6 Syarat Mengamalkan Amalan Hikmah

Amalan hikmah memiliki syarat-syarat tertentu bagi siapa yang akan mengamalkannya. Tujuannya, agar supaya amalan hikmah menjadi berkah dan sesuai syariat. Menjaga agar amalan hikmah tetap sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah enam syarat dalam mengamalkan amalan hikmah. Silahkan Anda pahami benar-benar agar dalam mengamalkan amalan hikmah anda dapat memperoleh hasil maksimal dan mendapat ridho Allah SWT.

 

  • Beragama Islam. Sebab amalan hikmah merupakan amalan-amalan yang sesuai dengan syariat Islam.
  • Ikhlas dan Rendah Hati. Mengikuti dan menjalankan apa yang diajarkan guru sesuai kemampuan diri dan ikhlas dengan apa yang didapat dari berkah dan manfaat amalan yang dilakukannya. Apabila sudah mendapatkan hasil tidak boleh sombong, tetap bersikap rendah hati.
  • Niat Baik. Amalan hikmah akan bermanfaat jika dilakukan untuk kebaikan, tidak untuk kesombongan atau niat yang kurang baik. Seperti misalnya : amalan hikmah mahabbah, kekayaan, keselamatan, kecerdasan, keberuntungan. Amalan-amalan tersebut harus diniati untuk kebaikan.
  • Berfikir positif. Mulai dari diri sendiri, lalu kepada guru dan kepada ALLAH. Bahwa setiap kesulitan hidup tersebut ada hikmah yang dapat diseleseikan dengan amalan hikmah pula. Berfikir positif itu kita harus yakin, bahwa amalan hikmah itu baik dan setiap kejadian atau masalah itu juga baik. Adapun sekarang yang terjadi masalah tentu ada kebaikannya dimasa yang akan datang.
  • Menjauhi dosa besar. Amalan hikmah masih tetap ada di tubuh orang selama menjauhi dosa-dosa besar seperti berjudi, zina besar, mabuk-mabukkan, mencuri, penyalahgunaan narkotika, kafir, syirik,
  • Ijazah dari guru. Ilmu yang memiliki kekuatan adalah ilmu yang langsung didapat dari Ijazah seorang guru. Ijazah artinya sang guru mengizinkan bahwa ilmu tersebut boleh diamalkan oleh sang murid. Sehingga manfaatnya banyak, adapun apabila guru juga yang membimbing murid setiap ada kesulitan dalam mendalami suatu ilmu.

Demikian adalah penjelasan singkat mengenai enam syarat mengamalkan amalan hikmah. Jika ada yang kurang jelas, Anda bisa menghubungi nomor telepon yang ada di halaman ini. Insya Allah, kami siap menjawab semua pertanyaan Anda dengan senang hati.

 

Amalan hikmah adalah suatu amalan kerohanian yang diambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an, yang diamalkan dengan tujuan tertentu. Dalam Ayat-ayat Al-Qur’an sangat banyak fungsinya yang dapat di manfaatkan dalam berbagai hal. Karena dalam amalan hikmah sendiri masih dibagi lagi tingkat kematangan ilmunya, bila seseorang hamba ikhlas mengamalkannya dan telah diamalkan dalam waktu yang lama, maka amalan hikmah itu sendiri akan mendarah daging dalam tubuhnya atau menyatu dan sudah menjadi kebiasaan untuk mengamalkannnya.

 

Maka Allah SWT akan mengabulkan dan memenuhi permintaan hambanya tersebut, lantaran ayat-ayat Al-Qur’an yang diamalkannya, insyallah bila kita dalam keadaan yang terdesak atau mengancam nyawa kita, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan melalui para malaikatnya. Amin.

 

Karakter yang Wajib Dimiliki Pembelajar Ilmu Hikmah

ilmu hikmahBelajar ilmu hikmah bukanlah hal yang mudah, tidak pula susah. Hal itu bergantung pada masing-masing individu yang sedang mendalaminya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa ilmu hikmah merupakan ilmu tingkat tinggi karena pada dasarnya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatannya kepada Allah akan mengantarkannya kepada makrifatullah (mengenal Allah).

Derajat seseorang yang telah mengenal Allah secara mendalam dia akan dikategorikan sebagai seorang waliyulloh. Sama halnya para nabi yang telah mengenal Tuhannya, mereka mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah.

Namun, untuk memperoleh tempat khusus tidaklah gampang diperolehnya. Sifat-sifat yang terpuji dan akhlakul karimah haruslah dijunjung tinggi. Maka dari itu, seorang pengamal ilmu hikmah atau orang yang telah belajar ilmu hikmah haruslah belajar menanamkan sifat-sifat mahmudah di dalam dirinya. Karena dengan memiliki sifat terpuji Allah akan senantiasa menjaga dan memberikan keistimewaan kepadanya.

Sebaliknya, Allah akan sangat murka kepada orang-orang yang berbuat keji dan mungkar. Maka dari itu, untuk mendapatkan hikmah-hikmah luar biasa atas ridho Allah, tentunya sebisa mungkin menghindari hal-hal maksiat, merugikan diri sendiri maupun orang lain, tidak membuat kerusakan di bumi, dan perbuatan buruk lainnya.

Setidaknya orang yang belajar ilmu hikmah harus mempunyai 9 karakter positif. Karakter-karakter tersebut akan menjaganya dari kemaksiatan. Berikut ini 9 karakter yang harus dimiliki seorang pengamal ilmu hikmah.

  1. Jujur

Sangat dianjurkan seorang pengamal ilmu hikmah memiliki sifat jujur. Jujur berarti tidak berbohong. Jujur merupakan salah satu sifat terpuji yang dimiliki nabi meliputi 4 hal yaitu sidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fatonah (cerdas).

Sangat merugi jikalau kebohongan melekat pada diri seseorang karena hal itu akan berdampak buruk pada dirinya sendiri maupun orang lain. Karena sering sekali orang berkata bohong, tidak akan lagi dipercaya. Inilah akibat dari kebohongan-kebohongan yang dilakukan.

Jujur merupakan salah satu ajaran agama. Hal itu sesuai dengan surat Al-Ahzab 70-71, yang artinya Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

  1. Menepati Janji

Orang yang ingkar janji merupakan musuh besar Allah. Hal ini sesuai dengan sabda nabi “Ada tiga golongan di hari kiamat nanti yang akan menjadi musuh-Ku. Barangsiapa yang menjadi musuh-Ku, maka Aku akan memusuhinya. Pertama, seorang yang berjanji setia kepada-Ku, namun mengkhianatinya. Kedua, seorang yang menjual orang lalu memakan hasil penjualannya. Ketiga, seorang yang mempekerjakan seorang buruh, namun setelah pekerja tersebut menyelesaikan pekerjaannya, orang tersebut tidak memberinya upah.” (HR. Ibnu Majah).

Janji adalah hutang maka dari itu haruslah ditepati. Ingkar janji bukanlah sifat seorang kesatria. Tentu saja Anda sangat benci ketika teman Anda mengingkari janji yang sudah diucapkan pada waktu sebelumnya. Pantang ingkar janji merupakan salah satu karakter yang harus ada dalam diri seorang pengamal ilmu hikmah.

  1. Selalu Membantu Orang yang Meminta Pertolongan

Ya, berbuat baik kepada sesama tentu saja akan kembali padanya. Artinya, seseorang yang berbuat baik, memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan, dan mengurangi beban orang yang sedang terkena masalah, Allah akan memudahkan urusannya. Itulah janji-nya.

Sebagai makhluk sosial, saling membantu dan memberikan pertolongan bagi yang mampu merupakan ajaran Rasul. Itulah yang diperintahkan nabi kepada para umatnya agar manusia dapat hidup saling tenggang rasa sehingga kerukunan dapat terjalin.

Begitu juga seorang pengamal ilmu hikmah, tentu saja akan diminta bantuan oleh orang yang membutuhkan. Karena pada dasarnya, orang yang belajar ilmu hikmah dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan dengan hikmah-hikmah yang dimiliki. Orang yang belajar ilmu hikmah, secara otomatis akan mendapatkan perlindungan dari Allah jikalau segala perbuatan baik ia lakukan dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Hal ini sama halnya seorang kyai atau ustadz yang biasanya diminta bantuan oleh masyarakat karena dia telah terpandang di lingkungan masyarakatnya. Mereka dianggap memiliki kedekatan kepada Allah sehingga sering sekali orang yang meminta doa dan pertolongan oleh masyarakat. Bukankah sebagai seseorang yang hidup di lingkungan masyarakat harus saling memberikan bantuan? Allah pun akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dalam menolong sesama umat manusia.

  1. Sabar dan Ikhlas

Sabar dan ikhlas merupakan suatu hal yang mudah diucapkan, tetapi sangat sukar untuk dilaksanakan. Itulah yang dirasakan sebagian besar orang. Memang benar demikian. Akan tetapi, sabar dan ikhlas bisa diwujudkan bila benar-benar terus dilatih. Ketika seseorang sudah terlatih, kesabaran tentu saja bukan hal mustahil mampu mengendalikan amarahnya ketika sedang diuji kesabarannya. Allah pun menyukai orang yang selalu bersabar dalam menjalani kehidupannya meski berbagai rintangan menghadang.

Sesuai dengan janji-Nya pula Allah akan selalu memberikan pertolongan kepada hamb-Nya yang membutuhkan. Hal ini terdapat dalam QS. Al-Baqoroh ayat 153 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesung-guhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.”

Begitu juga sifat ikhlas yang harus dimiliki seorang pengamal ilmu hikmah. Semuanya butuh dilatih agar tetap mampu menguasainya. Seseorang yang baik hatinya akan berusaha keras untuk mewujudkan sifat ikhlas agar selalu dicintai dan dilindungi Allah dari segala marabahaya.

Pengamal ilmu hikmah akan menjadi orang yang bijak lantaran memiliki sifat sabar dan ikhlas. Orang bijak tentu saja haruslah berpikir jernih. Kejernihan pikiran dilandasi dengan ketenangan hati yang bersumber dari sifat sabar serta ikhlas.

