Membahas tentang Doa Shalat Sunnah Tasbih

Doa merupakan ibadah yg mengiringi di hampir seluruh jenis ibadah lainnya. Apalagi dgn sembahyg. Hubungan keduanya sulit dipisahkan. Demikian juga dgn sembahyg tasâbih atau lebih lazim disebut shalat tasbih.

Berikut ini merupakan doa shalat tasbih. Selain membaca tasbih sebanyak 300 kali, kita juga dianjurkan membaca doa berikut ini.
 

اَللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ تَوْفِيْقَ أَهْلِ الْهُدَى وَأَعْمَالَ أَهْلِ الْيَقِينِ وَمُنَاصَحَةَ أَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ أَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ أَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ أَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ أَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى أَخَافَك

اَللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ مَخَافَةً تَحْجِزُنِيْ عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى أَعْمَلَ بِطَاعَتِكَ عَمَلًا أَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّى أُنَاصِحَكَ بِالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ حَتَّى أَخْلُصَ لَكَ النَّصِيحَةَ حَيَاءً مِنْكَ وَحَتَّى أَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَحَتَّى أَكُوْنَ أُحْسِنَ الظَنَّ بِكَ، سُبْحَانَ خَالِقِ النُّورِ. ا هـ وَفِي رِوَايَةٍ خَالِقِ النَّارِ
 

Allâhumma innî as’aluka taufîqa ahlil hudâ, wa a‘mâla ahlil yaqîn, wa munâshahata ahlit taubah, wa ‘azma ahlis shabri, wa wajala ahlil khasyyah, wa thalaba ahlir raghbah, wa ta‘abbuda ahlil wara‘i, wa ‘irfâna ahlil ‘ilmi hattâ akhâfak.

Allâhumma innî as’aluka makhâfatan tahjizunî ‘an ma‘âshîka hattâ a‘mala bi thâ‘atika ‘amalan astahiqqu bihî ridhâka wa hattâ unâshihaka bit taubah, khaufan minka hattâ akhlusha lakan nashîhata hayâ’an minka wa hattâ atawakkala ‘alaika fil ’umûri kullihâ wa hattâ akûna ’uhsinuz zhanna bika, subhâna khâliqin nûr (lain riwayat khâliqin nâr).

Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu aku meminta petunjuk mereka yg terima hidayah, amal-amal orang yg yakin, ketulusan mereka yg bertobat, keteguhan hati mereka yg bersabar, kekhawatiran mereka yg takut (kepada-Mu), doa mereka yg berharap, ibadah mereka yg wara’, dan kebijaksanaan mereka yg berilmu supaya aku menjadi takut kepada-Mu.

Ya Allah, masukkanlah rasa takut di kalbuku yg dapat menghalangi diri ini buat mendurhakai-Mu. Dengan demikian aku dapat beramal saleh yg mengantarkanku pada ridha-Mu, dan aku bertobat setulusnya sebab takut kepada-Mu. Dengan itu pula aku beribadah secara tulus sebab malu kepada-Mu. Dengan rasa takut itu aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Karena itu juga aku dapat berbaik sangka selalu kepada-Mu. Mahasuci Engkau Pencipta cahaya (lain riwayat, Pencipta api).”

Doa ini dikutip dari kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Menurutnya, doa ini dibaca setelah tasyahhud akhir, tetapi sebelum salam. Semoga Allah mengangkat derajat kita semua dan menempatkan kita di jalan yg Dia restui. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Membahas tentang Kisah Nabi Muhammad: Mengenang Wafatnya Rasulullah & Kesedihan Abu Bakar

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentang Kisah Nabi Muhammad: Mengenang Wafatnya Rasulullah & Kesedihan Abu Bakar,

Rasulullah ﷺ jatuh sakit sepulang dari haji Wada (haji perpisahan). Tepat, dua tahun terakhir di bulan Shafar atau menjelang hari-hari pertama memasuki bulan Rabi’ul Awal tahun 11 Hijriyah.

Seketika itu, Rasul meminta seorang budaknya yg bernama Abu Muwaihibah buat mengantarkan beliau ke pemakaman Baqi. Yakni pemakaman yg menyimpan jasad sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

Permintaan tersebut sebab beberapa waktu sebelumnya ia mendapatkan perintah dari Allah Swt supaya memintakan ampunan buat ahli kubur yg dimakamkan di pemakaman Baqi.

Sesampainya di situ, beliau berdiri di depan gerbang kuburan seraya berkata, “Salam sejahtera buat kalian semua, wahai penghuni kubur. Semoga apa yg kalian rasakan hari ini lebih baik ketimbang yg dirasakan oleh mereka yg masih hidup. Sebab, mereka mau selalu berhadapan dgn berbagai fitnah yg terus datang silih berganti, dan yg muncul belakangan lebih keji ketimbang sebelumnya.”

Tidak lama, Rasulullah ﷺ menghampiri Abu Muwaihibah dan bertanya, “Abu Muwaihibah, tahukah engkau, telah diberikan kepadaku kunci perbendaharaan dunia dan kekekalan di dalamnya, kemudian Allah juga memberikan kunci surga. Aku disuruh memilih semua itu atau kembali menemui Tuhanku dan surga?”

Abu Muwaihibah menjawab, “Demi ayah bundaku, ambillah kunci perbendaharaan dunia dan kekekalan di dalamnya, kemudian baru ke surga.”

Lalu, Rasul berkata, “Tidak, demi Allah, Abu Muwaihibah, aku telah memilih buat kembali menghadap Tuhanku dan surga.”

Setelah itu, Rasul memintakan ampunan buat ahli Baqi dan langsung beranjak meninggalkan pemakaman Baqi menuju kediaman istrinya, Aisyah.

Sekali pun sedang sakit, Rasulullah ﷺ tetap memenuhi kewajiban beliau sebagai suami dgn berkeliling ke rumah istri-istrinya. Sampai akhirnya rasa sakitnya tak tertahankan lagi. 

Saat itu, beliau tengah berada di kediaman Maimunah. Beliau memanggil semua istri dan meminta izin kepada mereka buat tinggal di tempat Aisyah selama beliau sakit.

Sakit yg dirasakan Rasul terus berlanjut dan lama, kurang lebih sampai 10 hari. Pada hari ke-10, Rasul meninggal dunia dipanggil Sang Khaliq. Beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal. Genap usia 63 tahun.

Sewaktu Rasul sakit parah, Aisyah tak hentinya selalu membaca doa al-Mu’awwidzatain (surah an-Nas, dan al-Falaq) dan doa-doa yg lain. Usai membaca doa itu, ia menarik napas, meniupkan ke tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh beliau. Tujuannya, mengarapkan barakah dari Allah Swt buat kesembuhan Rasulullah ﷺ.

