Membahas tentangMengapa Tiktok Makin Digemari? Ini Alasan dan Dampaknya Secara Psikologis

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentangMengapa Tiktok Makin Digemari? Ini Alasan dan Dampaknya Secara Psikologis,

“Entah apa yg merasukimu… hingga kau tega menghianatiku, yg tulus mencintaimu…” 

 

Adakah yg membaca kalimat di atas sembari berdendang dan refleks membuat gerakan-gerakan tangan? Ya, itu ialah penggalan lirik dangdut yg belakangan ini viral berkat aplikasi Tiktok. Tembang berjudul “Salah apa?/Entah apa yg merasukimu” ini kerap digunakan sebagai latar musik dalam video pendek yg diproduksi dan disebarkan di aplikasi tersebut.

Short-form mobile video application “Tiktok” memang cukup menarik perhatian netizen beberapa tahun belakangan. Aplikasi yg berasal dari Tiongkok yg dikembangkan sejak 2016 ini berhasil menjadi destinasi prominen kebanyakan warganet di seluruh dunia ketika mau memproduksi video pendek dan menyebarkannya. 

Bahkan, Tiktok termasuk dalam Top 4 most downloaded social application. Sebagian besar pengguna dan penikmatnya ialah anak muda, dgn proporsi tertinggi berusia di bawah 30 tahun. 

 

Kecenderungan era media baru

Pertanyannya, kenapa anak muda cenderung tertarik untuk menggunakan dan menikmati aplikasi Tiktok?  Untuk menjawab pertanyaan itu, bolehlah dirangkai dgn pertanyaan awal, mengapa pengguna media sosial sering kali dikenal sebagai user, bukan audience atau penonton?

Penjelasannya, terletak pada telah bergesernya fokus relasi antara penyedia layanan (communicator) dgn pengguna layanan.

Di era media baru, user telah menjadi sentral dari relasi tersebut. Pengguna tak lagi bersifat pasif, namun justru diberikan kontrol untuk memproduksi dan menyebarkan konten. 

Tiktok menggunakan konsep relasi ini dalam pendekatannya kepada user. Selain itu, aplikasi tersebut juga berusaha memfasilitasi user untuk dapat bebas berekspresi senyaman mungkin. 

Kontrol dan kebebasan bereskpresi merupakan dua variabel yg dipuja kalangan anak muda. Hal ini disebabkan keduanya identik dgn kemandirian dan kedewasaan. 

Kehadiran Tiktok menjadi jalan pintas bagi para remaja untuk mengambil kontrol penuh dan mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Belum lagi, iming-iming bonus mencapai ketenaran dan menjadi micro-selebrities membuat banyak orang  berekspektasi mau pengakuan yg diberikan pengguna lain atas aksi yg dilakukan. 

Sebuah studi kualitatif juga pernah merumuskan beberapa alasan yg melatar-belakangi penggunaan aplikasi Tiktok. Dalam riset itu ditemukan, alasan paling populernya ialah untuk mengatasi rasa bosan dan menghibur diri. 

Temuan lainnya lebih berkaitan dgn upaya mengasah bakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian pengguna Tiktok memiliki kedapatan dalam menari, mengedit video, atau pun mengkonsep skenario. Kehadiran Tiktok dapat menjadi media untuk mengasah kemampuan dan berpeluang menunjukkannya kepada dunia. 

Faktor berikutnya, sebab adanya rekomendasi dari teman. Sebagai remaja, tentunya pertemanan dan kelompok memiliki peran yg sangat signifikan dalam pemenuhan identitas diri. Remaja terbiasa berkelompok dan mengerjakan berbagai hal bersama-sama. Penawaran Tiktok untuk konten video yg dibuat bersama, cukup koheren dgn kebiasaan tersebut. 

 

Keunggulan dance content

Lantas, mengapa di antara sekian banyak alternatif konten video, banyak warganet cenderung tertarik dgn dance content (konten tarian)? 

Silakan scroll down aplikasi Tiktok-mu, dan temukan fakta bahwa sebagian besar konten dipenuhi dgn aksi menari atau membuat gerakan tertentu sebagai ekspresi terhadap musik yg mengirmauya.

 

Baca: Menyimpulkan Penyakit dari Internet alias Self-diagnosis, Bahayakah? 

