Hikmah di Balik Baca Alhamdulillah Saat Bersin (1)

Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yg kami hormati, semoga selalu dalam keadaan sehat dan lindungan Allah SWT. Saya Ahmad Kadir, saat ini tinggal di daerah Banten. Saya mau menanyakan hikmah kenapa ketika bersin dianjurkan mengucapkan “alhamdulillah.”

Sedangkan pertanyaan kedua ialah tentang hukum memakai tisu pada saat bersin. Demikian pertanyaan yg saya ajukan dan mohon jawaban secepatnya. Atas responnya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Kadir/Banten)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yg budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ada dua pertanyaan yg diajukan kepada kami. Dalam kesempatan ini kami mau mencoba menjawab pertanyaan pertama terlebih dahulu. Sedangkan pertanyaan kedua insya Allah mau kami jawab pada kesempatan lain.

Tampaknya setiap orang pasti pernah mengalami bersin. Ketika kita mengalami bersin, setelahnya disunahkan buat membaca “alhamdulillah.” Bahkan menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar—sebagaimana dikemukakan Zakariya Al-Anshari—bila setelah bersin membaca alhamdulillahi rabbil ‘alamin itu dianggap lebih baik (ahsan).

Sedangkan bila membaca “Alhamdulillah ‘ala kulli hal,” itu lebih utama (afdhal) sebab didasarkan pada hadits sahih yg diriwayatkan Abu Dawud, yg menyatakan, “Apabila salah satu di antara kalian bersin, maka bacalah ‘alhamdulillah ‘ala kulli hal’, kemudian hendaknya saudara atau temannya mengucapkan ‘yarhamukumullah’, sedangkan orang yg bersin memberikan respon dgn menyatakan, ‘yahdikumullah wa yushlihu balakum’”.

وَ) أَنْ (يَحْمَدَ اللَّهَ) عَقِبَ عَطَاسِهِ بِأَنْ يَقُولَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ فِي الْأَذْكَارِ فَلَوْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ كَانَ أَحْسَنَ وَلَوْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ كَانَ أَفْضَلَ لِخَبَرِ أَبِي دَاوُد وَغَيْرِهِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ {إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلْيَقُلْ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُك اللَّهُ وَيَقُولُ هُوَ يَهْدِيكُمْ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ}

Artinya, “(Kita) disunahkan setelah bersin memuji Allah SWT dgn membaca ‘alhamdulillah.’ Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyatakan, apabila membaca ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin,’ maka itu lebih baik. Seandainya membaca ‘alhamdulillah ‘ala kulli hal,’ maka itu lebih afdlal sebab didasarkan pada hadits riwayat Abi Dawud dgn mata rantai yg sahih; ‘Apabila salah satu di antara kalian bersin, maka bacalah ‘alhamdulillah ‘ala kulli hal’, kemudian saudara atau temannya hendaknya mengucapkan ‘yarhamukumullah.’ Sedangkan orang yg bersin memberikan respon dgn menyatakan, ‘yahdikumullah wa yushlihu balakum,’” (Lihat Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1422 H/2000 M, juz IV, halaman 187).

Lantas apa hikmah pensyariatan membaca ‘alhamdulillah’ setelah bersin? Banyak penjelasan mengenai hal ini. Salah satunya ialah penjelasan yg kami pahami dari salah satu ulama, yaitu Al-Halimi sebagaimana dikemukakan dalam Kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Menurutnya, di dalam otak terdapat kekuatan berpikir. Di samping itu otak juga merupakan pusat dari sistem urat-saraf, di mana urat-saraf ialah sumber indra. Jika otak itu terhindar dari hal yg dapat mengganggu kinerjanya, maka secara otomatis anggota tubuh dapat berfungsi dgn baik.

Sedangkan ketika seseorang bersin, maka ia mau sehat sebab bersin itu mampu melindungi otak dari hal yg dapat menggangu kinerjanya otak itu sendiri. Dari sini kemudian kita dapat memahami bahwa bersin itu ialah nikmat dari Allah.

Sebab, ternyata bersin itu mampu melindungi otak dari hal-hal yg dapat mengganggu kinerjanya sehingga anggota tubuh lainnya pun dapat berfungsi dgn baik. Untuk itu, maka ketika kita mendapatkan nikmat dari Allah berupa bersin, maka telah selayaknya kita bersyukur dgn mengucapkan ‘alhamdulillah’, di mana ucapan tersebut mengandung pengakuan bahwa hanya Allah-lah segala penciptaan dan kekuasaan. Demikian yg kami pahami dari pernyataan Al-Halimi.

قَالَ اَلْحَليِمِيُّ: اَلْحِكْمَةُ فِي مَشْرُوعِيَّةِ الْحَمْدِ لِلْعَاطِسِ أَنَّ الْعَاطِسَ يَدْفَعُ الْأَذَى عَنِ الدِّمَاغِ الَّذِي فِيهِ قُوَّةُ الْفِكْرِ وَمِنْهُ مَنْشَأُ الْأَعْصَابِ اَلَّتِي هِيَ مَعْدِنُ الْحِسِّ وِبِسَلَامَتِهِ تَسْلَمُ الْأَعْضَاءُ، فَظَهَرَ بِهَذَا أَنَّهَا نِعْمَةٌ جَلِيلَةٌ فَنَاسَبَ أَنْ تُقَابَلَ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِقْرَارِ لِلَّهِ بِالْخَلْقِ وَالْقُدْرَةِ وَإِضَافَةِ الْخَلْقِ إِلَيْهِ لَا إِلَى الطَّبَائِعِ

Artinya, “Menurut Al-Halimi, hikmah pensyariatan baca ‘alhamdulillah’ bagi orang yg bersin ialah bahwa orang yg bersin itu menolak hal yg dapat menyakiti otak yg di dalamnya (otak) terdapat kekuatan berpikir. Di samping juga otak sebagai pusat dari sistem urat-saraf, di mana urat-urat saraf merupakan sumber pencerapan. Dengan keselamatan otak maka selamat pula anggota tubuh lainnya. Dari sini, tampak jelas bahwa hal tersebut sungguh merupakan kenikmatan besar sebabnya telah pas bila diimbangi dgn pujian kepada Allah dgn mengatakan ‘alhamdulillah.’ Sebab di dalamnya mengandung pengakuan hanya bagi Allah segala penciptaan dan kekuasaan, dan penyandaran penciptaan hanya kepada Allah, bukan yg lain,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz X, halaman 602).

Demikian jawaban yg dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dgn baik. Kami selalu terbuka buat menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.