Membahas tentangProf Quraish Shihab: Islam Ibarat Bangunan

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentangProf Quraish Shihab: Islam Ibarat Bangunan,

Oase.id- Beberapa pekan lalu, Pemerintah Mesir menganugerahkan bintang tanda kehormatan tingkat pertama bidang Ilmu Pengetahuan dan Seni kepada cendekiawan Muslim Indonesia, Profesor Muhammad Quraish Shihab.

Quraish Shihab merupakan Menteri Agama Indonesia pada masa Soeharto. Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) ini dikenal sebagai ahli tafsir yg telah melahirkan puluhan karya tulis.

Penganugerahan diserahkan Perdana Menteri Mesir Musthafa Kamal Madbouli, mewakili Presiden Abdul Fattah al-Sisi pada pembukaan Konferensi Internasional tentang Pembaharuan Pemikiran Islam di Al-Azhar, Kairo, 27-28 Januari 2020.

Bintang tanda kehormatan yg dianugerahkan Pemerintah Mesir itu lazim diberikan kepada tokoh, ulama, dan cendekiawan dunia yg dianggap berjasa dalam melakukan pembaharuan di bidang pemikiran Islam dan menyebarkan pemahaman Islam yg moderat dan toleran.

Apa yg dimaksud pembaruan? Bagaimana cara penerapannya dalam Islam? Berikut ialah penjelasan Prof Quraish Shihab melalui taygan NewsMaker Medcom.id, yg dikutip Oase.id pada Sabtu, 22 Februari 2020.

 

Tidak mengubah fondasi

Prof Quraish menjelaskan bahwa pembaharuan merupakan salah satu unsur penting yg perlu diterapkan dalam keberagamaan. Tujuannya, supaya pesan-pesan agama dapat tetap dipahami dan dijalani umat manusia meskipun dalam masa, tempat, dan kondisi masyarakat yg berbeda-beda.

“Agama itu ibarat suatu bangunanan. Ia berfondasi. Jika sebuah rumah mengalami kebocoran, maka perlu diperbaiki cukup dgn mengganti satu atau dua buah gentinya saja. Hanya perlu memperbaiki yg telah tak berfungsi. Bukan untuk mengubah fondasi dan bentuk bangunan. Itulah yg dinamakan pembaruan,” terang Quraish Shihab.

Untuk itu, menurut dia, pembaruan Islam hanya dapat dilakukan oleh tokoh atau ulama yg benar-benar paham dgn struktur keagamaan secara keseluruhan. Ide pembaruan, harus berumber dari orang yg telah selesai dgn pemahaman keagamaan yg pokok dan turunannya.

“Jika pembaruan dimotori oleh yg belum paham mana maqashid syariah, dasar-dasar agama, atau rinciannya, maka yg terjadi bukan pembaruan, tapi perubahan. Itu yg tak kita kehendaki,” kata dia.

 

Ketetapan hukum berbeda

Lebih lanjut, Prof Quraish menerangkan bahwa prinsip utama dalam gerakan pembaruan Islam ialah tak bertolak belakang dgn syariat. Jika pun menghasilkan ketetapan hukum yg beragam, itu telah sangat lazim di sepanjang sejarah peradaban Islam.

“Perbedaan itu mutlak. Islam pun dalam rinciannya dapat berbeda-beda. Islam di Indonesia, mungkin secara rinci dan tradisinya dapat dgn masyarakat Muslim di Arab,” kata Quraish.

Prof Quraish mencontohkan ketetapan hukum beragam yg menjadi landasan sejarah lahirnya banyak mazhab dalam Islam.

Baca: Mengenal Aneka Tafsir Al-Qur'an Karya Ulama Indonesia dan Ide Penamaan Al-Mishbah

 

“Imam Abu Hanifah di Persia, memiliki ketetapan hukum berbeda dgn ketentuan yg diajarkan Imam Syafii yg hidup di Mesir. Begitu pun Imam Syafii sendiri, menghadirkan pandangan berbeda ketika beliau masih di Irak dgn ketika telah berada di Mesir,” jelas Quraish.

Ketetapan hukum yg berbeda-beda tak lahir begitu saja. Keberagaman tersebut dapat hadir lantaran pertimbangan kerangka berpikir seseorang, zaman, tempat, serta kondisi dan tradisi masyarakat di dalamnya.

“Nabi Daud dan Nabi Sulaiman menghadapi satu kasus yg sama, tapi ketetapan hukum mereka berbeda. Ada juga cerita, Imam Ghazali pernah didatangi dua orang yg bertanya apakah dirinya boleh berenang? Ketetapan hukum yg dikeluarkan Imam Ghazali berbeda, diperbolehkan bagi yg telah pandai berenang, dan tak diperbolehkan bagi yg belum pandai,” jelas dia.

Selain tak bertentangan dgn prinsip pokok dan ajaran utama Islam seperti keesaan Allah Swt, pengakuan terhadap Rasulullah Muhammad Saw dan beberapa ketentuan lain, dalam melakukan pembaruan juga dibutuhkan banyak pertimbangan lain.

“Jika sebuah pembaruan menimbulkan goncangan di tengah masyarakat, berarti ada yg keliru. Bisa jadi, kegaduhan itu muncul sebab ide yg disampaikan, cara penyampaian, atau penerapannya yg memang tak pas,” kata dia.

 

Menyikapi perbedaan

Proses berikutnya yg tak kalah penting ialah sikap arif dalam menyikapi perbedaan yg dihasilkan. Untuk soal ini, bahkan Prof Quraish menitik-beratkan perlunya toleransi yg tak hanya berlaku di internal Islam, mau tetapi meluas kepada seluruh agama dan keyakinan lain.

“Ada orang yg menganggap ketika berbeda keyakinan atau agama tak boleh bekerjasama. Itu keliru. Sebab, yg Anda hadapi dapat saja saudara seagama, kalau tak, ya, saudara dalam kemanusian. Sementara agama dan kemanusiaan tak boleh dipertentangkan,” kata dia.

Agama dan kemanusiaan sama-sama menawarkan pentingnya kasih sayg. Praktiknya ialah dgn tetap saling tolong menolong dan bekerja sama meskipun dalam kondisi identitas dan latar belakang yg berbeda-beda.

“Jangan menilai bahwa menghormati keyakinan orang lain otomatis mengakui kebenarannya. Itu dua hal yg berbeda. Dalam kondisi tersebut, berarti kita hanya sedang mengakui eksistensi yg lain dan meyakinkan bahwa bekerja sama itu tetap penting dilakukan di tengah perbedaan yg ada,” ujar Prof Quraish.

 

(SBH)

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentangProf Quraish Shihab: Islam Ibarat Bangunan . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.