  1. Menghindari Dosa-Dosa Besar

Dosa besar sangatlah dibenci dan dilaknat Allah. Kebahagiaan tidak akan diperoleh ketika seseorang melakukan salah satu perbuatan dosa besar. Dosa besar di antaranya adalah mencuri, berzina, minum-minuman keras, berjudi, memakan harta anak yatim, dan sebagainya. Apalagi perbuatan syirik yang tidak akan mendapatkan pengampunan kecuali sebelum meninggal dia telah bertaubat. Orang yang belajar ilmu hikmah tidak akan memperoleh perlindungan ketika ia melakukan perbuatan maksiat yang satu ini.

Orang yang melakukan perbuatan dosa besar tidak akan dapat belajar ilmu hikmah karena hal itu akan bertolak belakang. Maka dari itu, hindarilah perbuatan maksiat sebisa mungkin agar terhindar pula dari dosa-dosa besar yang mungkin sengaja atau tidak Anda lakukan.

  1. Selalu Menjadikan Allah sebagai Tempat Meminta dan Berlindung

Di dalam surat Al-fatihah dijelaskan bahwa Allah adalah zat yang disembah dan merupakan tempat meminta segala pertolongan. Sifat inilah yang harus tetap dijaga dan dijadikan prinsip bagi pengamal ilmu hikmah. Maka dari itu, sudah semestinya Allah merupakan zat yang tepat untuk diminta pertolongan karena Dia adalah penguasa segala makhluk.

Menggantungkan permasalahan kepada manusia bukan hal yang tepat. Karena sesungguhnya manusia memiliki keterbatasan. Maka dari itu, memintalah hanya kepada Allah. Segala persoalan yang menjadi beban setiap insan, Allahlah yang menciptakannya, tentu saja Dia memiliki gudang solusi. Tetap selalu dengan kerendahan hati dan pasrah kepada-Nya, insya Allah permasalahan apa pun dapat diatasi.

  1. Banyak bersyukur

Orang yang bersyukur akan ditambah nikmat dan orang yang ingkar terhadap nikmat, maka Allah akan memberikan azab. Itulah salah satu ketentuan-Nya. Orang yang pandai bersyukur akan sangat beruntung karena hatinya terlatih untuk menerima segala hal yang diberikan kepadanya. Hal ini akan dapat menghindari diri dari kejahatan hati yang mencoba melekat di dalam dirinya. Orang yang selalu bersyukur akan mudah bahagia karena memiliki sikap qonaah (selalu menerima yang diperoleh) karena ikhlas menerima segala apa yang diberikan Allah kepada-Nya. Apakah pemberian itu sedikit atau banyak. Orang yang ahli syukur akan tetap merasakan kenikmatan yang diberikan kepadanya dalam keadaan apa pun.

  1. Tidak Dendam dan Mudah memaafkan

Dendam merupakan salah satu penyakit hati yang harus dibasmi. Orang yang menyimpan rasa dendam berarti hatinya masih belum bersih dan suci. Maka dari itu, jika rasa dendam masih menempel pada diri seseorang, akan susah belajar ilmu hikmah.

Salah satu syarat belajar ilmu hikmah adalah hatinya harus suci, jauh dari penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri seseorang. Maka dari itu, mencoba untuk mengikhlaskan sekaligus memaafkan segala kesalahan orang lain adalah hal penting agar memiliki hati yang bersih. Memanglah tidak gampang untuk dapat melakukannya.

Namun, berusaha untuk melatihnya akan lebih baik daripada menyimpan dendam yang sangat tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri karena rasa sakit hati yang masih tersimpan. Dengan demikian, mengolah hati menjadi berkualitas dengan cara memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang adalah penting.

  1. Tidak Sombong

Sombong merupakan salah satu sifat iblis. Maka dari itu, Allah tidak berkenan menempatkan iblis di surga. Itulah mengapa sifat sombong harus dihindari bagi orang yang belajar ilmu hikmah. Jangan merasa telah memiliki ilmu hikmah kemudian angkuh. Justru orang yang sombong meskipun telah belajar ilmu hikmah atau mengamalkan amalan-amalan hikmah tertentu, dia tidak akan memperoleh keberkahan dan manfaat. Hikmah-hikmahnya pun akan sirna seiring dengan sifat sombong yang dibanggakan.

Pengamal ilmu hikmah seyogianya harus memiliki sikap tawadhu’ dan selalu merendah. Karena orang yang selalu bersikap demikian akan disegani dan dihormati oleh orang sekitar atau lingkungannya. Tawadhu’ adalah hal yang disukai Allah sehingga orang-orang sholeh selalu dekat kepada Allah karena ketawdahu’annya.

Orang –orang yang belajar ilmu hikmah harus memiliki sifat-sifat yang dapat dicontoh. Setidaknya kesembilan karakter di atas dapat dimiliki oleh orang-orang yang ingin belajar ilmu hikmah dengan sempurna sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai. Karena pada dasarnya, Allah akan memberikan hikmah-hikmah atau keberkahan hanya kepada hamba yang dikehendakinya saja. Maka dari itu, selalu berlatih menjaga hati dan melakukan perbuatan yang terpuji sangat diprioritaskan.

Para kekasih Allah tentu saja akan mendapatkan keistimewaan di sisi Allah jika ia benar-benar beribadah dengan sebaik-baiknya. Selalu beramal soleh, berbuat baik kepada sesama, taat menjalankan perintah, menghindari hal-hal yang menjerumuskan kepada kemaksiatan, dan selalu istiqomah dalam beribadah. Dengan demikian, Allah akan selalu memberikan perlindungan dan pertolongan kepada umat-Nya yang benar-benar beriman dan bertakwa.

Rajah dan Amalan Hikmah

>

Rajah dan amalan hikmahSeiring dengan berkembangnya ilmu hikmah yang ada di masyarakat secara luas, banyak sekali orang memanfaatkan ilmu hikmah untuk berbagai kepentingan tujuan hidupnya. Termasuk di dalamnya beragam media maupun doa-doa yang digunakan untuk memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kemudahan dalam mencapai hal yang diinginkan. Tentunya hasrat yang dimaksud adalah untuk hal yang positif, demi kebaikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Berbagai sarana spiritual yang digunakan untuk memperoleh tujuan tertentu sangatlah berguna bergantung pada pengguna dan pengamalnya. Salah satu media yang mampu dijadikan sebagai media untuk mendapatkan hajat yang diinginkan yaitu rajah. Di antara Anda mungkin ada yang belum tahu apa itu rajah.

Rajah sama artinya dengan wifiq yang memiliki definisi sebuah tulisan-tulisan tertentu yang mengandung energi sekaligus memiliki kekuatan ghaib dan berkhodam sebagai sarana azimat untuk maksud dan keinginan tertentu bagi yang menghendakinya. Rajah ditulis oleh seorang guru atau ahli ilmu hikmah. Penulisan rajah biasanya berupa tulisan arab, angka-angka, gambar, huruf-huruf tertentu atau simbol-simbol yang diketahui hanya oleh yang membuatnya. Selain itu, di dalam rajah terdapat kode sandi yang sangat banyak sekali kurang lebih sekitar 10.333 kode sandi.

Pendapat Ulama’ Tentang Rajah

RajahRajah termasuk azimat atau sering dikenal dengan istilah jimat. Para ulama’ berbeda pendapat akan hal ini. Sebagian pendapat para ulama ada yang mengatakan bahwa orang yang menggunakan jimat termasuk perbuatan syirik. Hal itu dikarenakan mereka meyakini adanya kekuatan selain di luar Allah.

Hal ini ditegaskan dalam sabda nabi yang berbunyi, “Barangsiapa yang bergantung kepada jimat, maka Allah tidak akan menyempurnakan (kese­hatannya).” (HR. Ahmad dan al­Hakim). Ada juga riwayat lain yang mengatakan, “Barangsiapa yang memakai jimat, maka sungguh ia telah syirik.” (HR. Ahmad dan al­-Hakim, dan dishahihkan al-­Albani

Beberapa ulama’ yang melarang menggunakan jimat adalah Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Ugbah bi Amir, dan Ibnu Akim. Mereka berdalil pada hadits Ibnu Mas’ud yang mendengar Rasulullulah SAW bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna termasuk asyirik.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Hadits merupakan perkataan nabi yang tidak bisa ditelan mentah-mentah. Orang yang menafsirkannya secara apa adanya tentu saja bisa salah paham akan hal ini. Ya, jimat bisa menjadi syirik apabila penggunaannya diyakini sepenuhnya sebagai sumber kekuatan dan mengesampingkan kebesaran Allah.

Salah seorang ulama ternama yaitu Imam Ath-Thayyibi mengatakan bahwa jika seseorang meyakini bahwa jimat tersebut mempunyai kekuatan dan bisa mempengaruhi (merubah sesuatu), tentu saja hal itu sangat bertentangan dengan kekuasaan Allah. Selain itu, Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa pengguna jimat sama dengan melakukan pekerjaan ahli syirik apabila mereka meyakini jimat sebagai penolak takdirnya yang sudah tercatat.

Di sisi lain, Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan hukum orang menggunakan jimat (rajah) adalah mubah (boleh) jika digunakan untuk hal-hal yang diperbolehkan syari’at dan jika digunakan untuk melakukan hal haram, maka hukumnya adalah haram.

Dari beberapa pendapat tersebut, jelas sudah bahwa apabila seseorang yang memanfaatkan rajah hanya digunakan sebagai sarana saja dan Allah yang merupakan pusat pengabul segala keinginan, maka hal itu tidaklah menjadi soal. Sama halnya ketika seseorang yang sedang sakit kemudian meminum obat dari dokter, lantas menjadi sembuh, tentu saja bukan obat yang menyembuhkan, melainkan Allah yang memberikan kesembuhan. Sedangkan obat hanya sebagai sarana.

