Membahas tentang Tuntunan Al-Qur’an ketika Mendengar Rumor & Berita Bohong

Pada masa Rasulullah saw, ada sekelompok orang yg menyebarkan rumor tentang istri Nabi Muhammad saw, Aisyah ra yg cukup meresahkan Nabi dan sahabat-sahabat karib beliau. Setelah sebulan rumor itu berkembang, baru Allah swt ayat-ayat yg membantah rumor tersebut sambil memberi pengajaran kepada umat bagaimana langkah yg harus ditempuh bila tabayun tak menghasilkan apa yg diharapkan atau bila rumor itu menygkut orang yg selama ini dikenal baik.

Prof Muhammad Quraish Shihab dalam Yang Hilang dari Kita: Akhlak (2017) menjelaskan, di dalam QS An-Nur [24]: 12 yg maksudnya antara lain menyatakan bahwa mestinya sewaktu seseorang mendengar rumor, selaku orang-orang mukmin dan mukminah harus bersangka baik terhadap yg dicemarkan namanya itu. Karena yg dicemarkan namanya tersebut ialah sesama orang beriman.

لَّوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا۟ هَٰذَآ إِفْكٌ مُّبِينٌ

Artinya: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini ialah suatu berita bohong yg nyata.” (QS An-Nur: 12)

Pada ayat 24 dalam surat di atas, Allah dgn jelas memperingatkan bahwa orang-orang yg senang tersebarnya berita-berita yg mencemarkan dalam masyarakat Islam, mereka itu mau ditimpa siksa yg pedih.

Krisis akhlak yg semakin akut terutama di kalangan generasi muda. Bangsa Indonesia, terutama umat Islam perlu memperhatikan tradisi keilmuan dan pendidikan di pesantren yg integratif antara akhlak, ilmu, dan amal.

Bahkan, pengembangan adab dan budi pekerti luhur sangat ditekankan di pesantren sehingga lembaga pendidikan khas di Indonesia itu mampu menjadi benteng moral bagi generasi bangsa sejak berabad-abad lalu hingga ketika ini.

Di zaman canggih ketika ini, mudahnya komunikasi menggunakan perangkat elektronik dan maraknya penggunaan media sosial, prasangka buruk menjadi kekejian yg mengerikan. Hati dan jiwa yg dipenuhi kebencian dan mengedepankan prasangka buruk kepada orang-orang yg tak disukai mendapatkan tempat dan rumah bersama lalu melahirkan caci maki, fitnah, dan hasutan bahkan sampai pada titik yg sangat mengkhawatirkan.

Kalau prasangka buruk saja merupakan dosa serius dan disamakan dgn ucapan yg paling dusta, begitu juga dgn caci maki, fitnah, hasutan, dan ujaran kebencian yg dihasilkan oleh prasangka buruk itu. Barangkali, masyarakat yg kini gandrung dgn gadget (gawai) telah seharusnya sering merenung. Yaitu fitnah, tuduhan-tuduhan keji, hasutan, dan caci maki yg barangkali pernah diucapkan atau ditulis dan disebarkan di media-media sosial, maupun grup WhatsApp dan lain sebagainya. Kira-kira berapa persen yg didasari oleh kebenaran pasti?

Buruk sangka bukanlah ciri orang beriman. Orang beriman itu lebih mendahulukan prasangka baik, kepada siapa pun, termasuk kepada Allah. Bahkan Imam Syafi’i, berwasiat kepada umat Islam, supaya siapa pun yg mau meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah maka hendaknya ia selalu berprasangka baik kepada manusia.

Berbaik sangka ini bukan hanya diperintahkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Artinya kita diperintahkan buat berprasangka baik bahwa Allah mau memperlakukan kita dgn baik, mau memberikan kita kebahagiaan, mau menyelamatkan kita di akhirat. Dan bila kita berprasangka baik kepada Allah, maka Allah mau memperlakukan kita sebagaimana prasangka baik kita itu.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ta’ala berfirman:

انَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاء

Artinya: “Aku ‘mengikuti’ prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka silakan berprasangka apa saja terhadap-Ku.” (HR. Ahmad)

Kalau Allah memperlakukan manusia sesuai dgn prasangka manusia itu sendiri terhadap Allah mau lebih bagus bila manusia berprasangka yg baik-baik saja. Akal yg sehat dan jiwa yg lurus tentu mau memilih buat berprasangka baik kepada Allah. (Fathoni)





Membahas tentang Pengaturan Pengeras Suara Tempat Ibadah di Yaman

Perbincangan pro kontra penggunaan pengeras suara terus riuh di media sosial seiring terbitnya Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor  05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Sebenarnya tak hanya di Indonesia, di luar negeri, negara-negara berpenduduk muslim pun telah mengatur penggunaan pengeras suara di tempat ibadah, dalam hal ini masjid supaya tak kontraproduktif yg justru menimbulkan kebisingan yg mengganggu masyarakat. Negara Yaman menjadi salah satu contohnya.

Wizaratul Auqaf wal Irsyad semacam kementerian agama negara Yaman, secara terang-terangan mengeluarkan peraturan yg tentang penggunaan mikrofon di masjid-masjid. Tepatnya Qarar Wizaratul Auqaf wal Irsyad Nomor 79 menyatakan:

“(3) Penggunaan pengeras suara dibatasi buat mengumumkan masuknya waktu dan pelaksanaan shalat wajib yg lima; khutbah Jumat; shalat Idul Fitri dan Idul Adha serta khutbahnya; shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Adapun kesunnahan lainnya seperti berbagai shalat sunnah, ibadah sunnah, dan berbagai pengajian, maka yg digunakan ialah pengeras suara dalam.

(4) Keseimbangan harus dijaga ketika penggunaan alat pengeras suara sehingga suara pengeras suara di antara masjid yg berdekatan tak bercampur baur, supaya tak membuyarkan konsentrasi orang-orang yg sedang shalat dan menimbulkan gangguan bagi orang-orang yg sedang sakit dan yg sedang uzur.”