 Jawabannya, cukup sederhana. Yakni, sebab tarian merupakan aktivitas rekreasi yg dapat membantu seseorang mengatasi rasa bosan. Motif di balik aktivitas menari ialah upaya meningkatkan mood. Apalagi bila koreografi yg ditampilkan tak rumit dan dikemas dalam durasi yg cukup pendek.

 

Kontrol diri dan pengawasan

Untuk sementara, memang banyak manfaat yg dapat didapatkan dalam menggunakan aplikasi ini. Latar belakang yg muncul dalam kecenderungan minat yg besar terhadap Tiktok pun banyak dilandasi alasan psikologis. 

Akan tetapi, apakah itu berarti kita boleh terus menerus menggunakannya? Hold your phone, guys! Simak dulu penjelasan berikut, tepatnya tentang beberapa dampak yg memungkinkan muncul saat menggunakan Tiktok. Tujuannya, supaya kita dapat lebih bijak dalam menggunakannya. 

Lagi-lagi, Tiktok dapat diposisikan sebagai media bagi seseorang untuk mengasah dan menunjukkan bakat yg dimiliki. Tiktok, juga membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi terkenal.

Studi lainnya menggaris-bawahi dampak positif Tiktok secara psikologis. Pengkondisian yg diberikan untuk menunjukkan diri dan tak perlu malu mengekspresikannya, secara tak langsung dapat  meningkatkan kepercayaan diri untuk tampil. 

Feedback positif dari pengguna yg lain dapat menjadi penguatan positif (reinforcement positive) yg makin mengukuhkan keyakinan atas diri sendiri. Namun probabilitas seseorang dalam memperoleh feedback negatif juga sama besarnya dgn yg bernilai positif. 

Pada fase inilah, Tiktok kemudian berpeluang menghadirkan dampak negatif -yg dapat jadi- berkaitan dgn body shaming, racist comment, atau lack of appreciation terhadap karya orang lain. 

 

Untuk itu, penting bagi kita memfilter diri dari berbagai bentuk penilaian. Tidak semua penilaian layak untuk dipertimbangkan, apalagi diinternalisasikan ke dalam diri. 

Tiktok dapat menjadi sebuah kelas mandiri untuk mempelajari dan meniru hal-hal baru yg menarik perhatian. Siapa saja diperkenankan membuat konten dan meniru konten orang lain. 

Beberapa tokoh influencer berhasil menggunakan “kelas” ini sebaik mungkin dgn mencontohkan penggunaan Tiktok untuk mengumpulkan dana sosial atau pun kampanye isu-isu sosial. Tidak sedikit juga para dokter menggunakan media ini untuk menyebarkan informasi yg sesuai dgn profesi mereka. 

Namun, kelas tanpa guru tentunya tetap rentan dgn penyalahgunaan atau kesalahpahaman. Contohnya, video pendek “skull breaker challenge” yg belakangan ini trending dan ternyata berdampak negatif bagi pelakunya.

Sulit bagi kita mengontrol terjadinya aksi mengimitasi challenge tersebut. Ini merupakan contoh dampak negatif lainnya yg perlu diantisipasi semua pengguna. 

Setelah memahami berbagai dampak Tiktok, bolehlah disimpulkan bahwa banyaknya alasan yg dapat melatar-belakangi sebuah perilaku, tak menjamin kebaikan yg dapat diperoleh darinya. Apalagi, bila  perilaku tersebut dilakukan secara eksesif. 

Kenyataannya, segala sesuatu yg berlebihan selalu bergandgn dgn ketak-baikan, viral menunjukkan sebuah penyebaran yg terjadi begitu saja, bahkan, terkadang tanpa disertai kesadaran mau alasan dan manfaatnya bagi diri sendiri. 

Untuk itu, penting bagi sekali menjaga self awareness sehingga seseorang tak hanya mengandalkan refleks dalam berperilaku di media sosial.

 

Rubrik ini diampu Psikolog Remaja Muharini Aulia (@auliyarini). Pertanyaan lebih lanjut dapat dilakukan dgn mengubungi redaksi Oase.id 

(SBH)

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentangMengapa Tiktok Makin Digemari? Ini Alasan dan Dampaknya Secara Psikologis . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.