Menggunakan rajah sebagai sarana tentu saja bertujuan untuk memberikan manfaat, kebaikan, dan beragam hal positif lain dengan maksud menyelesaikan persoalan hidup yang sedang dihadapi. Orang yang menulis rajah bukanlah sembarangan. Dia harus mengetahui dan memahami setiap apa yang ditulisnya sekaligus hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu, penulis rajah adalah orang dekat dengan Allah yaitu seorang guru, spiritualis, atau ahli ilmu hikmah.

Aturan Menulis Rajah

Menulis RajahSelain itu, menulis rajah pun terdapat beberapa aturan yang harus dipenuhi agar hikmah-hikmah maupun energi positif benar-benar merasuk ke dalam huruf-huruf, angka-angka, atau simbol-simbol yang dituliskan. Aturan tersebut bisa berupa tata cara penulisan, waktu, media yang digunakan untuk menulis.

Misalnya saja dalam menulis rajah sebelumnya harus berwudhu (dalam keadaan suci) atau melakukan salat sunah terlebih dulu, menulisnya pun menghadap kiblat, waktu-waktu tertentu seperti tengah malam atau sepertiga malam terakhir, penggunaan tinta maupun kertas atau media lain yang sesuai, sebelumnya membaca doa terlebih dulu, dan aturan lainnya. Penulisan rajah yang tidak berdasarkan aturan akan berpengaruh pada khasiat atau hikmah yang akan diperolehnya manfaatnya kelak.

Sejatinya, rajah yang telah ditulis oleh seorang ahli ilmu hikmah dengan tata cara yang sesuai, dapat memiliki fadhilah luar biasa bagi penggunanya. Di dalamnya terdapat energi positif, khodam, serta kekuatan ghaib yang mampu memberikan perlindungan dan pertolongan berbagai permasalahan kepada para penggunanya.

Tentu saja hal itu digunakan hanya sekadar sebagai sarana memperoleh keinginan yang diharapkan. Sedangkan kekuatan terbesar hanyalah dimiliki Allah SWT. Dialah yang Maha berkuasa atas segala-galanya. Tetapkan dan yakinkan hati dengan memohon bantuan hanya kepada Allah melalui sarana rajah yang telah ditulis sesuai dengan aturan.

Akan tetapi, dalam menuliskan rajah harus memperhatikan beberapa hal agar bermanfaat dan tidak merusak akidah. Syarat-syarat tersebut adalah harus menggunakan kalam Allah, sifat Allah, asma (nama) Allah atau sabda nabi, menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami makna atau artinya, dan tertanam keyakinan bahwa rajah yang digunakan sebagai jimat itu tidak dapat memberi pengaruh apa pun, tetapi hanya karena takdir dan kekuasaan Allah SWT hajat dapat terkabul.

Menggunakan Rajah Sekaligus Amalan Hikmah

Secara prinsip, antara rajah dengan amalan hikmah memiliki perbedaan. Rajah biasanya digunakan sebagai azimat yang berupa tulisan-tulisan arab, angka-angka, maupun simbol-simbol yang memiliki kekuatan ghaib dan bersifat positif. Aturan penggunaannya pun beragam, misalnya ditempelkan di dinding kamar, rumah, pintu, maupun tempat-tempat tertentu. Bisa juga harus selalu dibawa ke manapun kecuali ketika masuk ke dalam kamar mandi.

Adapun amalan hikmah merupakan sebuah amalan atau laku tirakat batin dengan melakukan ritual tertentu atau membaca doa-doa, wirid, maupun bacaan-bacaan tertentu yang telah diajarkan oleh para nabi, sahabat, wali, bahkan para ulama untuk memperoleh derajat kemakrifatan di sisi Allah. Tidak semua orang mampu mencapai tingkat makrifatullah (mengenal Allah).

Hanya orang-orang yang hati dan jiwanya bersih yang mampu mengenal Allah sehingga dapat memperoleh maunah (pertolongan) dari-Nya. Ketika seseorang telah mencapai makrifat, tentu saja Allah lebih dekat dengan hamba-Nya. Karena kedekatan itulah, segala rahmat, berkah, dan pertolongan akan terlimpah kepada hamba yang benar-benar taat dan berbakti kepada-Nya.

Pastinya untuk dapat melakukan amalan hikmah harus dibimbing oleh seorang guru, spiritualis, atau ahli ilmu hikmah. Karena amalan hikmah berkaitan dengan daya batin dan hati, maka harus ada seseorang yang ahli di bidangnya agar tidak terjerumus oleh kesesatan. Bisa juga nanti akan dapat berakibat buruk pada kondisi jiwanya.

Maka dari itu, peran guru ilmu hikmah sangatlah penting untuk dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada orang-orang yang ingin melakukan amalan hikmah. Orang-orang yang sering berdzikir (mengingat Allah) dengan cara membaca kalimat-kalimat toyibah dapat meningkatkan daya spiritualitasnya sehingga Allah akan dengan segera memberikan apa yang diinginkan hamba-Nya itu.

Sebenarnya, orang yang hanya menggunakan rajah saja sudah mampu merasakan hikmah luar biasa. Karena di dalam rajah termaktub berbagai tulisan-tulisan arab yang bersumber dari kalam Ilahi dan mengandung energi serta kekuatan ghaib positif. Sehingga dapat membantu memberikan pertolongan kepada orang yang memakinya dengan Allah sebagai pusat kekuatan dan kekuasaan.

Apalagi jika rajah tersebut disertai dengan sebuah amalan hikmah khusus yang dapat menunjang terwujudnya keinginan, tentu hal itu akan memberikan daya yang lebih kuat lagi. Dengan demikian, ketika rajah disertai dengan amalan hikmah khusus yang sesuai dengan keinginan para penggunanya sebagai media untuk memperoleh ridho dan pertolongan dari Allah, pastinya akan memberikan manfaat yang sangat dahsyat dan luar biasa.

Pada dasarnya, antara rajah dan amalan hikmah dapat berdiri sendiri digunakan atau diamalkan untuk dapat diambil berbagai manfaat yang terkandung di dalamnya. Masing-masing memiliki hikmah luar biasa bergantung pada tingkat keyakinan dan kepercayaan seseorang terhadap kekuasaan Allah dalam membantunya menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapi. Akan tetapi, apabila keduanya dipadukan, tentu saja akan memberikan hikmah yang lebih besar lagi.

Gabungan kedua unsur tersebut antara rajah dan amalan hikmah, mampu memberikan penunjang daya energi positif yang lebih besar lagi sehingga mampu memberikan sumbangsih yang lebih tinggi dan besar. Sehingga dengan demikian, bukan hal mustahil keinginan dapat segera terwujud atau bahkan dapat memberikan manfaat-manfaat yang melebihi ekspektasi di luar dugaan pengguna maupun pengamalnya.

Pentingnya Ilmu Hikmah di Masa Modern

Ilmu HikmahTidak dapat dipungkiri, kebutuhan manusia setiap saat selalu kian meningkat. Baik kebutuhan secara fisik (primer, sekunder, bahkan tersier) maupun nonfisik (batiniah). Apalagi di masa globalisasi saat ini, keperluan hidup manusia yang cenderung hedonis menuntut keinginan mereka untuk selalu terpenuhi. Bukan berarti kehidupan sekarang harus menjadikan seseorang yang mesti hidup mewah, tetapi kondisi perkembangan zaman yang harus diikuti agar dipandang sebagai orang yang tak ketinggalan zaman.

Selain itu, untuk membekali diri agar hidup di masa modernisasi diperlukan pengetahuan. Wawasan yang luas mengindikasikan seseorang mampu mengetahui kondisi perkembangan masa. Segala ilmu yang berkembang di masyarakat sudah semestinya diketahui untuk mengimbangi perubahan zaman yang semakin canggih.

Segala fasilitas yang serba digital, terlebih lagi media internet yang semakin mudah didapat sangat memungkinkan segala pengetahuan bisa dipelajari. Semua informasi tentu saja lebih gampang diketahui karena akses internet begitu murah dan mudah untuk diperoleh di zaman sekarang ini. Berbeda pada zaman dulu yang cukup susah untuk mendapatkan informasi, berita, bahkan pengetahuan.

Maka dari itu, setiap orang sudah selayaknya membekali diri dengan berbagai ilmu. Termasuk di dalamnya yakni ilmu hikmah. Mendengar istilah ilmu hikmah seakan membawa pikiran kita kepada daya spiritualitas ketuhanan. Ya, ilmu hikmah memang suatu kajian ilmu daya batin yang membahas daya rohani, batin, moral, mental, maupun kejiwaan. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan ketenangan hati dan pikiran untuk menciptakan sebuah kebahagiaan yang hakiki.

Belajar Ilmu Hikmah

Banyak sekali orang di zaman dulu mempelajari ilmu hikmah sebagai media untuk mendekatkan diri kepada ilahi. Bahkan ilmu hikmah diburu untuk mencari daya kekuatan sebagai perlindungan. Misalnya saja di sebuah pondok pesantren atau perguruan ilmu bela diri yang sangat banyak mempelajari ilmu hikmah dengan tujuan untuk meningkatkan daya batin sehingga menjadi orang yang kuat. Mereka belajar ilmu hikmah sebagai pelengkap jurus-jurus ilmu bela diri yang sedang dipelajarinya. Khususnya dalam hal membangkitkan bahkan meningkatkan tenaga dalam.

Belajar ilmu hikmah sangat berkaitan erat dengan berbagai amalan hikmah maupun laku tirakat. Amalan-amalan hikmah seperti membaca asmak, hizib, bacaan wirid, maupun belajar ilmu khodam sangat erat kaitannya dengan ilmu batin yang dipelajari di pondok pesantren kuno atau perguruan silat tertentu.

Selain itu, pada masa silam, berbagai budaya yang berkembang di masyarakat seakan-akan mengharuskan untuk mempelajari ilmu hikmah sebagai benteng diri. Aneka bahaya yang menyerang bisa saja terjadi terhadap orang yang tidak disukainya. Misalnya saja adanya santet, sihir, pelet, dan sebagainya yang merupakan ilmu hitam yang digunakan seseorang untuk memperoleh tujuan tertentu bersifat negatif. Bahkan sampai sekarang pun ilmu hitam masih dipergunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk mencelakai orang.