Jauh sebelumnya Kerajaan Qu’aithiah (1858-1967) yg menguasai sebagian wilayah Yaman tempo dulu juga mengatur penggunaan pengeras suara secara lebih ketat. Wizaratul Auqaf yg ketika itu dipimpin oleh Syekh Umar bin Muhammad Sahilan mengeluarkan larangan penggunaan mikrofon buat iqamat shalat. Larangan penggunaan mikrofon itu menyebutkan:

“Kepada seluruh Imam dan muazin masjid di Kota Mukalla. Sungguh penggunaan mikrofon buat mengumandangkan iqamah shalat ialah perbuatan yg tak pada tempatnya. Sebab masyarakat tetap saja berbicara ketika mendengarkan iqamah dari mikrofon, lalu mereka baru bergerak menuju masjid dan menunda shalat. Karenanya, azan menjadi tak berharga dan tujuan disyariatkannya tak tercapai, sebagaimana iqamah juga menjadi bertentangan dgn tujuan sebenarnya, yaitu memberitahu orang-orang yg telah hadir di masjid, bukan orang-orang yg di luar masjid, bahwa shalat segera didirikan. Karenanya kami larang sekeras-kerasnya penggunaan mikrofon buat mengumandangkan iqamah shalat.”

Pengaturan penggunaan pengeras suara buat azan dan semisalnya di negeri Yaman nyatanya juga mendapat apresiasi dari para ulama. Di antaranya ialah Doktor Zain bin Muhammad Husain Alydrus, dosen Universitas Al-Ahqaf Yaman.

Menurutnya aturan-aturan semacam ini sangat sesuai dgn ruh syariat Islam, namun saygnya banyak orang Islam yg mengabaikannya, sebab cenderung menuruti hawa nafsunya. Secara tegas ia menyatakan:

وهو قرار وجيه يتوافق معه روح الشريعة الغراء ومقاصدها النبيلة، ولكن للأسف الشديد، لم يلتزم كثير  من الناس بهذا القرار، ركونا إلى أهواهم ورغباتهم، وعدم مراعتهم لمشاعر المسلمين بل وإيذائهم مما يوقعهم في حضر جسيم. هداهم الله تعالى

Artinya, “Peraturan penggunaan mikrofon di masjid-masjid itu ialah peraturan yg sangat bagus dan berkesesuaian dgn ruh syariat yg indah dan tujuan syariat yg luhur. Namun sangat disesalkan banyak orang yg tak mematuhinya sebab cenderung mengikuti hawa nafsu dan kesenangannya. Ketidakpedulian mereka terhadap kaum muslimin bahkan menyakitinya—dgn menggunakan pengeras suara secara tak beraturan—termasuk hal yg membuat mereka jatuh dalam bahaya besar. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada mereka.” (Zain bin Muhammad bin Husain Alydrus, I’lâmul Khâsh wal ‘Âmm bi Anna Iz’âjan Nâsi bil Mikrûfûn Harâm, [Mukalla, Dârul ‘Idrûs: 1435/2014], halaman 29-30).

Nah, berkaitan riuh rendah pro dan kontra pengaturan penggunaan pengeras suara, apakah kita cenderung mengikuti aturan yg lebih memperhatikan kepentingan orang banyak, atau justru suka-suka sendiri tanpa aturan seperti selama ini? Wallâhu a’lam. 

Ustadz Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online.





Membahas tentang Khutbah Jumat: Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain

Naskah khutbah Jumat ini mengajak umat Islam buat menjauhi perbuatan mengumbar aib atau keburukan orang lain. Nabi sendiri mengingatkan bahwa siapa pun yg menutupi aib seorang, Allah mau menutupi aibnya di dunia dan akhirat.

 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi)


Khutbah I

 

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ (الحجرات: ١٢)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Sekarang ini kita menyaksikan, betapa mudahnya seseorang membuka aib sesama, melempar tudingan, mencari-cari kesalahan orang lain, menyebarluaskannya dan bahkan menjadikannya sebagai lelucon, tanpa menyadari mau bahayanya. Mereka berbicara tanpa mengindahkan larangan agama, berbicara tanpa fakta nyata dan hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Mereka tak menyadari bahwa semua perkataan yg mereka ucapkan kelak mau dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.

 

Salah satu bahaya lisan yg sedang merebak luas ialah tentang ghibah. Ini terjadi di mana saja, baik di pasar, warung, halaman rumah, dapur, ruang tamu, tempat kerja, dan bahkan di masjid dan mushala. Ironisnya, hal ini telah dianggap biasa dan menjadi hidangan keseharian dalam pergaulan. Juga tak kalah serunya dgn adanya acara-acara infotainmen tentang ghibah di berbagai media massa, yg kerapkali menyebut-nyebut keburukan orang lain. Berkenaan dgn hal ini, Allah swt memberikan peringatan dalam Al-Qur’an:

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

 

“Wahai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sebab sesungguhnya sebagian dari prasangka itu ialah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dan janganlah kamu menggunjing (ghibah) sebagian yg lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yg telah mati? Maka telah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh sebab itu, jauhilah larangan-larangan yg tersebut) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayg.” (QS Al-Hujurat: Ayat 12)

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yg bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ayat ini (QS al-Hujurat: 12) turun berkenaan dgn peristiwa salah seorang sahabat Rasul saw yg bernama Salman al-Farisi yg bila selesai makan, suka terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yg menggunjing perbuatannya. Maka turunlah QS al-Hujurat ayat 12 yg melarang seseorang mengumpat dan menceritakan aib orang lain.

 

Selaras dgn larangan Allah swt tersebut, Rasulullah saw juga melarang mengumbar aib orang lain. Sebagaimana sabdanya:

 

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا

 

“Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu ialah ungkapan yg paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yg bersaudara” (HR al-Bukhari).