Ada sebuah riwayat menuturkan, bahwa ketika suhu tubuhnya makin naik, Rasul meminta tujuh kantong geriba air buat diguyurkan ke tubuh beliau. Setelah itu, beliau keluar dari kediaman Aisyah dan menemui kaum Muslimin. Beliau menyampaikan wasiat kepada mereka dan mengiyakannya sembari tubuhnya sempoyongan, “Berhati-hatilah kalian, berhati-hatilah kalian.”

Kepala beliau dibalut dgn sorban, kemudian melangkah memasuki masjid dan naik ke atas mimbar. Di atas mimbar, beliau sembari duduk dan sesaat kemudian berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ia berkata, “Semoga Allah menjatuhkan kutukannya terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani sebab mereka menjadikan kubur Nabi-nabi mereka sebagai masjid dan tempat ibadah.”

Imbuh, riwayat lain juga mengatakan, ketika Rasul sakit, Rasulullah mempersilakan orang buat membalas apa pun yg pernah beliau lakukan. Beliau berkata, “Barangsiapa pernah kucambuk punggungnya, maka inilah punggungku.”

Setelah itu, Rasulullah turun dari mimbar dan melakukan salat Zuhur. Usai itu, beliau kembali ke mimbar buat melanjutkan ucapan beliau tentang masalah hak-hak seorang muslim dan sebagainya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiri dan berkata, “Uangku ada pada anda sebanyak  tiga dirham.”

Rasulullah mengembalikan uang tersebut dan berkata kepada seorang sahabat, “Berikan kepadanya.”

Seorang lain menyatakan bahwa uangnya ada pada Rasulullah. Yang ini lebih dari 3 dirham. Sekali pun begitu, beliau tetap mengembalikannya dan berkata, “Ambillah olehmu.”

Setelah itu, Rasulullah berwasiat supaya berbuat baik kepada masyarakat Anshar. Beliau berkata, “Aku berwasiat kepada kalian tentang masyarakat Anshar, sebab mereka ialah keluargaku  dan menyimpan seluruh rahasia hidupku. Mereka telah mengorbankan semua yg ada pada diri mereka sehingga harta yg tersisa hanyalah apa yg ada pada mereka. Maka, terimalah orang-orang baik di antara mereka dan lupakanlah orang-orang jahat dari mereka.”

Riwayat lain juga mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang bertambah banyak, tetapi masyarakat Anshar mau semakin sedikit, sampai-sampai mereka seperti garam di dalam makanan. Barangsiapa di antara kalian memegang suatu perkara yg berbahaya atau bermanfaat bagi seseorang, hendaknya mereka menerima orang-orang yg berbuat baik di antara mereka dan menjauhi orang-orang yg berbuat buruk di antara mereka.”

Mengakhiri khutbahnya, Rasul bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diperintahkan Allah buat memilih antara dunia dgn apa yg ada di sisi Allah. Maka, ia memilih apa yg ada di sisi Allah.”

Seketika, Abu Bakar langsung terkejut dan menangis. Ia paham bahwa yg diperintahkan Rasul ialah dirinya sendiri. Sebab, Abu Bakar ialah orang yg lebih mengetahui hal tersebut dibandingkan orang lain.

Mendengar tangisan itu, Rasul berkata kepadanya, “Jangan menangis, Abu Bakar. Sesungguhnya orang yg paling terpercaya bagiku, baik buat dijadikan sahabat atau pun menitipkan harta ialah Abu Bakar. Seandainya aku diperbolehkan buat mengambil kekasih selain Tuhanku, aku mau mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku, Akan tetapi, cukuplah persaudaraan dalam Islam dan cinta kasihnya. Jangan biarkan satu pintu pun di masjid kalian melainkan harus kalian tutup, kecuali pintu (rumah) Abu Bakar).”

Saat sakit yg dideritanya semakin parah. Ajal telah menghampiri beliau, tepatnya pada hari Kamis, empat hari sebelum malaikat maut menjemput, Rasul berkata kepada para sahabat yg menunggui beliau, di antaranya ada Umar bin Khathab, “Kemarilah kalian, aku mau menuliskan suruat buat kalian, di mana setelah surat itu ditulis, kalian tak mau tersesat.”

Sumber: Disarikan dari keterangan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentang Kisah Nabi Muhammad: Mengenang Wafatnya Rasulullah & Kesedihan Abu Bakar . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





PBNU: Ayo Sambut Hari Santri Nasional dgn satu Miliar Sholawat Nariyah!

Untuk menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU menyerukan pembacaan Shalawat Nariyah. Kegiatan ini dilakukan secara serentak pada Senin malam, 21 Oktober 2019.

Seperti dikutip dari akun Instagram resmi Nahdlatul Ulama, pembacaan shalawat Nariyah ditujukan buat mendoakan keselamatan bangsa. “Nanti malam secara serentak, santri di seluruh penjuru Indonesia, bahkan dunia, mau membaca sholawat Nariyah buat keselamatan bangsa,” bunyi keterangan di unggahan tersebut.

Pada unggahan yg lain, dijelaskan bahwa Shalawat Nariyah merupakan salah satu shalawat yg mustajab. Sebagaimana mengutip kitab Khozinatul Asror halaman 179:

Baca Juga:  Ketum PBNU: Selamat Tahun Baru Imlek 2020, Gong Xi Fa Cai

Salah satu shalawat yg mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yg disebut orang Maroko dgn Shalawat Nariyah sebab bila mereka (umat Islam) mengharapkan apa yg dicita-citakan, atau mau menolak yg tak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis buat membaca Shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yg dikehendaki dgn cepat (bi idznillah).”

Shalawat ini juga oleh para ahli yg tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yg mumpuni. Dan Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rezekinya tak mau putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

Baca Juga:  PBNU Ingatkan RUU Perlindungan Ulama Jangan Sampai Demi Kepentingan Politik Kelompok Tertentu

Hadits riwayat Ibnu Mundah dari Jabir mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca shalawal kepadaku 100 kali maka Allah mau mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia.

Dan hadits Rasulullah yg mengatakan: perbanyaklah shalawat kepadaku sebab dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan.

Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah yg dikutib juga dalam Khozinatul Asror. Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia mau menjawabnya sesuai jawaban yg terkait dari salam dan shalawat tadi.

Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal­-amal kalian disampaikan kepadaku, bila saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah.

Hadits riwayat al-Hafizh Ismail al­Qadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Nary. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma’ az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar ialah doa, dan doa buat umatnya pasti bermanfaat.