Banyak orang yang tidak suka dengan kebahagiaan, kesuksesan, kesejahteran, bahkan kekayaan seseorang sehingga mereka melakukan serangan secara ghaib. Maka dari itu, mereka membutuhkan ilmu hikmah untuk menangkal semua serangan-serangan bersifat merugikan yang sewaktu-waktu menyerangnya.

Namun, ilmu hikmah bukanlah bersifat menyerang, tetapi bersifat defensif (bertahan) terhadap setiap bahaya yang mengancam. Tidak hanya serangan terhadap bahaya, tetapi juga mampu untuk melindungi diri dari segala musibah, seperti kecelakaan. Karena orang yang belajar ilmu hikmah akan mendapat maunah (pertolongan) dari setiap amalan hikmah yang dilakukannya.

Berhubung ilmu hikmah adalah ilmu spiritual sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, tentu saja Dia akan memberikan pertolongan kepada setiap hamba yang taat dan dekat dengan-Nya. Segala persoalan hidup bisa teratasi atas pertolongan-Nya.

Ilmu Hikmah di Zaman Modern

Hingga saat ini ilmu hikmah masih berkembang di masyarakat dan masih dibutuhkan untuk kepnetingan dan tujuan tertentu. Meski zaman modernisasi telah menyediakan berbagai fasilitas kehidupan untuk melindungi diri, bukan berarti ilmu hikmah diabaikan begitu saja. Justru perkembangan zaman yang sedang terjadi saat ini, lebih banyak lagi kejahatan yang merajalela dalam kehidupan. Maka diri itu, ilmu hikmah sangat diperlukan sebagai benteng diri dari berbagai bahaya.

Seperti yang kita ketahui bahwa ilmu hikmah telah ada sejak zaman dulu, bahkan di masa peradaban kehidupan para Nabi. Banyaknya orang yang belajar ilmu hikmah pada masa lalu, menjadikan ilmu ini fenomenal karena hikmah-hikmah di dalamnya sangat luar biasa sehingga mampu mengatasi berbagai permasalahan hidup. Segala masalah merupakan sebuah cobaan atau ujian yang diberikan oleh-Nya. Namun, ketika seseorang telah dekat dengan-Nya, Allah tentu saja akan membantunya keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.

Meski zaman semakin berkembang dalam kehidupan masa kini, khasiat di dalam ilmu hikmah tidaklah berubah. Hikmah-hikmah di dalamnya tetap bisa dirasakan bagi para pengamalnya yang sungguh-sungguh dan benar-benar ikhlas dalam mengamalkannya.

Kehidupan modernisasi yang semakin menjadi tuntutan, justru kian banyak memunculkan persoalan hidup yang dihadapi. Contohnya masalah yang berkaitan dengan ekonomi, kesehatan, percintaan, kebahagiaan, keamanan, keselamatan, dan sebagainya. Segala persoalan hidup yang semakin kompleks, menjadi beban tersendiri. Terlebih pada zaman modern seperti ini yang terus mengalami perkembangan zaman.

Ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit, tentu saja hati tidak akan bisa tenang dan pikiran pun menjadi kalut hingga menyebabkan gangguan baik secara fisik maupun mental. Hingga akhirnya berdampak pada kesehatan.

Beragam masalah yang sering muncul di antaranya adalah tentang kesehatan. Dewasa ini, banyak sekali berbagai penyakit baru bermunculan sehingga dunia medis pun tak mampu untuk mengatasinya. Padahal, sebenarnya setiap penyakit tentu saja ada obatnya. Seperti sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dari shabat Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya.”

Segala penyakit yang ada, semua bersumber dari Allah. Dia pun telah menyediakan obatnya. Hanya saja, memang manusia terkadang belum mengetuhi secara pasti cara mengobatinya. Namun, hal itu sangatlah mudah bagi Allah untuk mengangkat penyakit yang diderita seseorang.

Adanya ilmu hikmah yang masih erat kaitannya dengan pancaran daya batin seseorang terhadap kedekatnnya dengan Allah, bukanlah hal yang mustahil penyakit tertentu yang tergolong susah disembuhkan oleh ahli medis, dapat disembuhkan dengan mudah.

Saat ini mungkin Anda banyak menjumpai berbagai pengobatan dengan terapi secara islami yang berkembang di masyarakat. Ya, hal itu merupakan salah satu media memanfaatkan ilmu hikmah sebagai metode pengobatan. Entah berupa sarana-sarana seperti air, madu, berbagai amalan, atau doa-doa tertentu yang digunakan untuk meminta kepada Allah atas kesembuhan terhadap penyakit-penyakit yang tergolong sukar untuk disembuhkan.

Sama halnya dengan kondisi ekonomi atau orang yang menginginkan kekayaan. Masalah ekonomi adalah hal yang paling umum terjadi di masyarakat. Ingin keluar dari jeratan hutang, memiliki kesuksesan, memperoleh kekayaan yang diidamkan adalah hal yang menjadi dambaan setiap orang.

Tentu saja usaha lahiriah saja belum tentu menjadi sebuah solusi masalah yang dihadapi karena belum mampu menuntaskan secara maksimal. Hal itu harus disertai dengan upaya batin dengan cara meminta petunjuk Allah untuk keluar dari masalah hidup yang sedang dihadapi itu. Salah satunya yaitu dengan menggunakan ilmu hikmah sebagai jembatan perantara komunikasi seorang hamba dengan Allah agar keluar dari kesulitan ekonomi.

Kebahagiaan yang setiap orang tidak dapat memilikinya pun merupakan salah satu masalah hidup seseorang. Kesedihan mendalam karena hal tertentu seperti masalah kekayaan, hubungan asmara, keselamatan, dan lainnya adalah persoalan yang harus segera dituntaskan agar tidak berdampak buruk terhadap kondisi fisik maupun mental seseorang.

Ilmu hikmah yang merupakan ilmu spiritual memprioritaskan Allah sebagai sumber penyelesaian segala masalah yang dihadapi. Berbagai amalan, doa, bacaan, maupun wirid dapat dipelajari dengan seorang guru hikmah yang mampu membimbing dan mengarahkan sehingga kelak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Belajar ilmu hikmah harus dibimbing seorang guru yang mampu memberikan arahan dan bimbingan agar tidak tersesat bahkan terjerumus oleh godaan setan. Karena pada dasarnya, mempelajari suatu ilmu terutama ilmu agama, apalagi ilmu hikmah harus dibimbing seorang guru yang telah mengetahui dan mencapai derajat makrufatullah (mengenal Allah).

Meskipun Anda hidup pada masa modern seperti ini, mempelajari ilmu hikmah merupakan hal yang sangat vital untuk kepentingan baik diri sendiri maupun orang lain. Banyaknya bahaya yang muncul dan berbagai kesulitan hidup yang semakin bermunculan menjadi hal yang perlu diselesaikan agar kelak tidak menjadi sesuatu yang membebani dalam hidup.

Selain itu, untuk mewujudkan sebuah impian tertentu dapat dupayakan di samping melakukan usaha lahiriah, upaya batiniah pun sudah semestinya ditempuh agar memperoleh hasil yang optimal. Selalu mendekatkan diri kepada Allah adalah salah satu jalan menuju kebahagiaan hakiki sehingga hidup menjadi lebih mudah dijalani dan selalu memperoleh petunjuk serta pertolongan-Nya.

Pandangan Para Ulama Terhadap Ilmu Hikmah

Ilmu HikmahPada dasarnya ilmu hikmah berasal dari keyakinan seseorang yang memanfaatkan berbagai doa, wirid, amalan yang bersumber dari kitab suci dengan tujuan tertentu. Doa-doa, dzikir, wirid, atau bacaan yang bersumber dari Al-Quran atau kalimat berbahasa arab memberikan manfaatkan bagi para pengamalnya jika digunakan untuk kebaikan.

Ilmu hikmah yang merebak dan dipelajari oleh banyak orang bukan berarti tidak ada perbedaan pandangan di kalangan para ulama’ dalam menanggapinya. Tentu saja ada beberapa ulama’ yang berbeda pendapat dan tidak mengakui keberadaannya karena hal itu bisa tergolong syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan meyakini hal-hal lain selain Allah.

Seperti yang dijelaskan dalam QS Annisa’: 48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa yang dikehendkai-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia telah berbuat dosa yang besar.”

Amalan hikmah lebih condong pada bacaan-bacaan yang dibuat oleh manusia yang sebagian besar disusun oleh para ulama’. Ajaran itu pun tidak dicontohkan oleh rasul pada masanya dan digolongkan sesuatu yang bid’ah.

Ilmu hikmah yang di dalamnya terdapat beberapa ajaran dengan tujuan untuk memperoleh maksud tertentu dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Seperti amalan hizib, asma’, ilmu khodam, berbagai macam sholawat, dan amalan-amalan lain yang tidak diajarkan pada masa Nabi sehingga amalan tersebut tidak sesuai dengan tuntunan pada zaman beliau.

Sebagian ulama’ beranggapan bahwa amalan ilmu hikmah bukanlah sebuah ajaran dari Rasulullah dan merupakan sebuah susunan kalimat berbahasa arab yang dibuat oleh seorang ulama’ sehingga bukanlah sebuah ajaran murni dari rasul. Terkadang bacaan kalimat tersebut diambil dari acuan sumber Al-Quran yang disusun secara runtut agar dapat diambil fungsinya. Bukankah Al-Quran itu merupakan kalam ilahi yang sudah tersusun dengan baik atas kehendak Allah? Mengapa banyak orang yang mengambil bagian demi bagian untuk dijadikan sebagai kebutuhan duniawi belaka?

Selain itu, banyak sekali ilmu hikmah yang mengajarkan melakukan tawasul (perantara) melalui orang-orang soleh. Padahal, ada sebagian yang berpendapat bahwa bertawasul tidak diperkenankan. Ada juga yang berpendapat bahwa tawasul diperbolehkan asal dengan amal kebaikan sendiri, bukan melalui mediasi orang.

