Khutbah Jumat: Kewajiban Mengimani Siksa Kubur

Materi khutbah Jumat kali ini mengingatkan kita bahwa siksa kubur benar-benar ada sebagai bagian dari peristiwa gaib, berdasar dalil-dalil sahih. Mengimaninya bukan saja sama dgn melaksanakan kewajiban tapi juga mendorong manusia buat senantiasa berbuat baik selama hidup di alam dunia. 

 

Baca juga: Khutbah Jumat: Kematian itu Pasti, Bersiaplah!

 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Kewajiban Mengimani Siksa Kubur.”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi)

 

Khutbah I

 

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ  

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى (طه: 124)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat pada siang hari yg penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi buat senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dgn melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yg diharamkan.
 

Kaum Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Tema khutbah pada hari ini ialah tentang kehidupan alam barzakh. Allah ta’ala berfirman:
 

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا (طه: 124)

Maknanya: “Dan barang siapa yg berpaling dari beriman kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yg sempit” (QS Thaha: 124). Yakni, orang yg tak beriman kepada Allah ta’ala maka ia mau mendapatkan kehidupan yg sempit di alam kubur sebagaimana hal itu ditafsirkan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 

القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ (رواه الترمذي)

Maknanya: “Kuburan ialah seperti salah satu taman surga atau seperti salah satu lubang di neraka.” (HR at-Tirmidzi).

 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang siksa kubur, maka Nabi menjawab:

نَعَمْ، عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ (رواه النسائي)

Maknanya: “Iya, siksa kubur benar-benar terjadi” (HR an-Nasa’i).

Jamaah shalat Jumat yg berbahagia,

Siksa kubur ialah di antara perkara yg wajib diyakini dan dibenarkan adanya. Siksa kubur mau ditimpakan kepada orang kafir dan sebagian pelaku maksiat di antara kaum muslimin. Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu dalam kitab al-Fiqh al-Akbar mengatakan:
 

وَضَغْطَةُ الْقَبْرِ وَعَذَابُهُ حَقٌّ كَائِنٌ لِلْكُفَّارِ وَلِبَعْضِ عُصَاةِ المـُسْلِمِيْنَ

“Himpitan kubur dan siksa kubur ialah perkara yg benar-benar ada dan terjadi bagi orang-orang kafir dan sebagian pelaku maksiat di antara kaum muslimin.”
 

Oleh sebab itu, tak boleh mengingkari adanya siksa kubur. Bahkan mengingkarinya ialah kekufuran. Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitab al-Farq Baina al-Firaq mengatakan:
 

وَقَطَعُوْا أَيْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ بِأَنَّ المُنْكِرِيْنَ لِعَذَابِ القَبْرِ يُعَذَّبُوْنَ فِي القَبْرِ

“Ahlussunnah wal Jamaah memastikan bahwa orang-orang yg mengingkari adanya siksa kubur mau disiksa di kuburan mereka.” Artinya, sebab mereka telah keluar dari Islam maka mau disiksa di alam kubur.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Siksa kubur ini terjadi kepada roh dan jasad. Akan tetapi Allah tak memperlihatkannya kepada kebanyakan orang supaya keimanan hamba terhadapnya masuk dalam kategori iman terhadap perkara ghaib. Dengan itu menjadi agung pahalanya. Dalil yg menunjukkan bahwa siksa kubur dialami oleh roh dan jasad di antaranya ialah hadits bahwa Sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah mau dikembalikan kepada kita akal-akal kita, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Iya, seperti keadaan kalian di dunia ini.” Maka Umar bin Khatthab terdiam dan berhenti berbicara, sebab dia mendengar informasi yg tak dia ketahui sebelumnya. (HR Ibnu Hibban).
 

Di antara dalil yg menunjukkan adanya siksa kubur ialah firman Allah ta’ala:
 

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚ وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ (غافر: 46)

 

Maknanya: “Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yg sangat keras!” (QS Ghafir: 46).
 

Yang dimaksud kaum Fir’aun ialah para pengikutnya yg mengikutinya dalam kemusyrikan dan kekufuran. Kepada mereka ini diperlihatkan neraka satu kali di waktu pagi dan satu kali di waktu petang. Dengan itu, mereka dipenuhi dgn rasa takut yg luar biasa. Hal ini terjadi bukan di akhirat, melainkan sebelum tiba hari kiamat seperti dapat dipahami dari ayat tersebut. Ini juga tak terjadi sebelum mati. Jadi tak ada kemungkinan lain selain hal itu terjadi di alam barzakh, yaitu rentang waktu antara kematian dan kebangkitan.
 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda yg maknanya:
 