View this post on Instagram

Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yg mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yg disebut orang Maroko dgn Shalawat Nariyah sebab bila mereka (umat Islam) mengharapkan apa yg dicita-citakan, atau mau menolak yg tak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis buat membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yg dikehendaki dgn cepat (bi idznillah).” “Shalawat ini juga oleh para ahli yg tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yg mumpuni:. .. Dan Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tak mau putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.” Hadits riwayat Ibnu Mundah dari Jabir mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca shalawal kepadaku 100 kali maka Allah mau mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia… Dan hadits Rasulullah yg mengatakan; Perbanyaklah shahawat kepadaku sebab dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah yg dikutib juga dalam Khozinatul Asror. Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia mau menjawabnya sesuai jawaban yg terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal­amal kalian disampaikan kepadaku, bila saya tahu amal itu baik, aku memujii Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. Hadits riwayat al-Hafizh Ismail al­Qadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Nary. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma' az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar ialah doa, dan doa buat umatnya pasti bermanfaat. Yuk baca sholawat Nariyah. Follow: Instagram @nahdlatululama Twitter @nahdlatululama #NU #Kiai #Ulama #nahdlatululama #SholawatNariyah #IslamNusantara

A post shared by Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (@nahdlatululama) on





Membahas tentang Tradisi Jahiliyah yg Dihapus Setelah Islam Datang

Sebagai agama yg bijak, Islam tahu bagaimana cara menyikapi tradisi-tradisi yg telah bercokol pada zaman jahiliyah. Ada tradisi yg diadopsi sebab memiliki semangat yg sama dgn nilai-nilai Islam, ada yg dimodifikasi sebab beberapa isinya tak lagi relevan, dan ada pula yg dihapus sama sekali sebab dianggap bertentangan dgn syariat.

Contoh tradisi jahiliyah yg sama dgn nilai-nilai Islam ialah penghormatan terhadap empat bulan haram (asyhurul ḫurum). Sementara tradisi yg mengalami modifikasi seperti ibadah haji yg telah eksis sejak zaman jahiliah, tapi banyak praktik-praktik yg menyimpang. Sedangkan tradisi yg dihapus sama sekali seperti kebiasaan minum khamr dan bermain judi.

Pada pembahasan sebelumnya, penulis telah jelaskan dua model tradisi yg pertama. Pada kesempatan ini, mau dijelaskan model yg ketiga.

Meminum khamr

Dalam kehidupan bangsa Arab zaman jahiliyah, meminum khamr telah menjadi tradisi yg mengakar kuat. Sehingga meminumnya ialah hal wajar, apalagi banyak keuntungan yg diperoleh orang Arab dari minuman tersebut.

 

Menyadari hal itu, Islam tak sera merta melarangnya, tetapi dgn bertahap. Jika dilakukan sekaligus, khawatir mau mendapat penolakan, mengingat minuman ini telah menjadi bagian dari hidup mereka.

Berkaitan dgn hal ini, Imam Fakhruddin ar-Razi mengutip Al-Qaffal mengatakan,

والحكمة في وقوع التحريم على هذا الترتيب أن الله تعالى علم أن القوم قد كانوا ألفوا شرب الخمر ، وكان انتفاعهم بذلك كثيرا ، فعلم أنه لو منعهم دفعة واحدة لشق ذلك عليهم ، فلا جرم استعمل في التحريم هذا التدريج ، وهذا الرفق.

“Hikmah di balik pengharaman khamr secara bertahap ialah sebab tradisi meminum khamr bagi bangsa Arab ketika itu telah melekat kuat, di samping mereka juga merasakan banyak manfaat dari minuman tersebut. Sehingga bila khamr dilarang dgn seketika, jelas mau mempersulit umat. Maka diambillah metode bertahap (tadrîj) sebagai wuduj kasih sayg.” (Ar-Razi, Tafsîr Mafâtiḫul Ghaib, [Beirut: Darul Fikr, 1981], juz VI, h. 43)

Secara detail ar-Razi dalam tafsirnya memaparkan, proses pengharaman meminum khamr sampai menurunkan empat ayat Al-Qur’an. Pertama ialah surat An-Nahl ayat 67 berikut,

وَمِن ثَمَرَٰتِ ٱلنَّخِيلِ وَٱلۡأَعۡنَٰبِ تَتَّخِذُونَ مِنۡهُ سَكَرٗا وَرِزۡقًا حَسَنًاۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ  

Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yg memabukkan dan rezeki yg baik. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yg memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 67)

Ayat di atas memang menyinggung soal minuman khamr. Redaksinya jelas, minuman memabukkan terbuat dari perasan buah anggur atau kurma. Hanya saja, ketika itu belum diharamkan, sehingga umat Muslim masih mengonsumsinya sebagaimana telah menjadi tradisi.

Sampai kemudian datang Umar bin Khattab, Mu’adz bin Jabal, dan sekelompok sahabat yg mengeluh kepada Nabi Muhammad saw perihal efek negatif akibat mengkonsumsi khamr.

 

“Wahai Rasulullah, berikan kami fatwa tentang khamr. Minuman itu telah membuat akal menjadi terganggu dan harta tergerus,” kata mereka. Kemudian turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 219 berikut,

يَسْئَلُوْنَكَ نَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ  وَ يَسْئَلُوْنَكَ مَاذَا يُنفِقُونَۖ قُلِ ٱلۡعَفۡوَۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ  

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yg besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’. Dan mereka bertanya kepadamu apa yg mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan’. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Ayat ini belum menghukumi khamr sebagai minuman haram. Hanya saja, Allah swt memberi penjelasan bahwa selain khamr memiliki banyak manfaat seperti dapat diperjualbelikan buat memperoleh penghasilan, minuman ini juga memiliki dampak buruk yg lebih banyak dibanding manfaatnya. Secara logika, orang pasti mau cenderung memilih mana yg lebih maslahat, yaitu tak meminum khamr. 

Dengan kata lain, motif ayat tersebut ialah buat menggiring opini publik terhadap persepsi minuman khamr supaya lebih baik ditinggalkan. Dengan turunnya ayat ini, sebagian masyarakat mulai meninggalkan khamr. Sampai kemudian Abdurrahman bin Auf mengundang banyak orang buat meminum khamr hingga mabuk. Dalam keadaan masih mabuk, sebagian dari mereka melaksanakan shalat. Kebetulan yg dibaca ialah surat Al-Kafirun, tapi terjadi kesalahan dgn redaksi,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ  

Artinya: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku mau menyembah apa yg kamu sembah.” 

Semestinya ada la nafi (لا) sebelum kata أَعۡبُدُ sehingga artinya ‘tidak menyembah’, bukan ‘menyembah’. Jelas ini bukan persoalan sepele sebab mengubah ayat Al-Qur’an yg berbahaya secara akidah, yaitu mengakui sesembahan orang-orang kafir. Kemudian turunlah Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 43,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ 

Artinya: “Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk…” (QS. An-Nisa [4]: 43)

Setelah turun ayat tersebut, jumlah orang yg mengkonsumsi khamr sangat sedikit. Sampai kemudian sejumlah kaum Anshar berkumpul buat meminum khamr, ikut serta di dalamnya Sa’d bin Abi Waqash. Begitu telah mabuk, mereka tampak saling berbangga diri dan bersahut dgn syair (sesuatu yg lumrah di bangsa Arab ketika itu). Dalam keadaan masih mabuk, Sa’ad menggubah sebuah syair yg menyinggung kaum Anshar. 

