Membahas tentangIni Perbedaan Ghibah, Fitnah, dan Adu Domba

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentangIni Perbedaan Ghibah, Fitnah, dan Adu Domba,

Oase.id- Beberapa hari terakhir, film pendek berjudul Tilik ramai diperbincangkan publik. Meskipun disabilan dalam durasi singkat, film ini mampu menggambarkan berbagai fenomena yg begitu kental bagi masyarakat Indonesia, salah satunya ialah kebiasan ghibah.

Pakar Tafsir Indonesia, Prof KH Quraish Shihab dalam Kosakata Keagamaan menuliskan, kata ghibah diambil dari bahasa arab غيبة dan berasal dari kata غيب, artinya, sesuatu yg tak dijangkau mata. Maka dari itu, sesuatu yg tak terlihat atau tak hadir disebut gaib.

Kata ghibah selanjutnya diserap ke dalam Bahasa Indonesia dan bermakna, bergunjing, membicarakan keburukan (keaiban) orang lain.

Pengertian ghibah sejatinya telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam sebuah majelis ilmu Rasulullah Saw bertanya, “Tahukah kamu, apakah gibah itu?”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat.

“Ghibah ialah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yg tak ia sukai,” jelas Rasulullah.

“Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yg saya bicarakan itu memang sesuai dgn yg saya ucapkan?”

“Apabila yg kamu bicarakan itu benar ada padanya, maka kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yg kamu bicarakan itu tak ada padanya, berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya” (HR. Muslim)

 

Perbedaan Ghibah, Buhtan,  dan Namimah

Syekh Ibrahim Al-Qathan dalam Taisir At-Tafsir mengutip perkataan Al-Hasan Al-Bashri, bahwasanya menggunjing terbagi menjadi tiga, yakni ghibah, buhtan (dusta) dan namimah (adu domba).

Prof. Quraish Shihab mengemukakan, ghibah ialah menyebut, menulis, atau bahkan memberi isyarat dgn tangan atau mata sekalipun menygkut hal buruk atau tak disenangi oleh seseorang yg tak hadir di hadapan yg menyebut, walaupun yg diungkapkan itu benar.

Jika keburukan yg dibicarkan ternyata tak benar, maka ia disebut بهتان (buhtaan) yg bermakna kebohongan besar.

Baca juga: White Lies Alias Berbohong untuk Menyenangkan Orang Lain, Bolehkah?

 

Adapun masyarakat Indonesia biasanya menyebut perkataan bohong dgn kata fitnah.

Dalam KBBI, fitnah berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dgn maksud menjelakkan orang, seperti menodai nama baik dan merugikan kehormatan orang. Sedangkan dalam Bahasa Arab, istilah fitnah justru memiliki makna berbeda.

Berbeda lagi bila ada upaya untuk menimbulkan keretakan hubungan antara satu pihak dgn pihak lainnya, meskipun berita itu benar adanya, perbuatannya disebut namimah (adu domba).

Larangan ghibah dalam Islam

Ghibah ialah dosa dan perbuatan tercela. Allah Swt juga berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), sebab sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yg suka memakan daging saudaranya yg telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayg.”(QS. Al-Hujurat: 12)

Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam Ma’alimut Tanziil menyatakan, ayat ini diturunkan sebab ada dua orang lelaki yg menggunjing kawan mereka.

Rasulullah Saw bersabda;

“Jauhilah prasangka buruk, sebab prasangka buruk ucapan yg paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yg bersaudara.” (HR. Bukhari)

Perbuatan ghibah amat tercela, orang yg melakukannya bahkan diumpamakan memakan bangkai saudaranya sendiri. Oleh sebab itu, sebagaimana kita enggan memakan bangkai sesama manusia, jauhi pula membicarakan keburukan orang lain di belakangnya.

 

Refrensi: Ma’alimut Tanziil karya Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Taisir At-Tafsir karya Syekh Ibrahim Al-Qathan, Kosakata Keagamaan karya Quraish Shihab

(SBH)

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentangIni Perbedaan Ghibah, Fitnah, dan Adu Domba . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.