Seperti pada sebuah hadis sahih yang sangat populer. Diceritakan ada tiga orang yang terperangkap di dalam gua sehingga mereka tidak bisa keluar. Dalam kisah tersebut, ketiga orang yang terperangkan di dalam gua melakukan tawasul dengan masing-masing amal yang telah mereka lakukan. Orang pertama bertawasul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya. Orang kedua bertawasul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjauhi perbuatan tercela meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Orang ketiga bertawasul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh. Dengan tawasul melalui amalan kebaikan mereka, akhirnya Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Bertawasul dengan mengharap dari keberkahan seseorang, bukan dari sebuah amal perbuatan itu sendiri menjadi perbedaan di kalangan para ulama’. Akan tetapi, sebagian besar ulama’ mengatakan bertawasul melalui kesalehan orang-orang yang dikasihi Allah bukanlah hal yang menjadi masalah. Hal itu diperbolehkan.

Seperti yang dikatakan oleh nabi “Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)

Imam Syaukani menyebutkan bahwa tawasul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada orang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. “Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau orang yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.”

Memohon dan meminta untuk segala kebutuhan seseorang merupakan sebuah ibadah dengan bersandar kepada Allah SWT dan itu merupakan sebuah doa yang bernilai ibadah. Karena Allah menyuruh hamba-Nya untuk berdoa agar tidak dikategorikan orang yang sombong. Karena doa adalah sebuah ikhitiar secara batin setelah usaha lahiriah yang usai ditempuh.

Cara berdoa sangatlah beragam yakni dapat melalui berbagai amalan, wiridz, dzikir, atau hal-hal yang semacamnya yang ditujukan dan diniatkan hanya kepada Allah. Sedangkan amalan, wirid, dzikir, itu adalah sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena pada dasarnya ilmu hikmah adalah sebuah ilmu spiritual yang berisi beragam amalan dan doa untuk bertabaruk kepada Allah. Ketika seseorang dekat dengan Allah secara otomatis segala keinginan yang diharapkan dapat terwujud.

Permasalahan yang dihadapi oleh seseorang jika tidak segera diatasi tentu akan menjadi buruk baginya. Hal ini akan mempersulit dan menjerumuskannya pada perasaan putus asa. Tentu Allah sangat membenci orang-orang yang putus asa karena masalahnya yang belum tuntas terselesaikan. Maka dari itu, perlu berbagai upaya dalam menghadapi segala persoalan hidup yang diderita, salah satunya dengan menggunakan ilmu hikmah.

Allah pun tidak akan memberikan sebuah solusi jika orang tersebut tidak mau berusaha. Seperti dalam firmannya dalam QS. Ar-Ro’du: 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. ”

Berusaha untuk mencapai sebuah tujuan tertentu adalah suatu kewajiban bagi setiap insan. Usaha ini tentunya secara lahir maupun batin. Ketika seseorang telah mengupayakan usaha secara lahiriah, untuk menopang dan menguatkan hasilnya tentu disertai dengan usaha batin, yaitu berdoa dan meminta kepada Allah dengan cara dan metode yang diyakininya.

Adapun berbagai amalan dalam ilmu hikmah merupakan sebuah usaha batiniah yang dapat dilakukan bagi siapa pun dengan tetap memohon kepada Allah melalui berbagai amalan yang diajarkan dalam website ini. Bagi kami, ilmu hikmah bukan merupakan sumber pemecah segala persoalan, melainkan hanya sebagai sebuah sarana untuk membantu memudahkan seseorang dalam mengatasi segala permasalahan kehidupan yang dihadapi. Sedangkan Allah yang sebenarnya pemberi pertolongan dan pemberi kekuatan.

Berdoa merupakan suatu kewajiban seorang hamba karena Allah telah memerintahkan akan hal itu. Adapun berdoa memiliki tata cara yang beragam dengan bacaan-bacaan yang bermacam-macam pula. Di antaranya dengan berdzikir, membaca wirid, membaca sholawat, membaca kalimat-kalimat toyyibah (kalimat yang baik), melakukan amalan tertentu, dan sebagainya. Untuk itu, sangat dianjurkan untuk membaca doa-doa yang telah diajarkan oleh para nabi dan orang-orang setelahnya termasuk juga para ulama’ yang diyakini memiliki kesalehan luar biasa.

Peran Mahar dalam Pembelajaran Ilmu Hikmah

Mahar Ilmu HikmahMempelajari ilmu hikmah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seperti ilmu-ilmu pengetahuan lain. Namun juga tidak sesulit yang dibayangkan sehingga sangat sukar untuk memilikinya. Asal para pembelajar ilmu hikmah bersunguh-sungguh dan berusaha keras untuk melakukannya. Butuh pengorbanan, perjuangan, dan keikhlasan hati untuk mendapatkannya sehingga benar-benar mampu menguasai sepenuhnya.

Pada zaman dulu, orang belajar ilmu hikmah pergi kepada seorang guru yang diyakini memiliki kemampuan spiritual tinggi. Mereka mencari seseorang yang mampu membimbingnya dalam mendalami ilmu agama, ilmu bela diri, sekaligus ilmu hikmah. Ada juga orang yang hanya ingin mencari ilmu hikmah saja.

Untuk bertemu dengan seorang guru ilmu hikmah dibutuhkan waktu dan tenaga yang keberadaan sang guru jauh dari tempat tinggalnya dengan ditempuh berjalan kaki. Bahkan terkadang belum mengetahui siapa guru yang nanti akan membimbingnya. Namun, keinginan untuk memperoleh ilmu yang diharapkan sangat kuat sehingga mereka benar-benar tetap bersi kukuh mencari guru hikmah meski belum mengetahui orang yang tepat untuk dijadikan seorang guru.

Pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu itulah merupakan sebuah harga yang harus dibayarkan agar mereka mendapatkan sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu, keikhlasan dalam mengamalkan berbagai ilmu dari seorang guru haruslah diprioritaskan. Tanpa keihklasan yang kuat tentu saja akan sulit untuk menguasai ilmu hikmah yang dipelajari.

Di zaman modern seperti ini tentulah berbeda pada zaman dulu yang masih secara tradisional dalam mencari ilmu hikmah. Entah berkaitan dengan jarak, tenaga, waktu, dan sebagainya. Meski saat ini merupakan era globalisasi, namun masih banyak orang yang mencari ilmu hikmah karena setiap orang memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dan keinginana yang diharapkan dapat terwujud, maka dia mempelajari ilmu atau amalan hikmah sekaligus mengharap keberkahan dari ilmu yang dipelajarinya itu.

Mahar dalam Ilmu Hikmah

Dalam mempelajari ilmu hikmah, ijazah yang diberikan oleh seorang guru kepada murid tentunya diganti dengan sejumlah mahar. Hal ini bukanlah sesuatu yang asing di telinga para ahli hikmah. Mahar merupakan sejumlah biaya sebagai ganti pengijazahan dalam memberikan ilmu hikmah kepada seorang murid.

Ini menjadi hal penting agar proses dalam mempelajari suatu ilmu hikmah memperoleh keberkahan yang melimpah dari seorang guru. Tentu saja pemberian mahar harus disertai dengan keikhlasan yang semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah karena sebagai wujud penghargaan kepada pemberi ilmu.

Namun, bukan berarti orang zaman dulu memperoleh ijazah dari sang guru tanpa sebuah mahar. Setiap pengijazahan tetap menggunakan mahar karena itu sebuah syarat agar ilmu yang dipelajari kelak berhasil dan memberikan hikmah luar biasa.

Secara sekilas pencari ilmu hikmah pada zaman memang dulu tidak menggunakan mahar. Padahal dalam arti kata yang lain, mahar merupakan suatu pemberian. Bentuk pengorbanan dan perjuangan untuk menemui sang guru yang begitu susahnya bahkan ditempuh dengan jalan kaki yang terkadang belum diketahui siapa sang gurunya merupakan mahar yang diberikan sebagai usaha untuk memperoleh suatu ilmu dari sang guru.

Hal itu sangat berbeda pada masa sekarang yang semuanya serba modern. Mempelajari ilmu hikmah pun tidak perlu mencari seorang guru yang jaraknya begitu jauh dan belum diketahui sang guru hikmah itu sendiri. Banyak sekali guru hikmah yang kini mengajarkan keilmuannya di beberapa media.

Namun, sikap selektif untuk mencari dan memperoleh guru ilmu hikmah yang tepat merupakan suatu hal yang tidak mudah. Maka dari itu, setiap orang harus cermat dalam mencari dan menentukan guru ilmu hikmah yang sekiranya sesuai dengan kondisi dirinya.

Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan Hadits nabi yang berbunyi “Man arodaddunya fa’alaihi bil’ilmi, wa man arodal akhiroh fa ‘alaihi bil ’ilmi. Wa man arodahuma fa’alaihi bil ‘ilmi.”

Artinya adalah “Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, maka dengan ilmu.” Hal ini jelas bahwa kedudukan ilmu sangatlah penting dalam kehidupan umat Islam yang menginginkan kebehagiaan baik di dunia maupun akhirat.

Setiap ilmu baik ilmu pengetahuan, ilmu sains, ilmu agama, dan sebagainya memerlukan sebuah penghargaan dalam bentuk yang beraneka macam. Demikian juga dengan ilmu hikmah yang tentu harus mendapatkan penghargaan.

Sebagai pengganti jasa karena telah mengajarkan suatu keilmuan, setidaknya mahar itulah sebagai pengganti jasa seorang guru yag telah membimbing sehingga menguasai suatu keilmuan. Hal itu tentu sama halnya dengan seorang guru yang mengajar muridnya di sekolah, atau guru les privat, seorang dokter, atau profesi lain yang membutuhkan jasa yang digunakannya.