Merasa tersinggung, salah seorang dari Anshar memukul Sa’d dgn tulang rahang unta sampai Sa’d terluka. Dari kejadian itu, Umar bin Khattab mengadu kepada Rasulullah dan memohon kepada Allah, “Ya Allah, berilah kami penjelasan yg memuaskan terkait khamr.” Lalu turunlah Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 90,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ  

Artinya: “Hai orang-orang yg beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban buat) berhala, mengundi nasib dgn panah, ialah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5]: 90) (ar-Razi, juz VI, h. 43)

Sejak ketika itulah khamr secara resmi diharamkan oleh Islam, tepatnya pada tahun tiga hijriah atau setelah peristiwa perah Uhud. Perang Uhud sendiri terjadi pada bulan Syawal tahun tiga hijriah. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’ânil ‘Adzîm, [Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2006], juz VIII, h. 156)

Bersamaan dgn pengharaman khamr pula, ayat di atas juga mengharamkan tradisi bangsa Arab lainnya, yaitu permainan judi yg dalam bahasa Arab disebutkan dgn kata al-maisir.

Melalui proses pengharaman minuman khamr di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam memberantas tradisi yg menyimpang dari syariat dan telah mengakar kuat di masyarakat, Islam tetap bermain bijak, tak gegabah. Ini menjadi metode dakwah yg sangat penting supaya Islam mudah diterima oleh lapisan masyarakat mana pun.

Muhamad Abror, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek-Cirebon dan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta

Membahas tentang Larangan Gampang Menuduh Munafik Orang Lain

Akhir-akhir ini kita sering mendengar umat Islam saling mencaci saudaranya. Bahkan tak jarang, mimbar-mimbar masjid digunakan sebagai lahan buat mengumbar ujaran kebencian seperti menuduh munafik kepada pihak tertentu. Apa definisi munafik?

 

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, munafik secara bahasa ialah bagian dari penipuan, berbuat licik, dan menunjukkan perbuatan yg berbeda dari yg sebenarnya. Sifat munafik terdiri dari dua jenis yaitu:

 

Pertama, munafik secara aqidah, yaitu seseorang yg menunjukkan bahwa ia termasuk golongan orang yg beriman padahal sebenarnya ia mengingkari seluruh ajaran Islam atau sebagian darinya. Sifat inilah yg mengarahkan seseorang kepada kekafiran, dan sifat munafik seperti inilah yg selalu dikecam oleh Al-Qur’an.

 

Kedua, munafik secara perbuatan, yaitu seseorang menunjukkan perilaku yg baik tetapi menyimpan sifat sebaliknya, semisal seorang Muslim yg sering berdusta, sering mengingkari janji, sering berkhianat, dan sejenisnya (Abdurrahman Ibnu Rajab al-Hanbali, Kitab Jami’ al-Ulum, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001, vol. 2, hal. 481).

 

Menurut ar-Razi, Al-Qur’an mengancam golongan yg memiliki sifat munafik secara akidah dgn siksaan yg sangat berat melebihi siksaan buat golongan orang-orang kafir. Hal ini disebabkan mereka menyimpan kekafiran di hati mereka serta melakukan perbuatan penghinaan kepada umat Islam dgn berpura-pura menjadi orang Islam. Menurut sejarah, orang-orang munafik seperti inilah yg terdapat di zaman Rasulullah Saw. Mereka menunjukkan keislaman secara lahiriah mau tetapi dibalik itu mereka bersekutu dgn orang-orang kafir dan menyebarkan berita dusta buat menghancurkan agama Islam. (Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1999, vol. 11 hal. 251).

 

 

Sedangkan di sisi lain, para ulama sepakat bahwa orang yg memiliki sifat munafik secara perbuatan tak termasuk dalam golongan orang munafik yg diancam dalam al-Qur’an.
 

وَفِي رِوَايَة : آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ) وَقَدْ أَجْمَع الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ مُصَدِّقًا بِقَلْبِهِ وَلِسَانه وَفَعَلَ هَذِهِ الْخِصَال لَا يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِكُفْرٍ، وَلَا هُوَ مُنَافِق يُخَلَّد فِي النَّار.فَاَلَّذِي قَالَهُ الْمُحَقِّقُونَ وَالْأَكْثَرُونَ وَهُوَ الصَّحِيح الْمُخْتَار : أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْخِصَال خِصَال نِفَاق، وَصَاحِبهَا شَبِيه بِالْمُنَافِقِ فِي هَذِهِ الْخِصَال، وَمُتَخَلِّق بِأَخْلَاقِهِمْ . فَإِنَّ النِّفَاق هُوَ إِظْهَار مَا يُبْطِن خِلَافه

“Dalam riwayat hadits (tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu ketika berbicara ia berbohong, ketika berjanji ia mengingkari, dan ketika ia diberi kepercayaan ia mengkhianati). Para ulama sepakat bahwa orang yg beriman sepenuhnya dgn hati dan lisannya, mau tetapi memiliki akhlak tercela sebagaimana dalam hadits di atas tak dapat dikategorikan kafir dan tak dapat juga dikategorikan golongan orang munafik yg diancam kekal di neraka. Maka pendapat yg diutarakan mayoritas ulama ahli tahqiq ialah hadits ini menyampaikan bahwa akhlak tercela tersebut ialah cerminan dari akhlak orang munafik. Seseorang yg memiliki akhlak tercela tersebut maka ia menyerupai akhlak orang munafik. Dan ia memiliki karakter sebagaimana karakter orang munafik. Karena pada dasarnya sifat munafik ialah menunjukkan hal yg tak sesuai dgn yg sebenarnya” (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 2010, vol. 2, hal. 42).

 

Oleh sebab itu, kita sebagai Muslim yg baik tak boleh mencaci maki sesama umat Islam dgn tuduhan munafik ataupun sejenisnya sebab kesalahan mereka. Karena dapat jadi mereka yg kita hujat telah bertobat atas kesalahan-kesalahan mereka di luar sepengetahuan kita.

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من عير أخاه بذنب لم يمت حتى يعمله

 

Rasulullah bersabda “Barang siapa menghina saudaranya sebab suatu  perbuatan dosa, niscaya ia tak mau mati sebelum melakukan dosa yg sama” (HR Turmudzi).

 

Bahkan, para ulama menyerukan buat memberikan hukuman kepada orang-orang yg secara serampangan menyebut saudara-saudara Muslim mereka dgn sebutan ataupun ejekan yg tak baik terlebih ujaran tersebut ditunjukkan kepada orang yg saleh.

 

وإذا قذف مسلما بغير الزنا فقال يا فاسق أو يا كافر أو يا خبيث أو يا سارق أو يا منافق أو يا يهودي عزرهكذا مطلقا في فتاوى قضيخان وذكره الناطقي وقيده بما إذا قال لرجل صالح.

