Membahas tentangMenyimpulkan Penyakit dari Internet alias Self-diagnosis, Bahayakah? 

Pada kesempatan ini kami mau mengulas tentang Membahas tentangMenyimpulkan Penyakit dari Internet alias Self-diagnosis, Bahayakah? ,

Oase.id- Ketika menggunakan mesin pencari internet, semisal Google, apa sih yg biasanya kita cari: Pelajaran di kelas, informasi selebriti, atau masalah kesehatan?

Sebuah survey yg dilakukan di Amerika Serikat (AS) pada 2010 menunjukkan bahwa 88% orang dewasa pengguna internet memanfaatkan mesin pencari untuk mendapatkan informasi kesehatan.

Bagaimana dgn remaja? Penelitian lainnya mengungkapkan, sebesar 84% remaja juga menggunakan internet untuk mendapatkan keterangan seputar kesehatan. Sementara 33% di antaranya secara spesifik mencari informasi tentang gejala penyakit dan diagnosa.

Artinya, serupa orang dewasa, remaja juga cenderung memiliki kebutuhan terhadap informasi kesehatan.

 

Konsultasi instan

Di sisi lain, internet memang kerap dijadikan solusi instan untuk memecahkan berbagai permasalahan dan pertanyaan yg dihadapi. Makin banyaknya platform yg menyediakan informasi kesehatan dan konsultasi gratis, menjadikan internet layak mendapat gelar “pertolongan pertama” versi milennial.

Motivasinya, ketimbang buru-buru mengeluarkan uang hanya untuk membayar konsultasi langsung dgn dokter, lebih baik mengecek informasi dan pengetahuan seputar yg dikeluhkan terlebih dahulu melalui seabrek konten yg tersedia di jagat maya.

Solusi baru yg praktis ini membuat beberapa di antara kita membangun kebiasaan untuk mendiagnosa diri sendiri atau self-diagnosis. Pertanyaannya, bolehkah?

Sebelum era internet, sebenarnya kebiasaan mendiagnosa diri biasa dilakukan banyak orang ketika merasakan gejala-gejala ringan yg telah familier, seperti flu, batuk dan masuk angin. Self-diagnosis seperti ini dilakukan dgn mengandalkan pengalaman atau informasi dari orang lain untuk menyimpulkan sakit yg dirasakan.

Setelah kehadiran internet, gejala-gejala baru pun dapat teridentifikasi penyebab atau jenis penyakitnya hanya dgn bermodal jari dan paket data. Pengetahuan ini membuat beberapa orang secara refleks menegakkan diagnosa atas keluhannya sendiri, baik yg berkaitan dgn penyakit fisik, maupun gangguan psikologis. 

Dampak negatif yg utama dari self-diagnosis ialah besarnya potensi kesalahan dalam mendiagnosa. Baygkan, bila seseorang dgn cepat mendiagnosa benjolan di leher sebagai tumor, atau kebiasaan sulit tidur di malam hari sebagai gangguan depresi?

Tentunya, diagnosa yg tak mendasar cuma mau memunculkan kepanikan dan rasa cemas yg berlebihan. Lebih-lebih, bila kita keburu mengambil tindakan untuk menangani hasil self-diagnosis tersebut dgn mencari obat yg disebutkan dalam informasi yg didapat, namun tanpa anjuran langsung dokter.

Ingat, mengkonsumsi obat yg salah justru mau memperburuk kondisi atau memunculkan permasalahan yg seharusnya tak ada.

 

Cemas berlebih

Beberapa tahun belakangan, banyak penelitian dilakukan untuk menjelaskan suatu kondisi psikologis yg diidentifikasi setelah kemunculan internet. Kondisi psikologis ini dikenal dgn cyberchondria.

Cyberchondria ialah kondisi ketika seseorang secara eksesif atau berlebihan mencari informasi mengenai gejala suatu penyakit maupun gangguan melalui internet. Orang dgn jenis ini juga meyakini bahwa dirinya mengidap penyakit atau gangguan tersebut.

Para ahli menggambarkan adanya kecemasan yg besar pada orang-orang jenis seperti itu yg disebabkan oleh informasi kesehatan yg telah diterimanya.

Polanya, dimulai ketika seseorang merasakan suatu gejala, kemudian mencari tahu informasi tersebut di internet. Setelah informasi diperoleh, dia langsung menggap hal itu sebagai permasalahan yg dihadapinya. 

Lantas, keyakinan itu kembali memunculkan kecemasan yg mendorong seseorang untuk melanjutkan pencarian informasi di internet. Aktivitas pencarian yg terus menerus dilakukan demi mempertegas kecemasan yg ada hingga tanpa sadar malah membentuk siklus kecemasan yg tak terputus.

Dan ternyata, memiliki informasi yg banyak juga dapat membawa dampak negatif, ya?! Terutama, bila kita tak bijak dalam mengelola dan menggunakannya.

Mudah dan murahnya informasi saat ini perlu diimbangi dgn filter diri supaya tak dgn cepat mengeneralisasi. Yang perlu diingat lagi, memang, informasi dari internet dapat membantu kita dalam menjaga kesehatan dan mendeteksi kondisi medis tertentu sedini mungkin, mau tetapi kita juga harus menyadari adanya keterbatasan pengetahuan dan kemampuan diri untuk menegakkan diagnosa.

Karena, “merasa sakit” sama berbahayanya dgn sakit yg sebenarnya. 

 

Tips menghindari dampak buruk self-diagnosis

Berikut ialah beberapa langkah yg dapat dilakukan supaya terhindar dari kecenderungan self-diagnosis;

  • Sering-seringlah mencari informasi kesehatan yg lebih positif dan bersifat promosi dari pada kurasi. Misalnya, mencari informasi gaya hidup sehat, makanan sehat, dan sejenisnya.

 

  • Jika mengalami gejala tertentu dan mau mencari informasinya di internet, batasi informasi yg dicari dan berhati-hati dalam mencari kesamanaan antara penjelasan yg ditemukan dgn kondisi kita yg sebenarnya. Ada baiknya mengajak diskusi teman atau keluarga tentang konten informasi yg didapatkan.

 

  • Ketahui kapan harus berhenti mencari. Kita harus lebih aware terhadap aktivitas berselancar di internet. Kemudahan mendapat informasi tambahan dgn sekali “klik” dapat membuat kita secara terus menerus mencari informasi yg sama. Adanya kesadaran bahwa kita telah menyelami informasi ini terlalu lama di internet dapat memaksa diri kita untuk berhenti. Ini ialah alarm untuk segera mengkonsultasikan gejala yg kita alami ke pihak yg professional secara langsung. 

 

Rubrik ini diampu Psikolog Remaja Muharini Aulia (@auliyarini). Pertanyaan lebih lanjut dapat dilakukan dgn mengubungi redaksi Oase.id 

(SBH)

Demikianlah ulasan mengenai Membahas tentangMenyimpulkan Penyakit dari Internet alias Self-diagnosis, Bahayakah?  . apabila ada pertanyaan dapat dgn menuliskan pada kolom komentar dibawah ini.

terima kasih





Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.