Pernah suatu ketika salah seorang Abu Sa’id Al Khudri ra, berkata, ”Rasulullah SAW telah mengutus kami pada suatu peperangan 30 pengendara. Maka turunlah kami di suatu kaum orang Arab. Lalu kami minta mereka untuk menjadikan kami tamu mereka, tetapi mereka menolak. Kemudian ketua suku mereka disengat Kalajengking. Kemudian mereka berkata, ‘Apakah pada kamu ada seseorang yang bisa menjampi (berdoa meminta kesembuhan) dari sengatan kelajengking? Maka aku katakan. “Ya, aku. Akan tetapi, aku tidak melakukannya sehingga kalian memberikan kami sesuatu.”

Mereka menjawab, “Kami akan berikan kalian 30 kambing.” Abu Sa’id berkata, “maka aku baca Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin (surat Al-Fatihah 7x) atas sengatan tersebut.” Maka ketika kami menahan diri sehingga mendatangi Nabi SAW. Maka kami sebutkan demikian itu kepada beliau. Lalu Nabi menjawab, “Dari mana kamu mengetahui bahwa Al-Fatihah itu adalah sebuah doa? Bagi-bagilah kambing itu dan buatlah untukku bersamamu.”

Ada juga seorang sahabat Nabi berkata, “Aku telah mengambil upah atas kitab Allah sehingga kami tiba di madinah. Lalu sahabat yang lain berkata kepada Rasulullah, Dia telah mengambil upah melalui Al-Quran. Nabi pun berkata, sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah adalah kitab Allah.” (HR, Imam Ahmad, Bukhori, Bayhaqi dari Ibnu Abbas)

Dari penjelasan tersebut dijelaskan bahwa seseorang pada masa Rasulullah telah meminta sebuah upah (mahar) kepada seseorang yang telah memberikan suatu jasa kepadanya. Nabi pun tidak melarang dan bahkan membolehkannya.

Jadi, mahar merupakan sebuah bentuk penghargaan yang diberikan oleh seorang murid kepada gurunya yang telah berjasa mengajarkan ilmu-ilmu hikmah yang dimilikinya. Dengan demikian, harapannya setiap murid mampu menghargai setiap usaha dari gurunya.

Pentingnya Ijazah dalam Ilmu Hikmah

ilmu hikmahDalam kamus bahasa Indonesia ijazah diartikan sebagai izin yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh si murid dari gurunya. Ada juga yang berpendapat bahwa ijazah merupakan pernyataan pemberian ilmu atau wewenang dari seorang guru kepada murid.

Definisi lain mengatakan bahwa Ijazah adalah suatu tindakan berisyarat pemberian hak/izin suatu amalan dan ilmu spiritual dari seorang yang ahli (Guru) kepada seorang Murid. Ada yang lebih mengkhususkan lagi pengertian Ijazah yaitu pemberian hak suatu amalan dan penanaman benih suatu ilmu dari ruh seorang guru ke dalam ruh seorang murid tanpa terikat di dalam suatu tindakan kewajiban dan khidmat.

Secara singkat ijazah merupakan izin seorang guru kepada murid untuk melakukan sebuah amalan. Dalam sebagian pandangan kaum sufi, pemberian ijazah kepada murid hukumnya adalah wajib karena orang yang mempelajari ilmu hikmah berkaitan erat dengan spiritual yang berhubungan dengan hal-hal ghaib.

Maka dari itu, izin dari seorang guru yang berupa ijazah kepada muridnya sangatlah diperlukan agar mendapatkan bimbingan dan arahan dari seorang guru agar kelak tidak tersesat oleh tipu daya setan maupun jin kafir.

Kisah Tentang Ijazah

Sebuah cerita cukup menarik yang perlu kita simak. Seorang yang bernama Abu Nahar mengamalkan berbagai amalan dan wirid-wirid bersumber dari suatu kitab, tanpa mendapat ijazah dari seorang guru. Abu Nahar melakukan amalan selama 20 tahun lamanya.

Dalam melakukan amalan, dia merasa mengalami peristiwa-peristiwa ghaib. Misalnya dia selalu dijaga oleh 7 malaikat penjaga asma’, memperoleh bimbingan khusus secara ghaib dari seorang waliyullah (kekasih Allah), bertemu dengan khodam penjaga surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Suatu hari Abu Nahar bertemu dengan Syaikh Aqil Al–Munbaj kemudian bertanya kepadanya, ”Wahai Abu Nahar, amalan apa yang kau lakuka selama 20 tahun ini?” Abu Nahar menjawab, “Aku mengamalkan surah Al–Fatihah dan Al–Ikhlas beserta doanya yang aku dapatkan dari Kitab Nuuan.”

Lalu Syaikh Aqil menengadahkan kepalanya ke arah langit dan berkata, “Janganlah sekali–kali kamu tertipu daya oleh setan seperti ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada kedua auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka (Q.S. Al – A’raf : 27).”

Seketika itu pula Abu Nahar terjatuh tak sadarkan diri. Syaikh Aqil lalu mengusap wajahnya, memukul dadanya dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh orang – orang sekitarnya dan lalu pergi meninggalkannya.

Ketika sadar, beberapa orang menghampiri Abu Nahar dan bertanya kepadanya, “Wahai Abu Nahar, apa yang dilakukan oleh Syaikh Aqil tadi kepadamu?” Abu Nahar pun menjawab, “Ketika Syaikh Aqil menatap langit, sesungguhnya aku melihat para malaikat turun membawa cahaya.”

Lalu Syaikh Aqil mengambilnya dan memasukkannya ke dalam pikiranku. Maka terlihatlah olehku apa yang ada di ujung barat hingga ujung timur. Lalu ia memukul keluar apa yang setan tanam di dalam hatiku dan menggantinya dengan benih–benih mahabbah.

Kemudian Syaikh Aqil berkata kepadaku, “Wahai Abu Nahar, janganlah engkau mencari cinta Allah dengan ada tujuan maksud, karena setiap langkah nafsu pasti diikuti oleh setan. Sesungguhnya batas perbedaan antara yang haq dan yang batil adalah segaris benang tipis, dan apa yang engkau peroleh selama ini adalah sesuatu yang batil. Dan janganlah mempelajari sesuatu amalan tanpa adanya perhatian (bimbingan) dari seorang Syaikh (Guru).”

Dari kisah tersebut bahwa jelas ijazah sangatlah penting diberikan oleh guru kepada muridnya dalam mengamalkan sebuah amalan ilmu hikmah. Sebuah ilmu spiritual yang tidak bisa begitu saja langsung dipelajari melalui sumber literatur, tetapi harus dengan ijazah dari seorang guru yang benar-benar mengetahuinya. Dengan adanya guru, tentu seorang murid akan dibimbing dan diarahkan sehingga ilmu yang dipelajarinya akan menajdi berkah dan jauh dari tipu daya setan.

Peran Ijazah

Ijazah sangat berperan dalam belajar ilmu hikmah. Tanpa izin atau ijazah yang diberikan seorang guru, akan menjadi sia-sia kelimuan yang dipelajarinya. Menjadi suatu keistimewaan dan kebanggan tersendiri ketika seseorang diberikan sebuah amalan yang memiliki fungsi atau hikmah tertentu sehingga memperoleh manfaat yang diharapkannya.

Melakukan beberapa amalan tanpa ijazah akan berdampak buruk terhadap pengamalnya. Ada beberapa risiko yang akan dialami oleh para pelaku amalan tanpa izin seorang guru. Hal ini karena tidak ada suatu bimbingan seorang guru spiritual. Beberapa risiko suatu amalan tanpa adanya ijazah di antaranya adalah kegilaan, mudah emosi, rawan kerasukan, dan kurangnya berkah dari ilmu yang dipelajari.

Dengan demikian, ijazah memiliki peran dan fungsi yang sangat vital dalam melakoni sebuah amalan ilmu hikmah yang merupakan sebagai nur ilahiah. Di samping itu, ijazah mempunyai fungsi yang sangat istimewa. Beberapa fungsi ijazah adalah untuk menyambungkan garis silsilah keguruan, mendapat keberkahan dalam mengamalkan ilmu yang akan diamalkan, terjaga dari gangguan jin yang menyamar menjadi khodam ilmu yang akan diamalkan, mendapat keramat atau energi besar dari Guru sebelumnya, dan mendapat maqom atau derajat amalan yang mirip dengan Guru guru sebelumnya

Syaikh Abu Thalib Al–Makki mengatakan bahwa setiap ilmu spiritual pastilah mempunyai kedudukannya sendiri di sisi Allah SWT. Maka dari itu, untuk bisa menguasai ilmu spiritual dengan sempurna, dibutuhkan bantuan seseorang yang sudah sampai derajat maqamnya pada ilmu tersebut.

Dalam hal ini, ijazah seorang guru yang telah sampai pada derajat keilmuan dibutuhkan agar si murid mampu menguasai ilmunya secara sempurna. Namun jika tidak memperoleh suatu Ijazah dari seorang guru yang menjadi ahli dalam ilmu spiritual tersebut, maka pastilah si murid akan sangat kesulitan untuk menguasai ilmunya, akan tersesat di jalan setan, bahkan berbahaya pada kelangsungan hidupnya sehingga mengakibatkan ketidakberkahan dalam hidupnya.

Bagaimana Cara Menguasai Ilmu Hikmah

Ilmu HikmahPada dasarnya ilmu hikmah adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba yang dikehendakinya. Zaman dulu, ilmu ini sangatlah lekat dalam dunia pesantren dan dunia perguruan silat. Banyak sekali orang mempelajarinya dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan dan ketenangan batin karena sebenarnya ilmu hikmah merupakan sebuah sarana untuk memperoleh kedamaian hati dan ketenangan pikiran.

Meski demikian, di zaman yang serba modern seperti ini ilmu hikmah masih diperlukan oleh banyak orang untuk memperoleh maksud tertentu. Hingga saat ini, masih banyak orang yang ingin memiliki ilmu hikmah karena beberapa kepentingan dan tujuan tertentu. Yang jelas, orang yang mempelajari ilmu ini hendaknya digunakan untuk jalan kebaikan dan sebagai pedoman untuk mencari ridho dan keberkahan dari Allah SWT.