“Dan apabila seseorang menuduh seorang Muslim dgn tuduhan selain masalah perzinaan seperti ucapan ‘Wahai orang fasik’ atau ‘Wahai orang kafir’ atau ‘Wahai orang yg  jahat’, atau ‘Wahai pencuri’ atau ‘Wahai orang munafik’ atau ‘Wahai orang Yahudi’ maka ia harus diberi hukuman. Pendapat ini berlaku secara mutlak sebagaimana dalam kitab fatawa Syekh Qadhikhan. Sedangkan menurut an-Nathiqi, pendapat ini ditunjukkan ketika seorang Muslim yg tertuduh ialah orang yg saleh” (Ali bin Sulthan al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, Beirut: Dar al-Fikr, 2002, vol. 2, hal. 2381).

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo

Membahas tentang Keharaman Stigma & Diskriminasi terhadap Penyandang Disabilitas

Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dgn istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khasṣah atau dzawil a’zâr: orang-orang yg mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah dgn demikian penyandang disabilitas harus didiskriminasi atau dikucilkan?

 

Tentu tidak, sebab penyandang disabilitas juga manusia yg mempunyai hak yg sama buat bermasyarakat dan bergaul dgn semua orang. Apalagi bila dilihat dari sudut pandang Islam, manusia yg paling mulia di hadapan Allah ialah yg paling bertakwa, seperti ditegaskan dalam firman-Nya berikut:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Sesungguhnya orang yg paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yg paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Ḥujurât/49: 13)

 

Dalam haditst Nabi Muhammad SAW juga ditegaskan:

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tak melihat kepada tubuh dan rupa kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati kamu sekalian Rasulullah menujuk ke dadanya” (HR. Muslim)

 

Oleh sebab itu, stigma terhadap penyandang disabilitas sebagai kutukan dan penderitanya ialah orang-orang yg terkutuk harus segera dihentikan. Sebaliknya kita perlu menyebarkan pandangan yg positif, yg membuka wawasan masyarakat supaya mau menumbuhkan penghormatan dan empati terhadap penyandang disabilitas. Dalam hal ini, kita harus menghindari prasangka buruk (su’udh dhann) kepada penyandang disabilitas. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ.

Wahai orang-orang yg beriman, hindarilah banyak prasangka, sebab sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Ḥujurât/49: 12)

 

Dalam sebuah hadits yg diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ (متفق عليه)

Jauhkan dirimu dari prasangka, sebab prasangka ialah perkataan yg paling bohong” (HR.Bukhari Muslim)

 

Bahkan, terhadap orang yg jelas menyimpang, caci maki tak boleh dilakukan. Dalam menafsirkan firman Allah SWT., “lâ yaskhar qawmun min qawmin”, Syaikh Ibn Zaid berkata:

لاَ يَسْخَرْ مَنْ سَتَرَ اللهُ عَلَيْهِ ذُنُوْبَهُ مِمَنْ كَشَفَهُ اللهُ، فَلَعَلَّ إِظْهَارُ ذُنُوْبِهِ فِي الدُّنْيَا خَيْرٌ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ.

“Janganlah orang yg telah ditutupi dosanya oleh Allah SWT.. Mengolok-olok orang yg telah dibuka dosanya oleh Allah SWT boleh jadi terbukanya dosanya di dunia lebih baik baginya ketimbang terbuka dosanya di akhirat” (Al-Qurthubi, Al-Jami` li Ahkami Al-Quran, Tahqiq Hisyam Samir Al-Bukhori, [Rayadh: Dar `Alami Al-Kutub, 1423 H/ 2003 M], vol. XVI, hal. 325).

 

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ (أخرجه الترمذي)

Barang siapa yg mencerca saudaranya sebab suatu dosa, maka dia tak mau mati sehingga dia melakukan dosa tersebut (HR. Tirmidzi).

 

Bila kepada yg berdosa saja kita dilarang merendahkan, apalagi kepada orang-orang yg sekadar berbeda kemampuan secara fisik. Hal ini menunjukkan penghormatan Islam yg tinggi terhadap manusia tanpa memandang dari segi keanekaragaman kemampuan atau keterbatasan fisik. Setiap manusia pada dasarnya setara, dan memiliki hak-hak yg setara. Standar kemuliaan dalam Islam ialah ketakwaan, bukan kemampuan fisik atau mental.

 

===
Artikel ini dinukil dari buku “Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas” yg disusun dan diterbitkan oleh tim Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unibraw. Unduh buku (PDF) ini di kanal Download NU Online.


Membahas tentang Imam Abu Hanifah Pembela Aswaja yg Dagang Sutra di Pasar

Harus diakui, Abu Hanifah ialah sosok orang yg genius dan multitalenta. Ia tak hanya mampu mengurusi satu hal saja. Tetapi dapat menjalankan dua hal dalam waktu yg bersamaan. Ia mampu membagi fokus secara serius buat dua hal berbeda. Hasilnya pun tak biasa-biasa saja, sungguh sebuah pencapaian yg maksimal. Benar sekali firasat yg dirasakan imam as-Sya’bi tentang kecerdasan Abu Hanifah ketika pertama kali bertemu di sebuah jalan yg biasa dilalui orang-orang pasar.

Tak banyak orang dgn kecerdasan, kegeniusan, dan multitalen seperti Abu Hanifah. Terbukti, ketika remaja, Imam Nu’man ini mampu menggawangi peran ganda; sebagai argumentator aqidah Aswaja, sekaligus pedagang sutra. Ini pekerjaan yg tak mudah. Karena fokusnya jauh berbeda. Jika satu sisi sebagai pendakwah dan di sisi lain sebagai penulis, maka masih linier alias sejalur. Terlebih lagi, di masa Abu Hanifah tak sama dgn sekarang. 

Para pendakwah, pelajar, ataupun tenaga pengajar kita ketika ini, tak terlalu sulit menggabungkan profesinya itu dgn berbisnis. Sebab, ia dapat berpenghasilan melalui Youtube, jualan melalui Instagram dan facebook, mereka juga dapat sambil buka toko online di market place. Sedangkan Abu Hanifah, jam terbang pasar dgn dakwahnya bertaut jauh tanpa media-media online seperti ketika ini.

Jam Terbang Abu Hanifah Membela Akidah Aswaja

Sejak kali pertama Abu Hanifah mendedikasikan dirinya buat ilmu, ia mencurahkan fokusnya lebih banyak mempelajari dan mengkaji ilmu kalam. Gairah remajanya yg gemar berdebat itu muncul tak terbendung.

Kabarnya, Abu Hanifah tak hanya berdebat dan mengkritisi paham-paham Mu’tazilah dan Khawarij di tanah kelahirannya, di Kufah. Tetapi juga memiliki jam terbang sampai ke kota Bashrah, di mana jarak antara keduanya kurang lebih mencapai 434 km. 

Agar lebih riil, coba kita bandingkan dgn jarak antara Situbondo-Surabaya. Dari Situbondo ke Surabaya, jaraknya kira-kira 200 km. Berarti, dapat dibaygkan jarak antara Kufah dan Bashrah, dua kali lipat Situbondo-Surabaya.