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan-kenikmatan, yakni kematian. Karena taklah berjalan satu hari bagi kuburan kecuali ia berkata di dalamnya: Aku ialah tempat keterasingan. Aku ialah tempat kesendirian. Aku ialah rumah dari tanah. Dan aku ialah sarang ulat-ulat. Maka ketika dikuburkan seorang hamba mukmin yg sempurna imannya, kuburan mau berkata kepadanya: Selamat datang, sungguh engkau ialah orang yg paling aku cintai buat berjalan di atasku. Jika hari ini aku diperintah mengurusmu dan engkau telah datang kepadaku maka engkau mau lihat sikap baikku terhadapmu. Lalu kuburan meluas buatnya sejauh mata memandang dan dibukakan buatnya pintu ke arah surga. Ketika dikuburkan orang yg fasiq atau kafir, maka kuburan mau berkata kepadanya: Aku tak suka mau kedatanganmu. Sungguh engkau ialah orang yg paling aku benci buat berjalan di atasku. Jika aku diperintah mengurusmu hari ini dan engkau telah datang kepadaku maka engkau mau lihat perilakuku kepadamu. Maka kuburan pun menghimpitnya hingga merapat dua sisinya, dan dua sisi rusuknya saling memasuki. Perawi berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menyatukan jari-jari tangannya dan memasukkan sebagian ke sebagian yg lain.” Nabi melanjutkan: “Lalu Allah mengirimkan buatnya tujuh puluh naga yg seandainya salah satunya menyemburi bumi maka bumi tak mau tumbuh apapun di atasnya selama dunia ini ada. Lalu tujuh puluh naga tersebut menggigit dan mencakarnya hingga tiba hisab kelak.” (HR at-Tirmidzi)
 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara siksa kubur ialah himpitan kubur. Dua dinding kubur dari kedua arah mau mendekat sehingga tulang-tulang rusuk saling masuk-memasuki. Tulang-tulang rusuk yg ada di sisi kanan mau merapat lalu masuk ke tulang-tulang rusuk di sisi kiri. Di antara siksa kubur juga ialah ketaknyamanan sebab gelapnya kuburan dan kesunyiannya yg mencekam. Di antaranya juga, pukulan malaikat Munkar dan Nakir kepada orang kafir dgn palu dari besi yg bila digunakan buat memukul sebuah gunung maka gunung itu mau hancur lebur. Ketika dipukul, orang kafir itu mau menjerit dgn keras dan didengar oleh semua yg ada di dekatnya kecuali manusia dan jin (HR al-Bukhari dan Muslim).
 

Di antara siksa kubur ialah dikirimkannya ular, kalajengking dan serangga-serangga tanah terhadap seseorang, sehingga menggigitnya dan memakan jasadnya. Dikatakan kepada orang kafir:
 

“Berbaringlah dgn kondisi dicabik-cabik. Maka tak ada satu pun binatang melata di bumi kecuali mendapatkan bagian dari tubuhnya.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak).
 

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yg maknanya:
 

“Dan dikirimkan kepadanya kalajengking dan ular yg bila salah satu darinya menyembur ke dunia maka ia tak mau menumbuhkan sesuatu pun. Lalu ular dan kalajengking itu memakannya, dan bumi diperintahkan buat menghimpit hamba tersebut hingga tulang-tulang rusuknya saling memasuki” (HR ath-Thabarani).
 

Hadirin rahimakumullah,

Imam Abu Dawud dalam Sunannya meriwayatkan dari al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ’anhu bahwa ia berkata: “Suatu ketika kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buat mengantarkan jenazah seorang lelaki dari kaum Anshar. Lalu sampailah kami ke kuburan dan saat itu liang lahat belum dibuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun duduk dan kami duduk di sekeliling beliau dgn diam dan tenang. Di tangan Nabi ada sebuah kayu yg beliau tusuk-tusukkan ke tanah. Lalu Nabi mengangkat kepalanya dan bersabda yg maknanya:
 

“Mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur, mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur,” Nabi mengucapkan itu dua atau tiga kali” (HR Abu Dawud).
 

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yg maknanya:
 

“Mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa Allah, mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur, mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal, mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR Muslim)

Saudara-saudaraku,

Hendaklah diketahui bahwa Allah ta’ala memberikan keamanan dan keselamatan kepada para wali-Nya dari siksa kubur dan kedahsyatan hari kiamat. Allah ta’ala berfirman:
 

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ (يونس: 62)

Maknanya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus : 62)
 

Dari sini diketahui bahwa taklah shahih hadits yg maknanya:
 

“Jika ada seseorang yg selamat dari himpitan kubur, niscaya Sa’d bin Mu’adz selamat darinya.”
 

Berdasarkan hadits yg tak shahih ini, sebagian orang menduga bahwa himpitan kubur mengenai semua orang, mukmin dan kafir. Hadits ini telah dinilai lemah oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi. Kemudian zhahir hadits ini menyalahi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yg maknanya:
 

“Dunia ialah penjara bagi orang mukmin (yg sempurna imannya) dan tempatnya kelaparan, maka bila ia meninggalkan dunia ini dia meninggalkan penjara dan kelaparan” (HR Ahmad, al-Hakim dan lainnya).
 

Sudah maklum bahwa Sa’d bin Mu’adz termasuk salah seorang wali besar di kalangan para sahabat. Beliau meninggal syahid sebab luka yg mengenainya di perang Khandaq. Nabi juga bersabda tentang keutamaannya dalam sabdanya:
 

“’Arsy tergoncang sebab kematian Sa’d bin Mu’adz” (HR al- Bukhari).

Jadi taklah layak bagi orang yg keadaannya mulia seperti ini mau terkena himpitan kubur.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yg penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.
 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Ustadz Nur Rohmad, Anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.


Baca naskah khutbah lainnya:


Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.