Dalam mempelajari ilmu hikmah bukanlah suatu hal yang tidak diberlakukan syarat apa pun. Karena ilmu hikmah merupakan berhubungan dengan nur ilahiah, justru ilmu hikmah memiliki syarat-syarat khusus yang harus ditempuh. Apalagi untuk mampu menguasainya, diperlukan usaha yang suci untuk ditempuh.

Selanjutnya, apa saja syarat-syarat khusus untuk dapat mempelajari sekaligus menguasai ilmu hikmah? Berikut ini bentuk pemaparan dalam memiliki ilmu hikmah.

  1. Beragama Islam

Karena ilmu hikmah merupakan sebuah kajian ilmu spiritual yang berkembang di masyarakat Islam, maka untuk mempelajari ilmu ini adalah orang yang beragama Islam. Mengetahui ajaran agama, rukun iman dan rukun islam, melakukan kewajiban seorang hamba Allah, tahu akan hukum-hukum syariat agama Islam berupa hal yang halal, haram, subhat, sunah, mubah, makruh, dan wajib.

Selain beragama Islam, usia pun memengaruhi karena faktor psikologis dan kesiapan mental seseorang karena ilmu ini berkaitan dengan batin seseorang. Usia minimal untuk mempelajari ilmu hikmah adalah 17 tahun. Karena pada usia tersebut secara mental dan akil baligh seseorang sudah memenuhi.

Lantas, bagaimana orang yang bukan beragama non-Islam? Tentunya bagi orang yang beragama selain Islam dapat memanfaatkan media berbagai minyak hikmah sesuai dengan kebutuhan yang tidak merusak akidah pemeluk agama lain. Penggunaan minyak hikmah dengan berbagai manfaat secara umum tidak menggunakan bacaan-bacaan atau doa yang bersumber dari agama Islam sehingga aman untuk digunakan bagi pemeluk agama lain.

  1. Restu Seorang Guru

Sangat tidak diperkenankan mempelajari ilmu hikmah secara individu tanpa bimbingan seorang guru yang membimbingnya. Saat ini banyak sekali media yang menawarkan berbagai ajaran ilmu hikmah melalui berbagai sarana, di antaranya buku-buku yang beredar di pasaran, artikel-artikel di internet yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan, media massa (koran, majalah, dan bulletin), dan referensi lain.

Bukanlah suatu hal kesalahan jika Anda mempelajari dari berbagai media. Namun, perlu diingat bahwa belajar ilmu hikmah merupakan ilmu tingkat tinggi berkaitan dengan kebatinan sehingga perlu bimbingan dari seorang guru yang benar-benar berkompeten di bidangnya, yaitu guru hikmah.

Seorang guru pun tidak serta merta langsung memberikan izin kepada santri atau muridnya yang berkeinginan mempelajari ilmu hikmah. Guru harus benar-benar mengatahui betul siapa yang akan diajarkan dan diturunkan ilmunya nanti. Apakah dia benar-benar tepat dan layak untuk diberi ilmu ataukah tidak. Dengan demikian, restu seorang guru sangat diperlukan untuk mempelajari bahkan mengausai ilmu hikmah.

Karena amalan-amalan ilmu hikmah harus melalui ijazah, baiat, atau semacam izin yang nantinya benar-benar memperoleh berkah dari ilmu yang dipelajarinya tersebut. Apabila seorang guru memberikan restu berarti orang tersebut benar-benar siap untuk menerima ilmu hikmah atas bimbingan dari seorang guru tersebut.

Selain itu, seorang murid atau santri yang mempelajari ilmu hikmah dari gurunya harus benar-benar bersedia mengikuti ajaran yang diperintahkan dari seorang guru. Istilah “Sami’na Wa Ato’na” yaitu selalu menuruti, melakukan, dan mengikuti perintah apa yang diucapkan oleh sang guru merupakan kunci keberhasilan dalam mempelajari ilmu hikmah. Tentu saja ucapan atau perintah dari sang guru mengarah pada kebaikan.

  1. Yakin

Syarat yang tak kalah pending sebagai landasan tercapainya ilmu hikmah adalah yakin. Tanamkan keyakinan pada diri terhadap Allah yang memiliki segala ilmu, yakin terhadap ilmu yang dipelajari, dan yakin kepada guru yang membimbing.

Ketika seseorang memiliki keyakinan yang luar biasa bahwa dia mampu untuk menguasai dan memiliki lmu hikmah, maka orang tersebut akan cepat menguasai ilmu yang sedang dipelajarinya itu.

  1. Mantap dan Memiliki Kemauan Keras

Keyakinan yang lahir dalam diri seseorang sangat berpengaruh terhadap kemantapan hati untuk bertindak. Maka dari itu, mantap harus ditumbuhkan untuk mempelajari ilmu ini. Ketika sedikit saja ragu, maka imu hikmah yang dipelajari akan susah untuk diperoleh dengan baik, apalagi menguasainya.

Mantap saja tidak cukup, harus disertai kemauan keras yang ditanamkan dalam hati agar usaha yang dilakukan bena-benar maksimal. Hal inilah yang dapat mempercepat proses dalam menguasai ilmu hikmah. Seseorang ketika bersungguh-sungguh dan pasrah terhadap segala hal yang sedang dan telah dilakukannya, inysa Allah semua hal yang diinginkan akan terwujud.

  1. Berani

Ilmu hikmah erat sekali berkaitan dengan dunia metafisika, spiritual, dan supranatural. Maka dari itu, jangan heran ketika orang yang mempelajari ilmu hikmah akan mampu menembus dunia ghaib sehingga mampu melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk ghaib karena dapat menembus ruang dan waktu.

Keberanian haruslah dimunculkan agar dia memiliki mentalitas yang tangguh karena seseorang yang sudah masuk ke dunia ilmu ghaib sudah tentu akan mengalami peristiwa-peristiwa ghaib, pemandangan-pemandangan ghaib, suara aneh, gejala aneh, maupun makhluk halus yang hadir menjumpainya.

  1. Istikomah Melakukan Amalan

Amalan tidak akan ada artinya jika hanya dilakukan sekilas, sekejap, dan hanya sekadarnya saja tanpa diimbangi dengan keajegan dalam melakoninya. Para ahli ilmu hikmah mengatakan bahwa Al-Istikomah khoirun min alfi karomah yang berarti istikomah atau keajegan lebih mulia daripada seribu karomah. Dari pernyataan itu jelas bahwa istikomah adalah hal yang istimewa.

Ketika seseorang melakukan amalan meskipun memiliki hikmah dan keistimewaan luar biasa, akan menajdi percuma jika hanya dilakukan sekali, dua kali, tiga kali saja. Hal itu sangat berpengaruh pada kurangnya fadhilah atau manfaat yang akan diterimanya kelak. Sebaliknya, jika amalan biasa tetapi dilakukan dengan langgeng, maka akan memberikan keutamaan yang luar biasa.

Istikomah dalam melakukan amalan yang diberikan oleh seorang guru menjadi suatu keharusan agar kelak memperoleh hikmah-hikmah luar biasa yang mungkin justru tidak terduga-duga. Hal inilah yang sering dialami oleh para ahli hikmah ketika mereka sedang dalam keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan.

  1. Menghindari Makanan yang Haram

Apabila seseorang ingin memiliki ilmu hikmah, maka dia harus menjaga setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi. Artinya, makanan maupun minuman yang masuk dalam perut haruslah yang halal, baik dari segi dzat atau cara dalam mendapatkan makanan itu.

Ilmu hikmah sangat erat kaitannya dengan kebersihan hati dan rohani. Maka dari itu, apabila makanan haram yang masuk ke dalam tubuh, maka makanan itu akan merusak jiwa seseorang sehingga menajdi kotor. Makanan haram di sini tidak hanya dlihat dari segi jenisnya saja seperti daging babi, anjing, bangkai hewan, tetapi juga dari cara mendapatkannya.

Sebungkus nasi dan segelas susu akan menjadi haram jika cara memperolehnya dengan cara mencuri. Inilah yang dimaksud dengan cara mendapatkan makanan yang haram meski nasi dan susu dikategorikan hahal.

Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh akan memengaruhi kebersihan hati dan kesucian jiwa. Makanan dan miniman yang haram akan merusak segala amal kita. Dalam melakukan riyadhoh nantinya pun tidak akan mampu sungguh-sungguh, tidak khusyu’, berdoa maupun melakukan amalan tidak sungguh-sungguh, dan tidak mampu pasrah serta tawakal kepada Allah.

  1. Menghindari Dosa Besar

Hal yang harus dihindari untuk dapat menguasai ilmu hikmah yaitu dengan menjauhi dosa besar. Di zaman modern seperti ini tentunya banyak sekali godaaan untuk melakukan berbagai macam dosa. Meski dosa kecil tetapi jika tidak segera dihapus akan menjadi besar. Maka dari itu bersihkan diri sesegera mungkin dari dosa-dosa kecil yang masih melekat.

Namun, ada juga kategori dosa besar yang harus dihindari dan benar-benar harus dijauhi. Biasanya dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah ma lima, yaitu : Main, Madon, Minum, Maling dan Madat, yang artinya berjudi, zina, mabuk-mabukkan, mencuri dan penyalahgunaan narkotika. Kelima dosa besar ini adalah sumber runtuhnya kemurnian jiwa seseorang sehingga kekuatan ilmunya dapat runtuh meski ia telah menguasai ilmu hikmah.

Salah satu perbuatan dosa besar tersebut apabila dilanggar, maka ruh akan menjadi kotor sehingga akan tertutup segala pintu doa yang dipanjatkan kecuali dia mau bertaubat. Bahkan orang itu dipadang hina di mata Allah. Tentu saja Allah tidak akan berkenan memberikan keberkahan di dalam hidupnya sehingga tidak mungkin mampu mempelajari ilmu hikmah karena jiwanya sudah dikotori oleh perbuatan maksiat.