Sekarang, berkat kemajuan transportasi, waktu tempuh maksimal dari kota santri menuju kota metropolitan, sekitar enam jam perjalanan tanpa melalui tol. Bisa lebih cepat bila masuk ke gerbang tol. Sedangkan Abu Hanifah, mengisi jam terbangnya ke Bashrah menggunakan jasa tumpangan hewan. Menumpang kepada kafilah-kafilah yg bolak-balik antara Kufah dan Bashrah itu. Lumayan berat perjuangannya.

Syekh Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 133) bercerita:

ويقوم بالرحلات المختلفة إلى البصرة ليجادل المعتزلة ويتعلم ما عندهم ويجادل الخوارج ويتعرف فكرهم وهكذا إستمر يتعرف ما عند الفرق المختلفة

Artinya, “Abu Hanifah menuju Bashrah dgn menumpang kepada pelbagai kafilah yg ada guna berdebat dgn Mu’tazilah dan Khawarij, seraya mempelajari dasar teologi dan pemikiran mereka. Begitulah seterusnya  ia aktif mendebati aliran demi aliran yg berbeda dgn Ahlussunnah wal Jamaah.”

Bisa dibilang, Abu Hanifah ialah singa podium Aswaja di masanya. Namun, lambat laun, ia kembali mendapat hidayah. Ia merasa dirinya tak berada di jalan yg benar seperti yg diajarkan para tabiin dan sahabat Nabi. Sebab, hari-harinya penuh debat dan sikap menyalahkan orang lain.

Akhirnya, imam Nu’man pun alih fokus ke halakah dan kajian fiqih, menjauh dari perdebatan teologi. Baginya, kendati dalam fiqih juga banyak perdebatan, tetapi semuanya bernuansa kasih-sayg. Perdebatan fiqih ialah jalan keluar dari kesulitan umat. Beda dgn teologi yg perdebatannya ialah keresahan bagi mereka.

Abu Hanifah Tetap sebagai Entrepreneur

Walau Abu Hanifah telah lama menjauhi dunia pasar dan sibuk dgn dunia barunya di kalangan para santri dan kiai, tapi tak berarti ia benar-benar gulung tikar dari bisnis sutranya. Dirinya tak serta-merta menghilangkan peninggalan mendiang sang ayah.

Ia terus melanjutkan profesinya sebagai entrepreneur dgn manajemen pasar yg lebih profesional lagi, yaitu dgn menjalin kerja sama dgn para pedagang yg lain. Baik melalui akad wakalah atau agency (mewakilkan penjualan komoditasnya), maupun dgn membangun mitra kerja (musyarakah atau partnership). Mengingat, jam belajarnya yg semakin hari semakin padat.

Masih dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 137), Abu Zahrah menulis:

ولما إتجه إلى العلم لم ينقطع عنها بل إستمر في التجارة بنائب ينيبه أو شريك يشاركه وكان مشتركا في التجارة بقدر لا يقطعه عن العلم إذ إنصرف إليه في أكثر أحواله حتى كاد التاريخ ينسى التجارة التي إستمر فيها

Artinya, “Hijrah Abu Hanifah ke halakah intelektual tak lantas membuatnya meninggalkan usaha sutra yg dibangun ayahnya. Usahanya tetap berjalan di tangan para pekerjanya. Ia tetap fokus sebagai manajer bisnis tersebut. Sebab, ia tak punya waktu sebagai pelaku langsung, menjajakkan barang-barangnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan di hadapan para ulama. Sampai-sampai, nyaris sejarah melupakan jejak entrepreneur Abu Hanifah.”

Benar, nyaris sejarah melupakan jejak dagang imam Nu’man. Untung saja beberapa sejarawan meneliti dan mencatatnya. Walaupun tak terlalu rapi, kalah dgn karir dan popularitasnya sebagai ulama pendiri Mazhab Hanafi.

Berkah catatan sejarah yg sederhana itu, semua orang yg bergelut di dunia bisnis yg mengenal Abu Hanifah, pasti menjadikannya tokoh panutan dalam karirnya. Bahkan, banyak buku-buku entrepreneurship yg mengulas sejarah dagang Abu Hanifah. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan di Lombok NTB.

Membahas tentang Status Hukum Pernikahan & Perwalian Orang Murtad

Sepasang muda-mudi didampingi seorang laki-laki paruh baya datang ke KUA sebagai calon pengantin yg tak lama lagi mau melakukan ijab qabul pernikahan. Ketiganya datang ke KUA dalam rangka proses pemeriksaan data oleh penghulu.

Pada mulanya dari data yg ada sang penghulu tak mendapatkan masalah. Namun ketika melihat surat pernikahan orang tua calon pengantin perempuan sang penghulu mulai menaruh curiga. Pasalnya surat pernikahan itu dikeluarkan oleh kantor catatan sipil yg berarti kedua orang tua calon pengantin perempuan menikah tak dgn tata cara Islam.

Maka sang penghulu mulai menelusuri perihal perkawinan dan agama kedua orang tua dari calon pengantin perempuan. Dari penelusuran itu didapatkan satu simpulan riwayat yg menyebutkan bahwa bapak dari calon pengantin perempuan dahulunya seorang muslim yg keluar dari agamanya atau murtad. Kemudian ia menikah dgn seorang perempuan nonmuslim.

Dari pernikahan ini keduanya dikarunia beberapa orang anak laki-laki dan perempuan. Di tengah kehidupan pernikahan dan rumah tangganya ini sang bapak yg dahulu murtad kembali memeluk agama Islam. Sedangkan sang ibu masih tetap pada agamanya, nonmuslim.

Kini anak perempuan pasangan itu yg beragama Islam hendak melakukan pernikahan. Sang bapak berkehendak buat menjadi wali bagi anak perempuannya. Namun kehendak ini ditolak oleh penghulu.

Mengapa penghulu menolak sang bapak buat menjadi wali, bukankah ia telah kembali menjadi seorang muslim?

Atas permasalahan dan pertanyaan ini para ulama di dalam berbagai kitab fiqih menjelaskan duduk perkaranya. Bila seorang muslim murtad sebelum menikah kemudian ia melakukan pernikahan, maka pernikahannya itu batal, tak sah. Ini sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaytiyyah:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا ارْتَدَّ ثُمَّ تَزَوَّجَ فَلا يَصِحُّ زَوَاجُهُ ؛ لأَنَّهُ لا مِلَّةَ لَهُ ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ مُسْلِمَةً  وَلا كَافِرَةً وَلا مُرْتَدَّةً

Artinya, “Para pakar fikih sepakat bahwa seorang laki-laki muslim yg murtad kemudian menikah maka pernikahannya itu tak sah, sebab ia tak memiliki agama. Maka ia tak dapat mengawini seorang perempuan muslim, perempuan kafir, atau perempuan murtad.” (Kementerian Wakaf dan Urusan Agama, Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah. [Kuwait: Kementerian Wakaf dan Urusan Agama, 1983 M]).