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata aib itu memiliki arti malu, cela, noda, salah ataupun keliru. Menurut al-Fairuz Abadzi dalam Al-Qamus al-Muhith, secara bahasa, aib (العيب) bermakna cacat atau kekurangan. Bentuk jamaknya ialah uyub. Adapun sesuatu yg memiliki aib, dalam bahasa Arab disebut ma’ib. Sementara itu dalam kitab ­ad-Dur al-Mukhtar, Al-Hasfaki menyampaikan bahwa sebagian ulama mazhab Hanafi menjelaskan aib dgn pengertian:

 

مَا يَخْلُو عَنْهُ أَصْل الْفِطْرَةِ السَّلِيمَةِ مِمَّا يُعَدُّ بِهِ نَاقِصًا

 

“Suatu bagian yg tak ada dari asal penciptaannya dan hal itu dianggap sebagai bentuk kekurangan”.

 

Secara psikologis, bila kita mendengar suatu informasi dari orang lain lalu menjadikan hati kita merasa tak enak, maka hal ini dapat disebut aib. Aib dapat berupa peristiwa, keadaan, atau suatu penjelasan. Seringkali aib sendiri maupun orang lain diumbar secara sadar/tidak sadar kita sebarkan ke orang lain, bahkan diviralkan ke media massa atau media sosial. Aib merupakan sesuatu yg digambarkan buruk, tak terpuji, dan negatif. Aib ialah suatu cela atau kondisi yg tak baik tentang seseorang bila diketahui oleh orang lain mau membuat rasa malu yg membawa kepada efek psikologi yg negatif. Korban mau merasa terzalimi, disudutkan, dan bahkan dilemahkan jatidirinya.

 

Aib terbagi menjadi dua, yaitu aib khalqiyah yg bersifat kodrati dan Aib khuluqiyah yg berkenaan dgn perilaku. Aib khalqiyah merupakan aib sebab terdapat cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yg membuatnya malu bila diketahui oleh orang lain, sedangkan yg kedua yaitu aib khuluqiyah yg bersifat fi’li (perilaku) merupakan aib dari perbuatan maksiat, baik yg dilakukan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Rasulullah bersabda:

 

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

 

“Barang siapa menutupi aib seorang, Allah mau menutupi aibnya di dunia dan akhirat” (HR Muslim).

 

Menutup aib orang lain tak hanya memiliki keutamaan mau menutup aib kita di dunia dan akhirat, tapi juga seperti menghidupkan bayi yg dikubur hidup-hidup. Hal ini sebagaimana yg disinyalir oleh hadits Nabi saw yg berbunyi: “Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yg dikubur hidup-hidup” (HR Abu Daud).

 

Untuk itu, mari kita jauhi ghibah, dusta, prasangka, dan mencari-cari kesalahan orang lain serta menyebarluaskan aib sesama. Jagalah aib orang lain sebagaimana kita menjaga aib pribadi. Dan mari kita amalkan doa yg biasa dibaca Rasulullah pada pagi dan petang, sebagaimana yg diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra:

 

اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِينِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِيْ

 

“Yaa Allah sesungguhnya aku meminta kepada Mu ‘Afiyah di dunia dan akhirat. Yaa Allah aku memohon kepada Mu ‘‘Afwaa dan ‘Afiyah pada urusan agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Yaa Allah tutupi auratku (aib-aibku)”

 

Demikian khutbah yg singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Rakimin Al-Jawiy, Dosen Psikologi Islam Unusia & UIN Jakarta


Baca juga naskah khutbah Jumat lainnya:






Membahas tentang Imam Malik bin Anas: Pendiri Mazhab Maliki, Ulama Perekat Umat

Berbicara fiqih dan hadits tak dapat lepas dari sosok Imam Malik yg merupakan anak zaman keemasan Islam. Iklim intelektual di masa Dinasti Abbasiyah banyak melahirkan ulama-ulama kenamaan dalam berbagai bidang tak terkecuali ilmu fiqih. Salah satu tokoh yg menonjol ialah pendiri mazhab Maliki ini.

Tariq Suwaidan dalam Biografi Imam Malik (2012) menyebutkan bahwa nenek moyg Imam Malik berasal dari suku Arab Yaman. Kemudian, kakeknya berhijrah ke Madinah dan menikah dgn seorang perempuan dari Taimiyyin. Pendiri mazhab Maliki ini memiliki nama lengkap Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amr bin al-Harrits. Ia lahir pada tahun 93 Hijriyah di Madinah Al-Munawwaroh. Paman Imam Malik yg bernama Abu Suhail menjelaskan, silsilah keluarga Malik dari Dzi Ashbah. Nasabnya berpangkal dari Ya’rub bin Yasjub bin Qaththan al-Ashbahi.

Anas bin Malik (ayah Imam Malik) yg dimaksud di sini bukan Anas bin Malik sahabat Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahnya merupakan pekerja keras dan mandiri. Keulamaan Anas bin Malik tak menghalanginya buat bekerja sebagai pembuat anak panah. Ia dikenal sebagai ulama yg ahli dalam bidang hadits dan fiqih. Walaupun Ayah Imam Malik memiliki cacat fisik, tapi ia mengajarkan kepada anak-anaknya buat hidup mandiri tanpa bergantung kepada siapa pun, termasuk kepada pemerintah (Suwaidan, 2012: 32-34).

Keluarga Para Periwayat Hadits

Imam Malik tumbuh dalam iklim keilmuan dan periwayatan hadits yg berkembang pesat di Madinah. Setelah merampungkan hafalan Al-Qur’an di usia belia, Malik mulai menghafal hadits. Di kota Nabi itu ia memperoleh segala hal yg mendukung buat menghafal hadits. Imam Malik sangat termotivasi dgn kegigihan ayahnya dalam menuntut ilmu. Kesungguhan sang ayah ternyata berpengaruh besar kepada dirinya, sehingga Imam Malik menjadi seorang imam besar.

