Kitab Manba’ussa’adah: Urgensi Menjaga Kesehatan Tubuh dalam Rumah Tangga

“Membangun keluarga, berarti membangun seluruh anggota di dalamnya”. Hemat saya, dan ini sering saya sampaikan, bahwa statmen KH Faqihuddin Abdul Qadir ini merupakan inti sari dari kitab karyanya, Manba’ussa’adah. Sebuah kitab kecil—atau mungkin lebih tepat disebut risalah—yg disusun sebagai refleksi perlawanannya terhadap budaya patriarki, terutama terkait relasi dalam rumah tangga. Statemen itu, disampaikan Kang Faqih saat pembukaan acara Kelas Intensif Ramadhan selama 20 hari bersama 20 ulama perempuan Indonesia pada Ramadhan 1442 H lalu.

 

Secara umum, kitab tersebut membahas ihwal pedoman bagaimana membangun rumah tangga harmonis dgn basis kesalingan (mubialah atau musyarakah). Sebuah gagasan yg dipersiapkan buat melawan budaya patriarki yg dimaksud. Mengingat, cukup banyak yg gagal membangun sakinah dan kedamaian dalam sebuah keluarga yg deras arus budaya patriarkinya.

 

Judul di atas sebenarnya terinspirasi—bahkan dapat disebut terjemah—dari judul yg ditulis Kang Faqih dalam fashal ketiga kitab Manba’ussa’adah. Di sana ia menulis, ‘Al-Fashlu at-Tsalis Ahammiyyatu as-Shihhah al-Injabiyyah fi al-Hayat az-Zaujiyyah’.

 

Kesehatan memang memiliki peran yg sangat besar dalam kehidupan. Semua orang mengetahuinya, namun jarang menyadarinya. Penyesalan mendalam mau muncul dari mereka yg mengabaikan kesehatan dan kesempatannya. Oleh sebab itu, marilah menjaga kesehatan dan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Jauh sebelum ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan dalam Hadist riwayat Abdullah bin Abbas. Nabi bersabda:

 

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ

 

Artinya, “Dua nikmat yg tak diacuhkan oleh manusia kebanyakan; nikmat sehat dan nikmat sempat” (HR al-Bukhari).

 

Penting ditegaskan bahwa Nabi bersabda demikian tak sebagai justifikasi atas kebiasaan buruk umat yg kerap mengabaikan nikmat sehat dan sempatnya. Melainkan, sedang memberi peringatan bahwa dua nikmat besar itu banyak dilalaikan umat. Maka, jangan pernah tak mengacuhkannya.

 

Sebagai bentuk atensi besar kita terhadap kesehatan ialah dgn memenuhi hak-hak tubuh secara sempurna. Dalam fashal pertama, kiai Faqih menjelaskan tiga hak tubuh yg harus dipenuhi. Pertama, hak mengonsumsi makanan yg halal dan bergizi baik (at-taghadzi bi at-thayyib). Kedua, hak atas istirahat yg cukup (akhdzu ar-rohah). Ketiga, hak menyalurkan hasrat seksual secara halal dan layak (talbiyyah al-gharizah al-jinsiyyah).

 

Untuk menciptakan keluarga yg bahagia dan sehat, tentu membutuhkan anggota keluarga yg sehat pula, sebagaimana statemen Kang Faqih di awal. Tanpa itu, curahan cinta dan kasih sayg yg sering kita kenal dgn mawaddah wa rahmah, tak mau tersalurkan dgn baik. Dan ini, pasti berdampak pada sakinah dan taknya sebuah rumah tangga.

 

Perlu dipahami sebelumnya, sehat yg dimaksud Kang Faqih dalam Manba’ussa’adah-nya, ialah sehat dgn segala dimensi maknanya (Ia menyebutnya dgn syamil dan kamil). Menurut Ibu Nyai Arikhah, seorang doktor bidang tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang, juga salah satu narasumber dalam Kelas Intensif Ramadhan kemarin, menafsirkan kata syamil dan kamil tersebut tak hanya secara jasmani. Tetapi juga kesahatan secara emosional, spiritual, sosial, dan lain-lain. Maka, jelas berkontribusi besar buat keharmonisan rumah tangga.