Lebih jauh Imam Syafi’i di dalam Kitab Al-Umm menyampaikan secara lebih rinci:

وَإِذَا ارْتَدَّ الْمُسْلِمُ فَنَكَحَ مُسْلِمَةً أَوْ مُرْتَدَّةً أَوْ مُشْرِكَةً أَوْ وَثَنِيَّةً فَالنِّكَاحُ بَاطِلٌ أَسْلَمَا أَوْ أَحَدُهُمَا أَوْ لَمْ يُسْلِمَا وَلَا أَحَدُهُمَا

Artinya: “Apabila seorang muslim murtad kemudian ia menikah dgn seorang perempuan muslim, perempuan murtad, perempuan musyrik, atau perempuan watsaniyah maka nikahnya batal, baik keduanya masuk Islam (setelah menikah) atau salah satunya masuk Islam, atau keduanya tak masuk Islam, atau salah satunya tak masuk Islam.” (Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm [Beirut: Darul Fikr, 2009]).

Dari apa yg disampaikan Imam Syafi’i di atas sangat jelas bahwa pernikahan yg dilakukan oleh seorang yg murtad tak dianggap sah oleh Islam. Ini berlaku bagi pernikahan sang murtad dgn perempuan yg menganut agama apapun, bahkan dgn perempuan yg juga murtad. Ketidakabsahan pernikahan itu terus berlanjut meskipun salah satu atau kedua pasangan itu kembali memeluk agama Islam.

Bila demikian adanya lalu bagaimana dgn hukum perwalian orang yg murtad? Bila ia kembali memeluk agama Islam sebagaimana kasus di atas dapat kah ia menjadi wali bagi anak perempuan dari hasil perkawinannya?

Menjawab pertanyaan ini Imam Syafi’i lebih lanjut menegaskan:

وَلَا يَكُونُ لِلْمُرْتَدِّ أَنْ يُزَوِّجَ ابْنَتَهُ وَلَا أَمَتَهُ وَلَا امْرَأَةً هُوَ وَلِيُّهَا مُسْلِمَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَلَا مُسْلِمًا وَلَا مُشْرِكًا وَإِذَا أَنْكَحَ فَإِنْكَاحُهُ بَاطِلٌ

Artinya: “Seorang yg murtad tak berhak buat menikahkan anak perempuannya, budak perempuannya, dan perempuan yg ia menjadi walinya, baik perempuan itu seorang muslimah atau musyrik, baik perempuan itu bukan seorang muslimah atau musyrik. Apabila ia telah menikahkan maka pernikahannya itu batal.” 

Tidak adanya hak buat menikahkan anak perempuannya atau perempuan lain yg berada di bawah perwaliannya menunjukkan bahwa seorang yg murtad tak dapat menjadi wali nikah bagi siapapun. Ini dapat dimaklumi mengingat salah satu syarat menjadi wali nikah ialah harus beragama Islam.

Kalaupun orang yg murtad itu kembali memeluk agama Islam sebagaimana kasus di atas ia tetap tak dapat menjadi wali bagi anak perempuannya, mengingat pernikahannya tak dianggap sah sehingga anak perempuannya juga dianggap lahir di dalam pernikahan yg tak sah dan sebabnya tak bernasab kepada sang ayah. Karena tak ada hubungan nasab ini lah maka sang ayah tak dapat menjadi wali dalam pernikahan anak perempuan tersebut. Wallâhu a’lam.

 

Ustadz Yazid Muttaqin, alumnus Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, kini aktif sebagai penghulu di Kantor Kementerian Agama Kota Tegal.

Membahas tentang Cara Sayyidina Umar bin Khattab Mengoreksi Diri

Sayyidina Umar bin Khattab ra merupakan orang yg sangat teguh memegang prinsip. Ia dikenal tangguh, keras, dan memiliki pendirian yg kuat. Kendati demikian, ia bukan orang yg merasa benar selalu. Ia merasa sebagai manusia biasa yg memiliki kekurangan.

Sayyidina Umar ra bahkan mendoakan orang-orang yg mengoreksi dirinya dan menunjukkan kekurangannya, sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Ghazali berikut ini:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوْبِي

Artinya: “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang menunjuki kekuranganku,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 69).

Sayyidina Umar ra tak segan meminta masukan secara jujur kepada sahabatnya buat mengoreksi dirinya. Ia menanyakan kepada sahabatnya di mana letak kekurangan dirinya baik yg bersifat pribadi maupun bersifat kebijakan publik.

Suatu hari ia meminta sahabat Salman ra buat menunjukkan kekurangan dirinya. Ketika Salman ra datang, Sayyidina Umar ra berkata, “Kabar apa terkait diriku yg sampai kepadamu dan kamu tak suka?”

“Ku dengar kamu memiliki dua jenis lauk dalam sebuah meja makan dan memiliki pakaian bagus yg dipakai siang dan malam,” jawab Salman ra.

“Apakah ada lagi selain itu?” kata Umar ra.

“Tidak,” kata Salman ra.

“Baiklah, dua ini cukup,” kata Umar ra.

Sayyidina Umar ra juga pernah meminta sahabat Hudzaifah ra buat memberikan catatan perihal dirinya.

“Wahai Hudzaifah, kamu ialah sahabat dekat Rasulullah perihal menghadapi orang-orang munafik. Apakah kau melihat tanda-tanda orang munafik pada diriku?” tanya Sayyidina Umar ra.

Sayyidina Umar bin Khattab ra, kata Imam Al-Ghazali, ialah sahabat terkemuka Rasulullah saw yg dijamin masuk surga. Di tengah kedudukannya yg mulia dan pangkatnya yg tinggi, ia tetap mencurigai dirinya sendiri dan tak segan meminta pertolongan orang lain buat menunjukkan kekurangan dirinya.

Cara Sayyidina Umar bin Khattab ra dimasukkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai cara kedua buat menilai aib dan kekurangan diri kita sendiri. yakni sebuah cara dgn mencari sahabat jujur yg dapat dipercaya, religius, dan taat pada nilai-nilai agama yg dapat melihat kekurangan kita dan mengamati perilaku kita baik lahir maupun batin, serta memperhatikannya.