Imam Malik memiliki tiga orang paman yg terhormat dan terpandang. Mereka ialah Uwais, Nafi’ dan Rubayyi’. Selain Anas, ayah Imam Malik, mereka ialah para periwayat hadits yg meriwayatkan dari bapak mereka sendiri, yakni Malik Abu Anas. Kakek Imam Malik ialah Malik bin ‘Amr yg menjadi sumber hadits buat anak-anaknya sendiri. Kakek Imam Malik termasuk tokoh dan ulama dari kalangan Tabi’in. Abu Anas biasanya meriwayatkan hadits dari Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, dan Aisyah Ummul Mukminin (Suwaidan, 2012: 35-36).

Karena itu, supaya menjadi seorang alim, tumbuh di tengah keluarga yg berilmu saja tak cukup. Betapa banyak orang yg terkenal dgn keilmuannya, tetapi anak-anaknya tak berilmu sama sekali, hidup dalam kemewahan dan kelalain. Sebaliknya, tak sedikit ulama hebat dan terkemuka lahir dari keluarga yg jauh dari iklim keilmuan.

Ulama Pendorong Reformasi dan Perdamaian

Saat peralihan kekuasaan dari dinasti Muawiyah ke dinasti Abbasiyah, kekacauan merajalela. Bahkan, kota Madinah diserang, dan banyak anak-anak kaum Muhajirin dan Anshar yg dibunuh. Pada masa Abu Ja’far al-Manshur keadaan mulai kondusif. Sang maestro penulis kitab al-Muwaththa’ ini hidup pada masa dua dinasti, yaitu Umayyah dan Abbasiyah. Ia juga turut menjadi saksi sejarah berbagai peristiwa dan konflik yg terjadi di masa keduanya. Makanya, ia senantiasa mendorong reformasi dalam berbagai bidang, terutama setelah keadaan damai.

Imam Malik lahir pada dinasti Bani Umayyah, tepatnya masa kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik di tahun 93 H/ 712 M. Banyak tragedi yg disaksikan langsung oleh pendiri mazhab Maliki tersebut. Sang Imam Madinah sempat menjadi saksi sejarah perpecahan umat Islam dampak dari perserteruan antara Sayyidina Ali dan Muawiyah. Ia juga menyaksikan pemberontakan yg dilakukan golongan Khawarij. Situasi itu yg membentuk pemikiran Imam Malik. Menurutnya, stabilitias kondisi masyarakat pasti berbuah kebaikan para penguasanya. Sebab itu, memperbaiki kondisi dan keadaan rakyat menjadi niscaya dan pangkal dalam sebuah negara.

Pada masa awal Islam, ilmu hanya didapat dgn cara mendengar. Ilmu-ilmu tersebut belum ada yg ditulis dalam satu buku, kecuali sedikit saja. Pada akhir masa dinasti Umayyah, beberapa ulama terdorong menuliskan ilmu di tengah kecamuk yg berlangsung. Masa dinasti Abbasiyah, fenomena kodifikasi keilmuan ini semakin semarak, khususnya di bidang hadits. Para ulama mempelajari hadits secara sistematis dan dari sudut pandang fiqih sehingga ilmu fiqih dan lainnya semakin luas (Suwaidan, 2012: 21).

Di masa itu, para ulama mulai menuliskan hadits dan masalah-masalah fiqih. Ulama fiqih Hijaz (Madinah) menghimpun fatwa-fatwa Abdullah bin Umar, Aisyah, Ibnu Abbas dan pembesar tabi’in yg menetap di Madinah. Sementara ulama fiqih Irak menghimpun fatwa-fatwa Abdullah bin Mas’ud, hukum-hukum hasil putusan peradilan, fatwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, putusan-putusan hukum syariah dan hakim-hakim kufah lainnya.

Di masa Imam Malik hidup tumbuh subur segala macam aliran dan pemikiran tentang kalam dan filsafat. Sebagian aliran dan pemikiran yg berkembang meresahkan masyarakat awam. Mereka mengusung pendapat dan menyebarkan pemikiran yg kontroversial. Ada pula kelompok zindiq yg menyimpang dari kemurnian Islam. Sang Imam tahu betul rentetan peristiwa masa itu dan dampak negatif bagi umat Islam. Karena itu, ia tak membolehkan seorang pun mendiskusikan masalah aqidah di majelisnya atau di hadapannya.

Di tengah kecamuk perpecahan umat Islam, Imam Malik memilih buat “berdiam”. Maksudnya, ia tak mau ikut serta dalam mendukung salah satu pihak dgn mengeluarkan fatwa sebagai legitimasi salah satu kelompok tersebut. Bagi Imam Malik, fatwa ialah agama. Sebab itu, ia tak mau berfatwa dgn satu hal yg bertentangan dgn syariat Allah.

Imam Malik sangat menjaga persatuan dan ketentraman umat. Pada masa ini sering diadakan perdebatan dan dialog keilmuan. Para ulama saling bertemu buat berdebat dan berdialog. Debat fiqih menjadi semarak pada musim haji. Abu Hanifah, misalnya, selalu berdialog tentang masalah fiqih dgn Imam Malik. Alhasil, fiqih menjadi lebih subur dan lebih produktif dibanding ilmu lainnya. Imam Malik lebih memilih menghindari perdebatan ilmiah yg terselip motif saling mengalahkan dan menyalahkan salah satu pihak. Ia menganggap debat agama bila tak mencari kebenaran dan kemaslahatan bersama tak mendatangkan manfaat apa-apa, bahkan justru dapat merusak agama dan kejernihan hati.