  1. Sabar, Tabah, dan Ikhlas

Mempelajari ilmu hikmah, terlebih untuk menguasainya bukanlah hal yang sangat mudah untuk memilikinya. Karena ilmu hikmah merupakan sebuah ilmu spiritual yang berhubungan dengan batin, maka ilmu ini sangat berbeda dengan ilmu sains atau ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari dan dihafal dengan sekejap.

Sikap sabar, tabah, dan ikhlas harus dimunculkan dalam diri seseorang yang sungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Cepat tidaknya untuk dapat menguasai ilmu hikmah bergantung pada kepribadian individu dalam melatih kesabaran dan keikhlasan dalam proses mempelajarinya.

Kesabaran dan ketabahan diukur dari kesiapan menerima dan kesungguhan hati untuk tetap menerima apa saja yang diperintahkan guru. Sedangkan keikhlasan berkaitan dengan kerelaan untuk melakukan pengorbanan apa pun untuk melakukan segala macam riyadhoh atau laku batin yang dijalani. Maka dari itu, untuk mempelajari ilmu hikmah diperlukan hati yang suci dan benar-benar hanya mencari ridho dan keberkahan Allah dari ilmu yang dipelajarinya itu.

Beberapa syarat di atas adalah hal yang perlu diperhatikan agar seseorang berhasil mempelajari sekaligus menguasai ilmu hikmah yang ingin dicapainya. Para pemilik ilmu hikmah harus tetap menjaga kebersihan hati, tawadhu’, selalu merendah, dan tidak menyombongkan diri agar memiliki karomah luar biasa dari Allah. Selalu bersikap waspada dan hati-hati dalam bertutur, bertindak, dan melakukan amalan.

Sejarah Datangnya Ilmu Hikmah

>

ilmu hikmahSeperti yang kita ketahui bahwa ilmu hikmah merupakan sebuah ilmu spiritual yang berupa amalan-amalan hikmah dalam bentuk doa, wirid, dan ayat-ayat suci untuk memberikan ketenangan batin, mendekatkan diri kepada Ilahi, sebagai media untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan hidup, dan sebagainya. Amalan ini tentunya bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits yang merupakan sumber hukum Islam.

Banyak yang bertanya sebenarnya dari manakah datangnya ilmu hikmah? Apakah ilmu hikmah diperoleh secara langsung dari Allah SWT yang berupa sebuah illham atau wahyu? Apakah didapatkan dari seorang guru, bermeditasi di tempat-tempat yang dipercaya dapat memberikan daya supranatural atau spiritualitas? Tidak ada yang tahu pasti dari mana sejarah datangnya ilmu hikmah ini. Hanya saja ada beberapa orang pilihan yang memiliki keistimewaan sehingga diberi amanah oleh Allah.

Secara prinsip, ilmu hikmah diperoleh oleh orang-orang khusus yang dianugerahi oleh Allah kepada hamba-Nya, yaitu manusia yang dikasihi dan yang dianggap mampu mempunyainya. Memiliki hati yang bersih dan suci serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Hanya orang-orang tertentu yang diberi karunia untuk memiliki ilmu hikmah. Orang-orang yang memilikinya merupakan kekasih Allah, di antaranya para nabi, rasul, kholifah, waliyullah, dan orang-orang saleh yang memiliki kemurnian hati.

Jadi, tidak semua orang mampu memiliki ilmu hikmah secara langsung dari Allah SWT. Selain itu, orang-orang pilihan yang memiliki dan menguasai ilmu hikmah harus mampu dan siap menerima ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Anugerah yang diberikan oleh Allah itu dapat diperoleh dari-Nya secara langsung melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang telah dialaminya atau kejadian-kejadian yang pernah diketahui dan dijumpainya.

Salah satu pemilik ilmu hikmah adalah waliyullah (kekasih Allah). Di alam semesta ini, tidak sedikit wali yang diperintahkan Allah sebagai wakil untuk menuntun umat manusia agar menuju jalan kebenaran. Pengertian wliyullah dalam hal ini adalah orang yang memiliki kedekatan hubungan dengan Allah yang mampu membaca tanda-tanda dari setiap peristiwa. Maka dari itu, mereka dikasihi dan dipercaya Allah memiliki kemampuan ilmu hikmah untuk dapat digunakan dalam hal kebajikan.

Perlu diketahui bahwa dalam beberapa kurun waktu tertentu Allah menciptakan wali sebagai wakilnya untuk menjaga keseimbangan alam. Namun, keberadaannya memang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Hanya beberapa orang saja yang mampu mengetahui dan menjumpainya karena telah memiliki kepekaan dan spiritual tinggi.

Ilmu hikmah bisa juga dapat diperoleh melalui belajar dari para guru atau kiyai yang telah menguasainya. Tentunya para guru atau kiyai tersebut belajar dari para gurunya dan sanadnya sampai kepada nabi. Maka dari itu, bukan hal yang mustahil setiap orang memiliki potensi untuk memiliki ilmu hikmah bergantung pada kesiapan dan kesungguhannya untuk mempelajari, memiliki, dan menguasai ilmu hikmah.

Orang yang mampu memiliki ilmu hikmah harus mempunyai kesucian hati dan keikhlasan dalam mempelajari serta mengamalkannya. Selain itu, pemilik ilmu hikmah harus terjaga dari sikap tercela atau perilaku-perilaku negatif yang bersifat merugikan. Selalu mengedepankan kebijaksanaan dan kearifan dalam setiap berpikir sekaligus bertindak.

Ilmu Hikmah Merupakan Tataran Ilmu Tingkat Tinggi

Ilmu HikmahIlmu yang terbentang di jagad raya ini sangatlah luas dan beragam. Tentu saja suatu keilmuan jika dikaji manusia tidak akan pernah ada habisnya. Dalam hal ini adalah suatu ilmu yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai kholifah di bumi wajib dipelajari. Adapun ilmu yang dipelajari hendaknya yang bermanfaat dan untuk kesejahteraan semua makhluk.

Suatu tataran ilmu yang merupakan keilmuan tingkat tinggi yaitu ilmu hikmah. Ilmu ini adalah ilmu spiritual untuk mendekatkan diri kepada Alllah sehingga mengenal-Nya lebih dekat. Dengan kedekatan itulah seorang hamba dengan Allah akan memiliki kontak batin sehingga setiap hamba yang sedang membutuhkan pertolongan kepada Allah akan segara memperolehnya.

Ilmu hikmah sangat berbeda dengan ilmu yang lain karena memiliki keistimewaan luar biasa. Dalam mempelajarinya pun tidak sembarangan karena ada tata cara dalam mengamalkan ilmu yang harus direfleksikan melalui berbagai amalan. Seseorang yang belajar ilmu hikmah seyogianya memiliki alasan yang jelas. Hal ini tentu saja harus digunakan untuk kebajikan yang mendatangkan berbagai manfaat.

Alasan dalam mempelajari ilmu hikmah misalnya saja yaitu ada yang hanya sekadar coba-coba karena rasa ingin tahu, ada yang ingin memiliki kesaktian, ada yang ingin menguasai ilmu untuk menembus alam lain, ada juga yang diniatkan sebagai mata pencaharian dengan membuka praktek paranormal, guru spiritual, penasehat spiritual, ahli pengobatan ilmu hikmah, atau profesi lainnya yang berkaitan dengan ilmu hikmah. Tentunya di dalam belajar ilmu hikmah tersebut, seseorang harus mematuhi adab dan tata cara yang meliputi pengijazahan (izin mengamalkan ilmu dari seorang guru) dengan adanya mahar (biaya pengijazahan).

Ilmu hikmah merupakan ilmu tingkat tinggi karena adanya berbagai keilmuan yang berkaitan dengan kebatinan sehingga memiliki kepekaan luar biasa. Seperti ilmu supranatural, parapsikologi, terawangan, kesaktian, mahabbah, kebal, mata batin, pengobatan, ilmu laduni, ilmu gaib, dan sebagainya.

Karena merupakan suatu keilmuan tingkat tinggi, di dalam mendapatkannya pun ada beberapa sebuah ilmu yang menggunakan syarat khusus. Syarat tersebut yaitu dengan dengan melakukan riyadhoh tertentu dengan tujuan untuk melatih, memunculkan, bahkan meningkatkan kepekaan mata batin seseorang.

Pada dasarnya mempelajari ilmu hikmah adalah sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan hubungan dekatnya seorang hamba kepada Allah, tentu saja seseorang yang dekat dengan-Nya akan memperoleh sebuah keistimewaan yang luar biasa. Hikmah-hikmah yang didapatkan merupakan sebuah bonus yang diberikan Allah kepada hamba-Nya karena kedekatan dan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berusaha untuk selalu ingat kepada Tuhannya.

Hikmah yang diperoleh seorang hamba sebagai bonus yang diterimanya yaitu akan memperoleh keselamatan baik di dunia maupun akhirat, memiliki kelebihan (mampu membaca pikiran orang lain, memiliki ilmu terawangan, mampu mengobati berbagai penyakit, mengetahui peristiwa sebelum terjadi, dan sebaginya), serta maunah (pertolongan dalam keadaan darurat).

Namun, beragam keistimewaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya tidak semua orang mampu memilikinya. Meskipun banyak yang belajar ilmu hikmah, tentu saja ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam mempelajari ilmu hikmah. Hanya orang-orang yang bersifat ikhlas, tawadhu’, sabar, sungguh-sungguh, merendah, istikomah, dan selalu berbuat kebaikan saja yang mampu mendapatkannya dan mencapai tingkat kesempurnaan.

Berbagai doa, wirid, dzikir, bacaan, dan amalan-amalan yang dilakukan bukan semata-mata untuk memperoleh ilmu hikmah. Hal itu hanyalah semata sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk memperoleh ridho serta keberkahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Ketika Allah telah memberikan ridho, tentu saja segala pertolongan (maunah), kemudahan, keberkahan, dan segala kebaikan akan dicurahkan kepada hamba-Nya yang benar-benar bertakwa.

1 2 3 4 5 12