankan penyembelihan hewan kurban dilakukan sekira-kira setelah shalat dua rakaat dan khotbah singkat Idul Adha seandainya diadakan di masjid.

Jadi, ketika shalat Idul Adha ditiadakan sebab pandemi atau uzur lainnya, waktu penyembelihan hewan kurban bukan berarti dimajukan. Waktu penyembelihan hewan kurban tetap dimulai setelah durasi pelaksanaan shalat dan khotbah singkat Idul Adha diperkirakan berlalu. Hal ini dimaksudkan supaya keluar dari ikhtilaf. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)





empat Azab Umat Terdahulu yg Dihilangkan di Zaman Rasulullah

Hubungan Allah dan umat sebelum Nabi Muhammad SAW berbeda dgn hubungan Allah dan umat di zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika kekufuran dan maksiat merajalela, Allah langsung menurunkan azabnya buat umat tersebut. Tetapi di zaman Nabi Muhammad SAW, Allah cenderung menahan azab-Nya yg luar biasa. Semua ini tak lepas dari doa Rasulullah SAW sebab kasih saying beliau kepada umatnya.

Syahdan, Rasulullah SAW merenung ketika menerima Surat Al-An’am ayat 65. Beliau menimbang empat bentuk azab dari segi kedahsyatannya lalu kemudian berdoa supaya Allah menahan empat jenis azab tersebut buat umatnya.

Adapun Surat Al-An’am ayat 65 berbunyi sebagai berikut:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Artinya, “Katakan, ‘Dia berkuasa buat mengirimkan kepadamu azab dari atas kamu atau dari bawah kakimu; atau buat mencampurkan kamu dalam firkah-firkah (yg saling berseteru) dan menimpakan kekerasan sebagian kamu kepada sebagian yg lain.’ Perhatikan bagaimana Kami menunjukkan silih berganti tanda kebesaran Kami supaya mereka memahami,” (Surat Al-An’am ayat 65).

Menurut Rasulullah, dua jenis azab terakhir yg paling ringan dari empat jenis azab yg pernah diturunkan kepada umat-umat nabi terdahulu. Pertimbangan Rasulullah ini dikutip Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun] sebagai berikut.

عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَة “قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ” قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “أَعُوذُ بِوَجْهِكَ” فَلَمَّا نَزَلَتْ “أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ” قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَاتَانِ أَهْوَنُ أَوْ أَيْسَرُ

Artinya, “Dari Jabir bin Abdillah, ia bercerita, ketika (Surat Al-An’am) ayat (65) ini turun ‘Dia berkuasa buat mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu,’ Rasulullah SAW berdoa, ‘Aku berlindung dgn zat-Mu.’ Ketika ‘atau (Dia berkuasa) buat mencampurkan kamu dalam firkah-firkah (yg saling berseteru) dan menimpakan kekerasan sebagian kamu kepada sebagian yg lain,’ Rasulullah SAW menanggapi, ‘Kedua ini lebih ringan atau lebih mudah,’” (HR Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Abu Ya‘la, dan Ibnu Asakir).

Adapun berikut ini ialah permohonan Rasulullah. Tetapi Allah hanya mengabulkan setengahnya sebagaimana dikutip oleh Al-Asqalani dalam Badzlul Ma‘un dan Fathul Bari.

دعوت الله أن يرفع عن أمتي أربعا فرفع عنهم اثنتين وأبى أن يرفع عنهم اثنتين دعوت الله أن يرفع عنهم الرجم من السماء والخسف من الأرض وأن لا يلبسهم شيعا ويذيق بعضهم بأس بعض فرفع الله عنهم والخسف والرجم وأبى الله أن يرفع عنهم الأخيرتين

Artinya, “Aku berdoa supaya Allah supaya menghilangkan empat jenis azab, lalu Allah mengabulkan yg dua, dan enggan menghilangkan dua jenis lainnya. Aku berdoa kepada Allah buat menghilangkan lemparan (batu) dari langit, penelanan (pembenaman seperti Qarun atau penenggelaman zaman Nabi Nuh) oleh bumi, pencampuran dgn keragaman kelompok sosial yg bertentangan, dan penderitaan akibat kekerasan dari sebagian kelompok Muslim lainnya. Allah menghilangkan lemparan (batu) dari langit dan penelanan bumi. Dia enggan menghilangkan dua permintaan terakhir,” (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un: 124-125).

Lalu bagaimana kita memaknai hadits tersebut di tengah peristiwa-peristiwa yg serupa dgn azab umat terdahulu? Menurut Al-Asqalani, semua bentuk bencana itu mungkin saja dan kenyataannya sebagian telah terjadi. Tetapi bencana tersebut tak dianggap sebagai azab yg membinasakan umat Islam secara keseluruhan.

وقد وقع الرجم والخسف والغرق وتسليط العدو الكافر على بعض الأمة وعلى بعض البلاد فدل على أن المراد بنفي ذلك عن الأمة نفيه عن جميعهم وأن وقوع ذلك لبعضهم لا يقدح في صحة الحديث لصلاحية اللفظ لإرادة الكل والبعض 

Artinya, “Lemparan batu, pembenaman bumi, penenggelaman, dan pendudukan orang kafr pada sebagian umat atau sebagian negeri memang terjadi. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa yg dimaksud dgn penghilangan azab dari umat Islam ini ialah penghilangan azab terhadap mereka secara keseluruhan. Adapun kejadian yg menimpa sebagian umat Islam tak mencederai kesahihan hadits ini sebab kepatutan lafalnya dgn maksudnya secara keseluruhan dan sebagian,” (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un: 125).

Allah memang hanya mengabulkan setengah dari permohonan Rasulullah, yaitu dua azab yg paling ringan. Meski azab ringan, perselisihan dan pertikaian yg mendera umat Islam tetap merupakan sebuah azab Allah yg memudharatkan dan menyengsarakan sebagaimana perang saudara atas nama Allah, negara Islam, agama Islam, ulama, Al-Qur’an, atau atas nama Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, kita tetap memohon perlindungan kepada Allah dari semua jenis azab-Nya meski yg paling ringan.

الاختلاف والفتنة أيسر من الاستئصال والانتقام بعذاب الله ، وإن كانت الفتنة من عذاب الله لكن هى أخف ؛ لأنها كفارة للمؤمنين ، أعاذنا الله من عذابه ونقمه

Artinya, “Ikhtilaf dan fitnah/kekacauan lebih mudah ketimbang pembinasaan dan penyiksaan dgn azab Allah. Sekalipun bagian dari azab-Nya, fitnah masih tetap lebih ringan sebab fitnah ialah penghapusan dosa bagi orang beriman. Semoga Allah melindungi kita dari azab dan siksa-Nya,” (Ibnu Bathal Al-Qurthubi, Syarah Shahih Bukhari, [Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd-As-Sa’udiyyah, 2003 M/1423 H], juz 10, halaman 360).

Adapun wabah penyakit yg terjadi berlaku sebagai azab umat terdahulu (Bani Israil) dan sebagai rahmat bagi orang beriman di zaman Rasulullah. Siti Aisyah RA meriwayatkan hadits yg mengandung ganjaran besar bagi umat Islam atas kesabaran dan pengertiannya terhadap ketentuan Allah serta menahan diri di daerah masing-masing.

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

Artinya, “Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, ‘Zaman dulu tha’un ialah siksa yg dikirimkan Allah kepada siapa saja yg dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yg sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dgn bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tak mau mengenainya selain sebab telah menjadi ketentuan Allah buatnya, niscaya ia mau memperoleh ganjaran seperti pahala orang yg mati syahid,’” (HR Bukhari). Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)