Ahmad Suhendra, alumni Pondok Pesantren Al-Kamiliyyah & Pondok Pesantren Ali Maksum serta Kontributor NU Online Tangerang





Membahas tentang Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU

Nahdlatul Ulama mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? Apakah sebab ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yg ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat?
Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fiqih dan berfatwa berdasarkan mazhab fiqih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.
Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Junaid ialah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa.
Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam.
ومالك وسائر الأئمة وكذا أبو القاسم هداة الأمة
Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim ialah pembimbing umat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).
Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf sebab kapasitas ilmu dan amalnya.
ويجب على من ذكر أن يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين
Artinya, “Ulama yg disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7).
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman.
وقوله كذا أبو القاسم كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم أيضا هداة الأمة لكان أوضح 
Artinya, “Perihal perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ ialah khabar muqaddam atau predikat yg didahulukan. ‘Abul Qasim’ ialah mubtada muakhkhar atau subjek yg diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yg telah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan ialah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).
Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih (lahiriyah) dan aspek tasawuf (batiniyah) di ketika kedua aspek ini bersitegang dan tak berada pada titik temu yg harmonis di zamannya.
Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yg sangat ekstrem, yg faqih dan yg sufi. Banyak ulama mengambil aspek fiqih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat.
Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. Ia juga seorang mufti yg mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yg mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini.
وكان الجنيد رضي الله عنه على مذهب أبي ثور صاحب الإمام الشافعي فإنه كان مجتهدا اجتهادا مطلقا كالإمام أحمد ومن كلام الجنيد الطريق إلى الله مسدود على خلقه إلا على المقتفين آثار الرسول صلى الله عليه وسلم ومن كلامه أيضا لو أقبل صادق على الله ألف ألف سنة ثم أعرض عنه لحظة كان ما فاته أكثر مما ناله ومن كلامه أيضا إن بدت ذرة من عين الكرم والجود ألحقت المسيئ بالمحسن
Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid ialah, ‘Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yg mengikuti jejak Rasulullah SAW,’ ‘Kalau ada seorang dgn keimanan sejati yg beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yg luput baginya lebih banyak ketimbang apa yg didapatkannya,’ dan ‘Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dgn orang baik,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89-90).
Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yg diambil oleh Junaid Al-Baghdadi sebab banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yg tak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf sebab tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW.
وقوله هداة الأمة أي هداة هذه الأمة التي هي خير الأمم بشهادة قوله تعالى كنتم خير أمة أخرجت للناس فهم خيار الخيار لكن بعد من ذكر من الصحابة ومن معهم والحاصل أن الإمام مالكا ونحوه هذاة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول أي العقائد الدينية والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله عنا خيرا ونفعنا بهم 
Artinya, “Perkataan ‘pembimbing umat’ maksudnya ialah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Kalian ialah sebaik-baik umat yg hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu ialah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih. Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya ialah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 90).
Imam Junaid juga menyaygkan sikap naif sebagian kelompok sufi yg mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dgn mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yg runtuh seperti kota mati tanpa bangunan.
وكان رضي الله عنه يقول إذا رأيت الصوفي يعبأ بظاهره فاعلم أنه باطنه خراب
Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, ‘Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85).
Sebaliknya, ia juga menyaygkan sekelompok umat Islam yg hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dgn mengabaikan sisi batiniyah yg merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah.
Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi ialah ulama abad ke-3 H yg mempertemukan fiqih dan tasawuf di ketika keduanya tak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dgn pandangan NU yg tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dgn gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dgn nilai-nilai tasawuf sehingga tak ada penolakan terhadap salah satunya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)





Membahas tentang Menyikapi Kontak Erat & Isoman ketika Pandemi Covid-19

Banyak orang yg merasa takut dan khawatir setelah mendengar orang terdekatnya terpapar pandemi Covid-19. Apalagi bila dia termasuk orang yg kontak erat dgn kawan atau keluarga dekatnya yg dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

Bukan saja sebab khawatir terhadap dirinya sendiri, tetapi juga khawatir sebab mungkin telah berinteraksi dgn orang lain lagi di sekitarnya. Padahal, umumnya orang mengalami kontak erat tanpa kesengajaan sebab sangat sulit buat menghindari paparan pandemi.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan sebab Covid-19 memang terbukti menular dgn cepat dewasa ini. Bukti-bukti ilmiah dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemungkinan orang yg kontak erat terpapar dari orang yg dinyatakan positif Covid-19 tetap ada. Namun, tak semua orang yg kontak erat juga positif setelah dites dgn metode yg tersedia.

Kenyataan yg terjadi di lapangan menunjukkan bahwa fenomena kontak erat memerlukan kewaspadaan dan kesadaran diri. Kewaspadaan berbeda dgn kekhawatiran dan ketakutan yg berlebihan. Orang yg waspada dapat mengendalikan diri dgn penuh kesadaran tanpa rasa khawatir dan tanpa takut yg berlebihan.

Kesadaran buat mengikuti prosedur lanjutan apabila dinyatakan termasuk kontak erat membutuhkan rasa kepedulian dan empati terhadap sesama. Orang yg dikategorikan kontak erat berarti mengetahui bahwa orang yg semula dekat dgnnya kini sedang sakit. Selain itu, dia sendiri harus waspada supaya kesehatannya tetap terjaga dan aman bagi orang lain.

Banyak orang yg mempertanyakan, mengapa harus isolasi mandiri padahal hasil tes negatif? Sedangkan negara lain ada yg telah tak ada memberlakukan pembatasan bagi orang yg termasuk kontak erat dgn keharusan isolasi mandiri. Dalam situasi seperti ini, Indonesia termasuk negara yg menerapkan prinsip kehati-hatian sehingga aturan yg diberlakukan masih menganjurkan isolasi mandiri bagi orang yg kontak erat.