Sayyidina Umar bin Khattab ra dan orang seperti Sayyidina Umar ra mau mendoakan orang yg memberitahukan aibnya. Ia mau senang kalau ada sahabat yg mengoreksi kekurangannya. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Membahas tentang Khutbah Bahasa Jawa: Rezekine Tiang Iman lan Takwa

Berikut ini ialah contoh naskah khutbah Jumat dalam bahasa Jawa. Kebutuhan buat menyampaikan khutbah dalam bahasa lokal ada di berbagai daerah hingga ketika ini, yg masih melestarikan bahasa daerah sebagai komunikasi-sehari-hari.
 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Bahasa Jawa: Rezekine Tiang Iman lan Takwa”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi)


Khutbah I

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

 

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat ingkang kawulo hormati,

Ing wekdal ingkang mulyo meniko, monggo sami ningkataken ketakwaan utowo raos wedi dateng Allah swt, arupi nglampahi sedoyo ingkang dipun perintah deneng Allah swt lan ngadohi dateng sedoyo ingkang dipun larang Allah swt. Monggo ugi sami ningkataken keimanan arupi ngencengake keyakinan dateng rukun iman ingkang enem enggeh puniko iman dateng Allah, malaikat, kitab, utusan, dinten akhir, lan pestine Allah—ingkang sae utowo olo. Mugi-mugi anggenipun nguataken iman lan takwa meniko, kito dipun catet deneng malaikat-malaikat Allah, mlebet wonteng kaum utowo golongan tiang ingkang mukminin lan muttaqin. Amin.

 

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat ingkang minulyo,

Golongan tiang mukmin (tiang ingkang iman) lan muttaqin (tiang ingkang takwa) meniko, miturut Allah swt, inggih puniko golongan ingkang bade dipun tulung lan dipun panggenakan wonten ing papan palenggahan ingkang sae. Tiang iman lan takwa ugi bade tansah dipun sukani dalan saking sedoyo keruwetan gesang wonten ing alam dunyo. Golongan ingkang saget terus nguataken iman lan takwa ugi bade dipun sukani rezeki saking arah ingkang dipun mboten nyono-nyono.

 

Meniko sampun dipun tegesaken deneng Allah swt wonten ing Al-Qur’an surat ath-Thalaq ayat 2:

 

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

 

Ayat meniko negesaken dateng sinten mawon ingkang takwa utowo wedi dateng Allah swt, moko tiang niku bade dipun gampangake dalanipun saking perkoro ingkang angel. Ayat meniko lajeng dipun terasaken kalian ayat selajengipun inggih puniko ayat ketigo:

 

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

 

Artosipun : “Allah paring rezeki marang wong iku soko kang ora kiniro-iro. Sing sopo sumarah pasrah ing Allah, panjenengaNe (Allah) bakal anyukupi marang dheweke. Mangertio sanyoto Allah iku mesthi angleksonoake prekoroNe, Allah andamel samubarang iku wus kanthi papestheNe”.

 

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat ingkang minulyo

Saking kalih ayat Al-Quran meniko sampun jelas, dene Allah swt ngajaraken dateng kito sedoyo supados yakin dene sedoyo wonteng ing alam dunio meniko wonten ing kuosonipun Allah. Kito mboteng angsal cilik ati lan was-was dateng rezeki nopo ingkang bade dipun cepeng dateng kito wonten ing dinten mbenjang. Sedoyo sampun dipun toto lan atur deneng Allah lan kito namung dipun perintah makaryo utowo usaha kalian dipun iringi dungo dateng Allah swt. Menawi raos pasrah meniko kito lampahi kanthi ikhlas, lajeng dipun iringi raos iman lan taqwa, insyaallah, Allah swt tansah maringi rezeki saking dalan utowo arah ingkang mboten dipun dugo-dugo.

 

Perlu kito renungi lan sadari ugi, naminipun rezeki saking Allah swt meniko mboten anamung rezeki ingkang wujud dhahir utuwa arupi bondo. Rezeki ugi katah ingkang wujud bathin kados raos sehat, wekdal sempet lan sapinunggalipun sedoyo. Rezeki utowo nikmat ingkang mboten saget kito etang setunggal-setunggalipun meniko kedah dipun kito syukuri supados Allah mangke tansah nambahi nikmat dateng kito sedoyo. Ampun kito mlebet wonten ing golonganipun tiang ingkang dipun wales olo utowo dipun laknat kranten mboten saget syukur dateng nopo ingkang dipun paringaken dateng kito sedoyo.

 

Allah swt sampun dawuh wonten ing Qur’an surat Ibrahim ayat pitu:

 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

 

Artosipun: “lan elingno, nalikone Pengeran iro paring sumurup ono ing kitab: ‘Saktemene menowo siro podo syukur, yekti Ingsung nambahi nikmat marang siro, dene yen siro kafir, satemene siksan Ingsun iku sayekti banget lorone”.

 

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat ingkang kawulo hormati

Moko niku, anggenipun mbahas rezeki wonten ing dunyo meniko ampun namung dipun etang model matematika mawon. Rezeki meniko mboten setunggal ditambah setunggal dadosipun kalih. Nanging setunggal ditambah setunggal saget dados kalih, tigo, sewelas lan ugi saget dados nol. Sedoyo niku sampun dipun atur deneng Allah swt. Kito namung kedah ikhtiar nglakoni kalian tawakkal pasrah lan ndungo mugi Allah pinaringan rezeki ingkang barakah dateng kito sedoyo.

 

Meniko katah contoh wonten ing lingkungan kito sedoyo arupi tiang ingkang nyambut damel mboten ningali wekdal. Mulai enjing dumugi ndalu, dumugi enjing malih, nanging anggenipun nyambut damel mboten ngasilaken ingkang katah lan nyekapi dateng nopo ingkang dipun kersaaken. Naging sakwangsulipun, katah tiang ingkang nyambut damelipun santai, mboten ngoyo, saget ibadah kalian tenang, nanging rezekinipun lancar lan katah. Keluarganipun ugi sami sehat, ayem, lan anteng sedoyo. Niki-niki dados renungan kito sedoyo, dene nyambut damel pados rezeki niki kedah dipun niati kangge sangu ngibadah. Ampun saksampunipun kita nyambut damel lan angsal rezeki, kito malah mboten nindaaken kewajiban ibadah alias ninggalaken ingkang dados pokoke gesang wonten ing alam dunio.

 

Rasulullah sampun dawuh wonten ing hadits ingkang dipun riwayataken saking  Imam Tirmidzi:

 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَوْ اَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ, تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.

 

Hadits meniko ngengetaken dateng kito sedoyo bilih menawi kito tawakkal, yekti Allah bakal paring rizeki dateng kito kados Allah nyukani rezeki dateng manuk. Manuk meniko mboten gadah raos was-was nopo rezeki dinten meniko. Manuk namung tandang makaryo wiwit enjing dugi sonten. Bidal medal kalihan weteng ngeleh, nanging saget wangsul kalihan weteng wareg angsal rezeki saking Allah swt.

 

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat ingkang kawulo hormati

Saking nopo ingkang sampun dipun terangaken meniko, monggo sami noto ati lan mbagusi niat gesang wonten ing alam dunyo meniko. Kito dipun damel deneng Allah swt wonten ing dunyo meniko anamung kangge ibadah nyembah dateng Allah swt. Lan sampun dados kapesten, dene kito ampun supe sedoyo wonten ing dunyo meniko sampun dipun kersaaken Allah swt.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah II

 

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Muhammad Faizin, Guru Madrasah Aliyah Negeri 1 Pringsewu