Al-Ghazali: Urgensi Sikap Tawadhu Murid terhadap Guru

Dalam menuntut ilmu, salah satu etika yg harus dimiliki seorang murid ialah bersikap tawadhu terhadap guru. Di hadapan guru, murid bagaikan seorang pasien yg tak tahu apa-apa di hadapan dokter yg tahu betul penyakitnya dan bagaimana cara mengobatinya. Imam Al-Ghazali:

اَلْوَظِيفَةُ الثَّالِثَةً: أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ عَلَى الْعِلْمِ وَلَا يَتَأَمَّرَ عَلَى الْمُعَلِمِ، بَلْ يُلْقِى إِلَيْهِ زِمَامَ أَمْرِهِ بِالْكُلِّيَةِ فِي كُلِّ تَفْصِيلٍ وَيَذْعَنُ لِنَصِيحَتِهِ إِذْعَانَ الْمَرِيضِ الْجَاهِلِ لِلطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ الْحَاذِقِ. وَيَنْبَغِي أَنْ يَتَوَاضَعَ لِمُعَلِّمِهِ وَيَطْلُبَ الثَّوَابَ وَالشَّرَفَ بِخِدْمَتِهِ

Artinya: “Poin kedua, murid tak boleh menyombongkan ilmunya dan menentang gurunya. Tetapi harus tunduk sepenuhnya kepada guru dan mematuhi betul nasihatnya, seperti kepatuhan orang sakit yg tak tahu cara mengobati penyakitnya kepada seorang dokter ahli yg berpengalaman. Seorang pelajar harus tawadhu terhadap gurunya, serta mengharap pahala dan kemuliaan dgn berkhidmah terhadapnya.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, juz I, halalam 50).

Dari penjelasan Al-Ghazali di atas, kita menangkap analogi yg sangat tepat. Posisi murid terhadap guru bagaikan pasien yg tak tahu cara mengobati penyakitnya di hadapan dokter yg ahli dan berpengalaman. Orang yg tak tahu apa-apa tentang penyakit yg dideritanya, pasti mau menyerahkan diri secara total kepada dokter buat diobati. Bahkan seharusnya ketundukan murid kepada seorang guru melebihi tunduknya pasien kepada dokter. Jika dokter mengobati penyakit fisik, maka seorang guru mengobati kebodohan. 

Sayyid Murtadla az-Zabidi (wafat 1205 H) menegaskan, posisi murid terhadap murid tak hanya seperti orang sakit di hadapan dokter. Tapi seperti seorang mayit di hadapan orang yg memandikannya, atau seperti jerami yg hanyut terseret aliran air. Betul-betul patuh secara total. (Murtadla az-Zabidi, Ithâfus Sâdatil Muttaqîn, juz I, halaman 504-505).

Penting kita tengok kisah ketawadhuan Ibnu Abbas ra, keponakan Rasulullah saw. Suatu ketika Zaid bin Tsabit ra selesai melakukan shalat jenazah. Melihat itu, Asy-Sya’bi (wafat 104 H) bergegas mendekatkan hewan baghal buat dikendarai Zaid ra. Lalu Ibnu Abbas datang dan meraih baghal tersebut buat dinaiki Zaid dgn tujuan tabarrukan dan menghormatinya. 

“Tidak usah wahai anak paman Rasullullah,” tolak Zaid ra merasa tak enak.

“Beginilah kami disuruh berbuat terhadap ulama dan orang-orang besar”, Ibnu Abbas ra menjawab.

“Demikianlah kami disuruh berbuat terhadap keluarga keluarga Nabi kita saw”, balas Zaid ra sambil mencium tangan Ibnu Abbasra.

Menurut Al-Ghazali, salah satu bentuk hormat murid kepada seorang guru ialah dgn memilih pendapat guru, meskipun murid memiliki pendapat sendiri. Karena terkadang pendapat guru itu salah menurut murid, namun hanya dalam perasangkanya yg kurang memiliki pengalaman belajar yg luas. Apa yg terlihat janggal pada guru, terkadang menyimpan rahasia yg tak diketahui murid. (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, juz I, halaman 50).