Daripada menggerutu sebab disarankan melakukan isolasi mandiri, lebih baik diniatkan buat mengikuti amalan saleh seorang tabi’in yg bernama Mutharrif. Dalam kitab Ma Rawahu al-Waun fi Akhbar ath-Thaun, Imam as-Suyuthi menuliskan:

“Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ghailan bin Jarir, dia berkata, ketika Mutharrif terjangkit thaun, dia melakukan isolasi mandiri” (Kitab Ma Rawahu al-Waun fi Akhbar ath-Thaun karya Imam Suyuthi, Penerbit Darul Qalam, Damaskus tanpa tahun: halaman 170)

Tabi’in yg bernama Mutharrif tersebut memilih buat melakukan isolasi mandiri ketika ada pandemi thaun, meskipun Beliau tak terpapar. Oleh sebab itu, seorang muslim yg dianjurkan melakukan isolasi mandiri meskipun hanya termasuk kategori kontak erat dan tak terpapar pandemi dapat berniat mengambil teladan dari tabi’in ini.

Apabila orang yg termasuk kontak erat dinyatakan negatif terhadap hasil tes, maka dia patut bersyukur. Namun, dia tetap harus mengamati kondisi kesehatan tubuhnya sebagai bentuk kewaspadaan. Masa inkubasi virus yg berkisar 2-3 hari setelah paparan tak mau menampakkan gejala, tetapi setelah 5 hari biasanya mau muncul gejala. Pada masa-masa inilah seseorang diharapkan buat melaksanakan isolasi secara mandiri dan menerapkan protokol kesehatan.

Bila setelah 5 hari tak ada gejala penyakit atau bahkan dinyatakan negatif dgn tes ulang, maka dia dapat beraktivitas kembali dgn tetap menjaga protokol kesehatan. Kesyukuran mendapatkan nikmat kesehatan perlu dipertahankan selalu. Aktivitas rutin yg mungkin sempat terhenti sebab menjalani isolasi mandiri kini dapat dilanjutkan seperti biasa.

Apabila hasil tes orang yg termasuk kontak erat dinyatakan positif, maka dia perlu bersabar. Dia perlu tetap berprasangka baik terhadap Allah SWT dan juga tak menyalahkan orang yg menjadi sumber kontak eratnya. Selanjutnya, tentu dia perlu memperhatikan gejala yg mungkin muncul. Apabila tak ada gejala yg timbul tentu perlu bersyukur, sedangkan bila bergejala perlu berikhtiar buat mendapatkan pengobatan.

Bagaimana dgn orang yg menjadi sumber kontak erat yg telah jelas positif berdasarkan hasil tes Covid-19? Seringkali orang ini merasa sangat bersalah apabila ada orang di sekitarnya yg kontak erat ternyata juga terpapar pandemi. Perasaan bersalah ini sangat manusiawi, tetapi tak boleh membuat dirinya tertekan. Semua yg telah terjadi perlu disadari sebagai bagian takdir dari Allah SWT.

Seringkali orang yg menjadi sumber kontak erat tak menyadari bahwa dirinya terinfeksi Covid-19. Sangat mungkin tak ada gejala yg muncul pada orang tersebut atau hanya mengalami gejala ringan seperti penyakit flu biasa. Dalam keadaan tak tahu tersebut, dia beraktivitas dan berinteraksi dgn orang lain sehingga ketika dinyatakan terinfeksi, orang di sekitarnya menjadi yg termasuk kontak erat.

Pasien sumber kontak erat perlu isoman dan menjalani pengobatan. Ketika dinyatakan sakit dgn ataupun tanpa gejala disertai hasil tes yg positif Covid-19, seseorang yg menjadi sumber kontak erat juga perlu memperbanyak doa. Doa buat dirinya supaya segera diberi kesehatan dan doa kebaikan buat orang lain yg termasuk kontak erat dgn dirinya. Disertai dgn permohonan maaf, dia dapat menyampaikan doa-doa kebaikan yg banyak buat orang-orang di sekitarnya.

Orang-orang yg termasuk kontak erat juga perlu merespon dgn bijak permohonan maaf dari orang yg menjadi sumber awal kontak erat. Selain tak menyalahkannya, respon positif dan dukungan perlu diberikan buat orang yg menjadi sumber kontak erat ini sebab umumnya dialah yg jelas mengalami sakit.

Orang yg sakit doanya didengar Allah SWT dan dianggap seperti doanya malaikat. Maka orang yg menjadi sumber awal kontak erat ini sangat perlu dimintai doa yg baik.

Dalam kitab Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menyampaikan sebuah hadits tentang anjuran minta doa kepada orang yg sakit:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Umar radiyallahu ‘anh, bila engkau menemui orang yg sakit maka mintalah kepadanya supaya berdoa buatmu sebab doa orang sakit itu sama dgn doa para malaikat.” (Al-Hafidz Adz-Dzahabi,Thibbun Nabawi, Beirut, Dar Ihyaul Ulum, 1990: halaman 291)

Dalam konteks ketika ini, menemui orang yg sakit tak harus kontak langsung tetapi dapat melalui media yg ada. Orang sakit yg sedang isoman sebab Covid-19 tak dapat ditemui secara langsung.

Sikap yg selayaknya diterapkan dari fenomena kontak erat ini ialah tak saling menyalahkan orang lain. Hal ini membutuhkan keikhlasan dan rasa empati disertai dgn kesadaran diri buat bertanggungjawab terhadap kesehatan pribadi. Apabila hal-hal positif ini dimunculkan, maka mau menumbuhkan kemauan buat saling menjaga dan mendoakan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Ustadz Yuhansyah Nurfauzi





Membahas tentang Pentingnya Karomah Para Wali

Kisah-kisah karomah atau keistimewaan lebih banyak terdapat pada para wali setelah masa sahabat Nabi. Dengan kata lain, lebih banyak cerita karomahnya para wali ketimbang sahabat.

Habib Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad, tak perlu yg namanya karomah itu. Karena keimanan mereka langsung diterima oleh Rasulullah. Dengan kata lain, tak membutuhkan penguat lainnya berupa karomah itu.

Mendekati keimanan para sahabat ialah golongan tabi’in yg hidup menjumpai para sahabat. Jaminan keimanan mereka langsung diketahui dari para sahabat Nabi. Walaupun mereka tak melihat Rasulullah, mereka telah bercermin kepada para sahabat Nabi.