 

Mendapatkan kesehatan yg baik, tak dapat hanya duduk-duduk anteng dan pasrah dgn keadaan, alias semata membebek takdir. Melainkan, harus diusahakan secara maksimal. Fenomena ini cukup banyak terjadi, dan tak dapat disepelekan. Fakta masyarakat kita masih banyak yg sok beriman tinggi. Pasrah kepada apa kata takdir. Padahal, ini justru tanda lemahnya keimanan itu sendiri. Kiai Faqih mengatakan:

 

فلا ينبغي البتة لمن آمن بالنبي صلى الله عليه وسلم واتبع قدوته الحسنة أن يتغافل عن هذه الإرشادات ويتقاعد عن حفظ صحة جسده بدعوى التوكل والإعتماد على الله. فإن التوكل يكون مع الأخذ بالأسباب من أجل الوصول إلى مسبباتها. وبدونه يكون التوكل عن ضعف وعجز

 

Artinya, “Sangat tak dianjurkan bagi yg benar-benar mengimani baginda Nabi ﷺ, dan meneladani jejaknya yg indah nan mulia, buat mengabaikan nasihat-nasihatnya, dan acuh tak acuh terhadap kesehatannya sendiri dgn dalih tawakal dan takdir. Mengingat, tawakal itu harus sejalan dgn upaya-upaya guna mendapatkan apa yg dimaukan. Tanpa itu, klaim tawakal hanyalah bukti lemahnya keimanan” (Manba’ussa’âdah fi Asasi Husnil Mu’âsyarah wa Ahammiyyati at-Ta’âwun wa al-Musyârakah fi al-Hayât az-Zaujiyyah, hal. 30)

 

Sebagai dasar ilmiahnya, Kang Faqih mengutip pendapat Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) dalam karyanya, Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad (juz 2, hal. 331) yg berbunyi:

 

فلا ينبغي للعبْدِ أن يَجعل توكُّلَه عَجْزًا، ولا عَجْزَه توكُّلاً، بل يَجعل توكُّلَه مِن جُملةِ الأسباب المأمور بها التي لا يَتِمُّ المقصودُ إلا بها

 

Artinya, “Tidaklah baik bila seseorang yg dgn klaim tawakalnya justru membuat ia lemah (tak mau berusaha), juga bagi yg enggan berupaya, lalu mengatasnamakan tawakal. Melainkan, klaim tawakal haruslah senapas dgn upaya-upaya yg maksimal sebab itu merupakan bagian yg tak terpisahkan”.

 

Upaya-upaya buat pemenuhan hasanah di dunia, bertali kelindan dgn hasanan yg dijanbilan Allah ï·» di akhirat kelak. Dari sahabat Abu Bakr as-Shiddiq, Rasulullah ï·º bersabda:

 

سَلُوا اللَّهَ الْيَقِينَ وَالْمُعَافَاةَ، فَمَا أُوتِيَ أَحَدٌ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ

 

Artinya, “Mintalah kepada Allah supaya menganugerahkan keyakinan dan keafiatan (kepada kalian). Sebab, tak seorang pun yg diberikan karunia terbaik setelah keyakinan selain keafiatan”. (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, juz 4, hal. 197)

 

Dari hadist ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengklasifikasi fungsi yakin dan afiat tersebut secara poporsional. Ia mengatakan:

 

وَلَا يَتِمُّ صَلَاحُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ إِلَّا بِالْيَقِينِ وَالْعَافِيَةِ، فَالْيَقِينُ يَدْفَعُ عَنْهُ عُقُوبَاتِ الْآخِرَةِ، وَالْعَافِيَةُ تَدْفَعُ عَنْهُ أَمْرَاضَ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ

 

Artinya, “Kebahagiaan dunia-akhirat seseorang tak mau sempurna tanpa keyakinan dan keafiatan. Dengan keyakinan, seseorang dapat melindungi dirinya dari siksa akhirat. Dan, melalui keafiatan, ia mampu memproteksi dirinya dari segala penyakit, baik hati maupun fisik” (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, juz 4, hal. 197).

 

Karena itulah, sang baginda nabi sering kali berdoa dgn doa yg diajarkan Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 201. Doa itu, kerap kita kenal dgn doa sapu jagat. Menurut sahabat Anas bin Malik, menjawab pertanyaan sahabat Qatadah, bahwa doa tersebut ialah yg paling sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ seumur hidupnya. Keterangan ini dapat dijumpai dalam Tafsir Ibnu Katsir (juz 1, hal. 224).

 

Semoga kita senantiasa dikaruniai keyakinan dan kesehatan yg sempurna, supaya dapat menggunakan tubuh ini beribadah lebih lama. Amin. Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni sekaligus pengajar di Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur.





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.