Kita dapat menilik kisah perjumpaan Nabi Musa as dgn Nabi Khidlir as. Konon, Nabi Musa merasa tak ada orang yg lebih pandai dari pada dirinya. Ternyata dugaannya salah, masih ada orang yg memiliki ilmu dan kepandaian di atas kemampuannya, yaitu Nabi Khidlir as. Menyadari hal itu, Nabi Musa as meminta berguru kepada Nabi Khidlir as. Nabi Khidlir as bersedia, tapi dgn satu syarat, yaitu tak boleh menanyakan keganjilan yg dialaminya selama menjadi murid, Nabi Khidlir as sendiri yg menjelaskannya.

Namun Nabi Musa as tak mampu memenuhi syarat itu. Ia terus menanyakan hal-hal ganjil yg ditemuinya selama mengikuti Nabi Khidlir as. Karena itu, Nabi Musa as gagal berguru dan berpisah dgn Nabi Khidlir as.

Kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidlir as di atas mengandung pesan penting. Seorang murid hendaknya menuruti apa kata gurunya. Bahkan seandainya ada kejanggalan terhadap perintahnya, selama tak bertentangan dgn syari’at. Karena pada hakikatnya, guru mengetahui hal-hal rahasia yg belum diketahui murid.

Lalu, begaimana dgn anjuran bertanya bila murid tak tahu? Bukankah orang yg tak tahu dianjurkan buat bertanya? Sebagaimana firman Allah ta’ala:

فَسْئَلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ  

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yg mempunyai pengetahuan bila kamu tak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43).

Memang benar demikian. Namun, menurut Al-Ghazali, murid boleh bertanya asalkan telah mendapat izin dari guru buat mengajukan pertanyaan. Jadi, sebelum mengajukan pertanyaan, hendaknya murid meminta izin dulu, apakah boleh mengajukan pertanyaan. Sebab, guru lebih tahu kesiapan murid menerima jawaban atas pertanyannya. Salah satu bentuk kesombongan murid, masih menurut Al-Ghazali, ialah tak mau berguru kecuali kepada guru yg terkenal pakar di bidangnya. (Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûmiddîn, juz I, halaman 50-51).

Sikap murid seperti itu, yg hanya mau belajar kepada guru yg terkenal kepakarannya, lanjut Al-Ghazali, merupakan kebodohan. Logikanya, orang yg sedang berada dalam kepungan hewan buas, tentu tak mau membeda-bedakan siapa yg menolongnya.  Asalkan dapat selamat dan segara keluar dari kepungan itu. Demikian juga seorang murid yg berada dalam ancaman terkaman api neraka sebab kebodohan yg dimilikinya. Untuk selamat dari panas api neraka, tak perlu memilih-milih siapa orang yg mau menjadi gurunya buat menyelamatkan dari kebodohan dan api neraka. Asalkan guru itu mampu, maka layak berguru kepadanya. Rasulullah saw pernah bersabda:

اَلْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ يَأْخُذُهَا حَيْثُ وَجَدَهَا. (رواه ابن عساكر)

Artinya: “Ilmu ialah barang hilangnya orang mukmin, ia mau mengambilnya di mana pun ia menemukannya.” (HR Ibnu ‘Asakir)

Rasulullah saw menganalogikan ilmu dgn barang berharga milik seorang mukmin yg hilang. Karenanya, telah sepatutnya di mana pun barang itu ditemukan, segeralah diambilnya. Demikian juga ilmu, pada siapa pun ilmu itu ditemui, maka hendaknya diambil,  bahkan ditemui pada orang yg usianya lebih muda darinya.

Demikian pentingnya sifat tawadhu murid terhadap guru. Saat banyak murid tak lagi menghargai guru, bahkan kenakalan anak didik menjadi problem serius negeri ini, penjelasan al-Ghazali ini perlu kita renungi bersama. Sudahkah kita menjadi murid yg baik? Murid yg mengedepankan sifat tawadhu terhadap guru? Wallâhu a’lam.

 

Ustadz Muhamad Abror, Pengasuh Madrasah Baca Kitab dan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek
 





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.