Mereka menyadari kedudukan para sahabat yg hebat dan luar biasa, apalagi Rasulullah, tida dapat diukur. Maka buat meyakini dan beriman, tak perlu adanya karomah. Tetapi setelah era tabi’in, karomah yg datang dari Allah itu perlu.

Perlu adanya karomah macam karomahnya Syekh Abdul Qadir Jailani dan wali-wali lainnya. Munculnya karomah di tangan ulama-ulama besar seperti Syekh Abdul Qadir Jailani buat mengangkat kepercayaan masyarakat umum supaya lebih tebal terhadap mukjizat Nabi Muhammad.

Menurut Habib Luthfi, tujuan dari karomah-karomah ulama-ulama dan para wali ialah buat menunjukkah mukjizat para Nabi terdahulu. Karomah-karomah itu membawa, menolong, dan menguatkan keyakinan orang-orang awam. Keyakinan orang awam dan kepercayaannya terhadap Al-Qur’an serta yg terkandung di dalamnya mau semakin tebal.

Karomah yg dimiliki oleh wali itu tak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab telah bersepakat mengenai karomah yg ada para wali ketika hidup maupun telah wafat.

Wali menurut KH Sholeh Darat As-Samarani (guru KH Hasyim Asy’ari) ialah seorang ‘arif billah (mengetahui Allah) sekedar derajat dgn menjalankan secara sungguh-sungguh taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiatan berbarengan dgn selalu bertaubat kepada Allah. Sebab wali itu belum kategori ma’shumin (terjaga) seperti Nabi.

Maka wali belum dapat meninggalkan maksiat secara penuh. Makanya mereka disebut waliyullah. Keberadaan wali yg sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam hidupnya. Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dgn takdir Allah saja. Itulah definisi sederhana mengenai wali menurut Mbah Sholeh Darat.

Adapun karomah menurut Mbah Sholeh Darat sesuatu yg nulayani adat (berbeda dari sewajarnya) bila dilihat secara kasat mata. Mereka yg mendapat karomah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dgn bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya.

Karomah yg dimiliki oleh wali itu tak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut ahlussunnah wal jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab telah bersepakat mengenai karomah yg ada para wali ketika hidup maupun telah wafat. (Fathoni)





Membahas tentang Doa ketika Mendapat Pekerja Rumah Tangga Baru

Sebagian masyarakat (kelas menengah ke atas) menggunakan jasa pekerja rumah tangga (PRT) baik laki-laki maupun perempuan. Tidak mudah mencari jasa PRT sebab hal ini berkaitan dgn integritas dan segala macamnya selain kemampuan dasarnya.

Sayyid Muhammad Az-Zabidi dalam Kitab Ithafus Sadatil Muttaqin (Syarah Ihya Ulumiddin) mengatakan, Imam Al-Ghazali mengutip doa yg dianjurkan buat dibaca ketika kita menemukan pelayan yg dapat membantu pekerjaan rumah kita.

Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Amr bin Syu’aib. Riwayat tersebut telah diverifikasi oleh Al-Iraqi. (Az-Zabidi, Ithaf, [Beirut, Muassasatut Tarikh Al-Arabi: 1994 M/1414 H], juz V, halaman 113).

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا جُبِلَ عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا جُبِلَ عَلَيْهِ

Allâhumma innî as’aluka khairahû wa khaira mâ jubila alaih. Wa a‘ûdzubika min syarrihî wa syarri mâ jubila alaih.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon kebaikannya (PRT ini) dan kebaikan sifat yg diciptakan padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya (PRT ini) dan keburukan sifat yg diciptakan padanya.”

Kita berharap supaya PRT baru tersebut dapat bekerja secara profesional dan memiliki integritas sesuai harapan sehingga tak mendatangkan mudharat bagi kita dan bagi dirinya. (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz I, halaman 412). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)





Membahas tentang Mengenal Akhlak dalam Islam, Beserta Contohnya

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentang Mengenal Akhlak dalam Islam, Beserta Contohnya,

Kata akhlak dalam bahasa Arab merupakan jamak dari kata khuluqun yg memiliki tiga arti. Apa saja?

Pertama, tabiat berarti sifat yg telah terbentuk dalam diri manusia tanpa dikehendaki. Kedua adat, yaitu sifat dalam diri manusia yg membutuhkan latihan. Ketiga watak meliputi hal yg menjadi tabiat dan sesuatu yg diusahakan menjadi kebiasaan.

Sementara dalam kamus besar bahasa Indonesia, akhlak memiliki arti budi pekerti; kelakuan.

Melalui Nabi Muhammad ﷺ, agama Islam telah mengajarkan adab atau akhlak kepada umatnya buat segala bidang kehidupan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: Sesungguhnya aku diutus hanya buat menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Nabi Muhammad ﷺ sebagai sosok yg sempurna, semestinya kita idolakan dan menerapkan kebaikan yg telah diajarkannya.

Dalam Islam, ada dua macam akhlak yg hendaknya kita ketahui, yaitu akhlakul mahmudah dan akhlakul mazmumah.

1. Akhlakul Mahmudah

Akhlakul mahmudah atau disebut dgn akhlak yg terpuji merupakan salah satu macam akhlak yg harusnya dimiliki umat muslim.

Akhlakul Mahmudah terbagi menjadi tiga, yakni;

  1. Akhlah kepada Allah SWT seperti beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, sabar, tawakal, bersyukur dan lainnya.
  2. Akhlak kepada manusia seperti berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada sesama, menjaga kebersihan, kesehatan dan lain-lain.
  3. Akhlak kepada alam seperti menjaga alam supaya tetap indah, sayg kepada semua makhluk, dan lain sebagainya.

2. Akhlakul Mazmumah

Akhlakul mazmumah atau disebut dgn akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yg harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi sebab dapat mendatangkan kemudharatan bagi setiap orang terutama diri sendiri.

Contoh dari akhlakul mazmumah yaitu bersikap kikir, sombong, takabur, syirik, mengambil hal orang lain dan masih banyak lagi lainnya.

Demikian akhlak dalam Islam beserta contoh yg semestinya diketahui oleh umat muslim. Semoga dgn mengetahuinya kita dapat mengamalkan apa yg telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

 

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentang Mengenal Akhlak dalam Islam, Beserta Contohnya . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Membahas tentang 4 Etika Pendakwah menurut KH Bisri Musthofa

Dalam sejarah perkembangan Islam, posisi dakwah dgn beragam metodenya menempati tempat yg sentral dan terpuji. Karena itu, posisi dai (pendakwah) juga penting sebab menjadi salah satu instrumen penentu dalam perkembangan Islam.

Seiring dgn waktu, aktivitas dakwah ternyata berkembang, hingga dalam batas tertentu, seakan mengabaikan norma dan etika. Kegelisahan ini pula yg menjadikan KH Bisri Musthofa menuliskan sebuah kitab kecil berjudul Zâduz Zu‘amâ’ wa Dakhîratul Khuthabâ’ (bekal para pemimpin dan pendakwah).

Kiai Bisri sebagai tokoh pesantren yg lihai dalam dakwah lisan dan tulisan meringkas etika dai menjadi empat:

  1. Lakukan apa yg disampaikan.

Dalam berdakwah yg mempunyai karakter mengajak, dai semestinya “turut serta” dan larut dalam ajakan kebaikan tersebut. Materi dalam dakwah yg berisi kebaikan, dan disampaikan kepada orang lain, semestinya menjadi bahan refleksi diri dan membetot kesadaran supaya dai-lah orang pertama yg seharusnya melakukan apa yg disampaikan. Hal ini, menurut Kiai Bisri mampu menimbulkan atsar (bekas) pada diri audiens, sehingga perkataan dai dapat didengar dan diikuti (hal. 12).

KH Bisri mengutip Surat al-Shaff ayat 3 buat menguatkan etika yg pertama. Allah berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya: “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah bila kamu mengatakan apa-apa yg tak kamu kerjakan.”

  1. Santun dan rendah hati.

Mempunyai perilaku yg bagus (sîrah ḫasanah) dan adab terpuji (adab mardliyyah), seperti tak sombong dan rendah hati terhadap sesama, ialah etika yg selaras dgn konsep dakwah dan kepemimpinan yg disampaikan Kiai Bisri dalam mukaddimah kitab ini. Berlaku santun (rifq), tak keras, dan tak mudah mengumpat dan mencaci ialah sikap yg semestinya ada dalam diri penyampai dakwah.

Perilaku yg bagus ini terasa penting supaya masyarakat tak menghina dai disebabkan sikap dan cara tutur yg kurang terpuji (hal. 12). KH Bisri menyitir Surat Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (sebab sombong) dan janganlah berjalan di bumi dgn angkuh. Sungguh, Allah tak menyukai orang-orang yg sombong dan membanggakan diri.

  1. Memiliki visi kemaslahatan audiens/pengikut (mashâliḫ mutbi‘în) dgn belas kasih dan penuh kerahmatan (al-ra’fah wa al-raḫmah).

Etika berdakwah ini semestinya memberikan peringatan kepada dakwah mau efek, baik sosial maupun lainnya, atas materi dakwah yg disampaikan. Oleh sebab itu, saran Kiai Bisri, penyampaian dan materi dakwah semestinya berisi dan disampaikan dgn penuh belas kasih dan keramahan (hal. 13). KH Bisri menyampaikan karakteristik Rasulullah yg tertuang dalam Surat al-Taubah ayat 128, Allah berfirman:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yg tak tahan melihat penderitaanmu, yg sangat mengmaukan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta penyantun dan penyayg terhadap orang-orang yg beriman.”

Karakter Rasulullah yg tertuang dalam ayat tersebut ialah bahwa Rasulullah bersifat empati terhadap umatnya. Selain itu, Rasulullah juga memiliki sikap yg penuh belas kasih dan penyayg dan mengmaukan kebaikan pada umatnya. Inilah esensi etika dai yg bervisi kemaslahatan, dan bila dikerjakan dgn baik, efektivitas dakwah lebih mudah diterima, dan perubahan sosial yg berdimensi kebaikan mau mudah direalisasikan.

  1. Pemaaf dan toleran.

Dai semestinya memiliki sikap kelapangan hati buat memafkan (baḫr al-‘afw) dan toleransi (al-samâah) serta perangai yg menyenangkan dan menggemberikan (hal.13). KH Bisri mengingatkan tentang respons Allah tentang sikap kelembutan Nabi Muhammad ketika berdakwah, dalam Surat Ali Imran 159, Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan buat mereka, dan bermusyawarahlah dgn mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yg bertawakal.”

Dalam ayat tersebut, kumulasi karakter dai yg terpuji terkumpul dalam pribadi Rasulullah dalam berdakwah. Sikap lemah lembut (layn dan rifq), tak keras dan kasar, berjiwa pemaaf, dan mengajak diskusi/berdialog dalam urusan tertentu, ialah sari pati etika dai yg dikontekstualkan kembali oleh Kiai Bisri Musthofa melalui karyanya, Zâduz Zua‘amâ wa Dakhiratul Khuthabâ’.

(Tulisan ini disarikan dari artikel berjudul “Dakwah Nusantara; Etika Dai dalam Zâd Al-Zu‘Amâ’ wa Dhakhîrat Al-Khuthabâ’ Karya KH Bisri Mustofa” yg telah dipresentasikan dalam Lokakarya Internasional dan Pelatihan Metodologi Penelitian Islam Nusantara, LTN NU Jawa Timur-Universitas Yudharta Pasuruan, 25-27 September 2019).

Mohamm Ikhwanuddin, Wakil Mudir Ma’had Aly An-Nur 1 Malang, dan
Darmawan, Dosen Senior UIN Sunan Ampel Surabaya.